My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 29: Kopdar Ayumi



Keesokan harinya


Setelah jam mengajarnya selesai, Ayumi menghampiri Zara yang sedang berada di meja kerjanya. Wanita berhijab itu tampak sedang mengoreksi buku latihan siswanya.


"Ra, gimana?. Dirga mengizinkan kamu, kan?" tanya Ayumi duduk di depan Zara. Pagi tadi mereka belum sempat bertemu sehingga Ayumi belum menanyakan hal itu.


"Iya" jawab Zara tida bersemangat.


"Kenapa wajah kamu, kok, lesu begitu. Masih muntah-muntah, ya?" tanya Ayumi heran melihat Zara tidak ceria hari ini.


"Besok Dirga sudah pulang ke Korea, Yum" jawab Zara.


"Lho, kok cepat sekali. Bukannya masih sekitar lima hari lagi liburannya" ujar Ayumi. Dia ingat Zara pernah memberitahunya bahwa Dirga liburan dua Minggu di Indonesia.


"Dia ditelpon dosennya untuk menggantikan Prof. Ahnyong yang sedang sakit"  jelas Zara.


"Wah, berarti Dirga berkualitas, Ra. Dia bisa menjadi dosen di sana nantinya" seru Ayumi memberi semangat.


"Apa?. Dosen di sana?. Nggaklah, bagaimana dengan nasibku di sini kalau dia bekerja di sana" ujar Zara sewot. Dia tidak mau membayangkan hubungan LDR yang akan semakin lama. Siapa yang tahan nanti, dia atau Dirga.


Setelah bel pulang berbunyi, Ayumi dan Zara segera berangkat ke tempat tujuan.


"Cowok itu sudah berangkat?" tanya Zara setelah mobil mereka membelah jalan raya.


"Sudah, sepertinya dia yang sampai duluan ke sana" jawab Ayumi sambil menyetir Brio-nya.


"Kamu ketemuan begini udah menjurus serius atau bagaimana?" tanya Zara penasaran. Dia tidak mau sahabatnya itu sampai terjerumus dalam aktivitas pacaran. Apalagi cowok itu lebih muda usianya dari Ayumi. Apa dia sudah ada niat mau menikah diusia muda seperti Dirga, suaminya.


"Nggak tahu juga. Aku hanya penasaran mau lihat seperti apa orangnya di dunia nyata. Meskipun kami sudah komunikasi via WhatsApp, tapi dia tidak pernah mengajakku video call. Jadi aku belum tahu seperti apa wujud aslinya" jawab Ayumi.


"Kamu nggak pernah minta dia untuk VC (video call)?" tanya Zara lagi.


"Pernah, tapi dia selalu menolak dan banyak alasan. Makanya aku penasaran. Kalau dia hanya mempermainkan aku, lihat saja nanti. Dia akan menyesal sudah berkenalan dan iseng dengan Ayumi" ujar Ayumi.


Zara tertawa kecil. Mereka sampai juga di sebuah mall. Setelah memarkir mobilnya, Ayumi mengajak Zara mencari sebuah cafe tempat dia janjian dengan cowok itu.


"Benar ini cafenya. Belum ada tanda-tanda ada cowok yang duduk sendirian" gumam Ayumi sambil mengedarkan pandangannya.


"Mana?" tanya Zara.


"Sepertinya belum datang. Kita cari tempat duduk dulu" ajak Ayumi.


Mereka akhirnya memesan makanan dan minuman sembari menunggu cowok itu.


"Wah, Yum. Jangan-jangan kamu hanya dikerjai olehnya" ujar Zara."Katamu dia sudah pergi duluan."


Ayumi melihat chat terakhir mereka. Dia sudah memberitahu cowok yang bernama Zeyn itu bahwa dia memakai baju berwarna tosca dengan jilbab warna cream.


"Ya, udah. Kita makan saja dulu. Setelah ini aku mau belanja" ujar Ayumi dengan raut wajah kecewa. Mereka berdua pun menikmati makanan dan minuman yang sudah disajikan oleh waiters.


"Ehem, apa benar kamu yang bernama Ayumi?" tiba-tiba ada suara laki-laki menyapa mereka yang sedang asik makan. Ayumi menoleh ke sumber suara karena merasa namanya disebut. Begitu juga dengan Zara.


Ayumi begitu kaget melihat wajah laki-laki tersebut, wajah yang sama persis dengan di IG-nya. Laki-laki berwajah indo itu tersenyum menanti jawaban Ayumi.


"Iya, aku Ayumi" sahut Ayumi tersenyum lalu melirik ke arah Zara.


"Aku Zeyn" ujar Zeyn mengenalkan dirinya.


"Oh My God. Dia sama persis dengan di IG, malah lebih ganteng aslinya" teriak hati Ayumi.


"Iya ... Silahkan" jawab Ayumi tersadar.


Zeyn duduk di antara Ayumi dan Zara. Zeyn mengingat wajah Zara yang sering berada di IG Ayumi. Dia juga tahu kalau Zara adalah istri Dirga, tapi dia tetap pura-pura belum tahu saja.


"Maaf, ya. Aku mengajak teman karena setelah ini kami mau belanja" ujar Ayumi agar Zeyn tidak bertanya tentang kehadiran Zara di antara mereka.


"Kenalkan temanku, namanya Zara" sambung Ayumi mengenalkan Zara kepada Zeyn.


Zara hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Zeyn tersenyum melihat istri Dirga itu. "Memang cantik, pantas saja Dirga tidak mau melepaskannya, mau menikah meskipun masih kuliah" gumam Zeyn di dalam hatinya.


"Oh, tidak masalah. Aku bisa mengerti, kok" ucap Zeyn tahu kenapa Ayumi harus membawa teman segala. Itu karena dia mau menghindari bertemu hanya berdua saja.


"Zeyn, kamu cerita kalau papamu sakit, ya. Sakit apa?. Bagaimana keadaannya?" tanya Ayumi agar suasana di antara mereka tidak kaku.


"Papa sakit jantung. Sebenarnya beliau mau dioperasi, tapi karena kondisinya belum stabil jadi ditunda dulu" jawab Zeyn.


"Hm, jadi kamu akan lama di sini?" tanya Ayumi.


"Lihat situasi juga" jawab Zeyn.


"Kamu kuliah sudah semester berapa?" sela Zara ikutan nimbrung.


"Semester akhir" jawab Zeyn tersenyum melihat ke arah Zara.


"Wah, nggak lama lagi wisuda. Udah ada niat mau nikah?" tanya Zara blak-blakkan. Ayumi langsung menyepak kaki Zara.


"Apa-apaan si Zara, kok, nanya begitu dengan Zeyn" omel Ayumi di dalam hatinya.


Zeyn hanya tertawa kecil. Dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu karena dia tidak mau LDR-an seperti Dirga.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Zara. Ayumi sudah melototkan matanya ke arah Zara, namun wanita yang sedang hamil muda itu hanya cuek saja.


"Niat nikah ada, tapi aku tidak mau LDR-an. Kasihan nanti istriku harus menahan rindu, apalagi kalau dia sudah hamil nanti" jawab Zeyn melihat ke arah Ayumi. Mata mereka pun bertemu pandang. Jantung Ayumi berdetak kencang.


Jawaban Zeyn pun seolah menyindir hubungan Zara dan Dirga. Ayumi tersenyum mendengar jawaban Zeyn yang sudah berpikiran dewasa.


"Kecuali takdir berkata lain" sambung Zeyn.


"Iya, betul. Kita tidak bisa mengelak takdir" timpal Ayumi melirik Zara.


Tidak lama mereka berbincang-bincang. Ayumi dan Zeyn pun berpisah. Ayumi dan Zara melanjutkan tujuannya di mall. Gadis itu tidak lama mengajak Zara berkeliling karena tahu kondisi Zara yang sedang hamil. Setelah menemukan barang yang dicarinya, mereka pun segera pergi meninggalkan mall.


"Ra, ternyata akun itu asli" seru Ayumi ketika mereka sudah berada di dalam mobilnya.


Zara sudah bisa menebak. Ayumi pasti sudah jatuh cinta dengan pemuda tampan itu. Apalagi dengan wajahnya yang kebule-bulean itu.


"Terus, kamu mau nembak dia" sindir Zara.


Ayumi memanyunkan bibirnya. "Ya, nggaklah. Aku masih punya harga diri, Ra" sahut Ayumi.


"Dia masih muda, sama seperti Dirga sudah semester akhir. Sudah pasti usia mereka tidak jauh beda. Kamu dengar sendiri kan, dia mau menyelesaikan kuliahnya dulu. Jadi jangan harap dia melamar kamu dua atau tiga bulan ini" ujar Zara mengingatkan Ayumi.


Hati Ayumi menciut. Ucapan Zeyn memang seolah sudah memberikan sinyal kepadanya. "Jadi, aku tidak perlu menanggapinya serius. Anggap saja teman?."


"Memang sekarang teman, kan?" Zara balik bertanya.


Ayumi menghembuskan napasnya. Apa yang diucapkan oleh Zara ada benarnya. Dia tidak perlu kegeer-an ada cowok ganteng seperti Zeyn mau berkenalan dia. Mungkin saja Zeyn hanya ingin menambah teman.