
Rasanya enggan sekali menjalani hari ini karena aku akan terbang ke Indonesia. Mami sudah meminta izin kepada atasannya untuk tidak berkerja karena beliau mau ikut mengantar ku ke bandara. Mami pun sudah sibuk menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga ku. Mami sudah membeli Hangwa dan kimchi yang merupakan oleh-oleh khas Korea.
Kata Mami Hangwa itu kue yang dibuat dari bahan, seperti gandum, madu, dan biji-bijian, termasuk kacang pinus, wijen, walnut, kenari, dan jujube. Orang-orang Korea juga menggunakan pewarna alami untuk memberikan warna pada kuenya, sementara kacang pinusnya digunakan untuk mendekorasinya agar terlihat menarik dan cantik.
Sedangkan kimchi adalah sayuran yang diawetkan dengan garam. Karena fermentasinya, kimchi memiliki rasa yang unik karena asam amino dan asam laktatnya. Setelah itu, kimchi dibumbui dengan macam-macam rempah-rempah, seperti bawang putih dan cabai merah. Terkadang, makanan ini juga dibumbui dengan bawang Bombay, wortel, bawang perei, jahe, biji wijen, buah pir, tiram, ebi, kastanye, kastalone, biji tanaman pinus, ganggang laut, dan masih banyak lagi.
Sebenarnya masih banyak lagi oleh-oleh khas Korea yang bisa dibawa tapi aku menolak karena nanti terlalu banyak bawaan. Aku suka semua makanan itu. Lain kali aku akan membawa jenis oleh-oleh yang lainnya.
Aku memeriksa paspor ku apakah sudah ada di dalam tas selempang ku. Bisa gawat kalau sampai ketinggalan. Urusannya bisa panjang kali lebar.
"Kamu sudah siap?" Tanya Dirga masuk ke dalam kamar menghampiri ku.
"Sudah" jawab ku berdiri di hadapannya. Aku tidak sanggup menatap wajahnya saat ini. Wajah sendunya karena akan berpisah dengan ku.
Aku menahan diri untuk tidak menangis di depannya. Dirga tidak akan tenang jika aku pergi dengan berurai air mata.
Cukup lama Dirga memandang ku. "Kenapa?" Tanya ku.
"Maaf, kita harus menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini" jawabnya.
Aku tersenyum getir. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi. Bukan salahnya. Toh aku juga menginginkan pernikahan kami cepat dilaksanakan agar rasa cinta yang kami miliki tidak menjadi dosa karena belum adanya ikatan yang halal.
Aku memeluknya erat. Dirga pun membalas pelukan ku. "Tidak perlu minta maaf, ini sudah keputusan kita bersama" balas ku.
"Aku akan sangat merindukan mu" ucap Dirga. "Sangat merindukan mu" lanjutnya.
'Cukup, jangan diteruskan lagi. Bisa-bisa aku nangis Bombay ini' batin ku masih berusaha menahan diri untuk tidak menangis.
"Aku juga" hanya itu yang terucap di bibir ku.
Tok.Tok.Tok
"Ga, Zara. Udah siap belum?" panggil Mami dari luar kamar.
"Ayo, Mami sudah menunggu kita" ajak ku.
Aku berjalan mau mengambil tas selempang ku di atas ranjang. Tiba-tiba Dirga menarik tangan ku lalu memberikan lightning kiss. Dirga tersenyum salah tingkah laku mengacak jilbab di kepala ku.
"Ihh, berantakan nanti" ujar ku sewot. Dia menganggap ku seperti anak kecil saja padahal siapa yang lebih tua coba.
Dirga lalu beralih mengambil koper ku. Aku pun mengiringi langkahnya keluar dari kamar.
"Nah, ini oleh-olehnya udah Mami packing di dalam kardus" ujar Mami melihat aku dan Dirga keluar dari kamar.
"Makasih, Mi. Jadi ngerepotin Mami, deh" balas ku tersenyum bahagia karena mendapatkan oleh-oleh.
"Salam buat orang tua Zara, ya" lanjut Mami.
"Iya, Mi. Mama dan Papa Zara pasti senang sekali dapat oleh-oleh dari Mami" ujar ku.
"Ayo, kita pergi. Nanti ketinggalan pesawat" sela Dirga mengingatkan.
Kami pun akhirnya pergi menuju ke bandara. Sepanjang perjalanan ke bandara Dirga tidak banyak bicara. Mami lah yang banyak berceloteh tentang tempat-tempat indah di Seoul yang belum sempat ku kunjungi.
Hingga akhirnya berpisah, tidak ada pelukan atau ciuman lagi di bandara sebagai tanda perpisahan. Aku hanya mencium punggung tangannya. Lalu melangkah pergi.
Setelah pesawat lepas landas barulah aku berurai air mata. Sampai penumpang wanita bule di sebelah ku tampak heran melihat ku yang tiba-tiba menangis.
"What's wrong?" Tanyanya menoleh ke arah ku.
"Nothing" jawab ku sambil menghapus air mata.
"Did you part with your lover ?" Tanyanya lagi.
"Yes, my husband. I have to go back to Indonesia while he stays ini Korea to study" jawab ku.
"Oh, I see" ucapnya dengan nada ikut sedih.
Wanita bule itu lalu diam, dia tidak mau mengganggu ku lagi. Aku menatap keluar jendela pesawat yang kini hanya terlihat awan putih saja.