
Pagi ini aku mulai mengalami morning sickness lagi. Setiap selesai sarapan walaupun diisi sedikit saja perutku mulai mual.
"Kamu masih mau ke sekolah?" tanya Mamaku sambil mengurut-urut tengkuk belakangku.
Aku hanya mengangguk. Nggak mungkin aku izin lagi. Aku kan sudah lama meninggalkan kelasku sewaktu menemani Zika ke Korea tempo hari.
"Jangan dipaksakan, lebih baik izin nggak masuk dulu. Bedrest aja di rumah" saran Mama.
"Lihat situasi, Ma. Hoek...Hoek" aku pun muntah lagi.
Ya Allah, badanku kok rasanya lemas sekali.
"Ayo, istirahat di kamar saja. Mama buatkan susu dulu, ya" Mama menuntunku ke kamar. Aku memang belum membeli susu khusus untuk ibu hamil. Jadilah susu low fat yang biasa ku minum setiap pagi.
Tak lama Mama kembali lagi ke kamar sambil membawa segelas susu. Aku takut mual lagi kalau meminumnya.
"Bawa ke sana dulu,Ma. Nanti aku minum" tunjukku ke arah nakas.
"Za, kamu nggak usah masuk kerja dulu. Biar nanti Mama yang menghubungi kepala sekolah kamu" ucap Mama. Aku pun mengangguk setuju.
Setelah Mama keluar dari kamar. AkuĀ hanya berbaring di atas tempat tidur. Ku rasakan perutku sudah tenang, tidak mual lagi.
Dreet.Dreet.Dreet
Ku lihat ponselku berbunyi. Dirga calling. Apa dia tidak ke kampus? Pagi-pagi sudah nelpon. Ku geser tombol hijau. Tak seperti biasanya dengan semangat empat lima ku balas salam Dirga, kini hanya suara lemah aku membalas salamnya.
[Kenapa ? Pagi-pagi udah lemes banget?]
[Lagi nggak enak badan]
[Kamu sakit?]
Terdengar suara Dirga kelihatan cemas.
[Nggak]
[Kalau nggak enak badan kan artinya sakit, Ra]
Dirga langsung mengganti video call agar kami bisa bertatap muka langsung.
[Sayang, wajah kamu pucat sekali]
Dirga tampak kaget melihat wajahku.
[Aku tadi muntah-muntah. Apa yang aku makan keluar lagi]
[Ada siapa di rumah ? Kamu ke dokter aja]
Wajah Dirga tampak panik sekali di seberang sana.
[Udah, kemarin aku ke puskesmas. Dokter bilang aku nggak sakit tapi...]
[Tapi apa? Kalau ngomong jangan setengah-setengah begitu]
[Tapi...ini karena aku sedang hamil anak kamu, Ga]
Aku tersenyum sambil menatap wajah tampannya. Dirga tampak diam sejenak sambil mencerna kalimatku.
[Apa, Ra? Kamu...]
Dirga menatapku dengan tatapan masih kurang yakin akan ucapanku.
[Iya, Ga. Aku hamil!!!]
[Alhamdulillah. Aku bahagia sekali Ra mendengarnya. Ternyata usaha kita kemarin membuahkan hasil, ya]
Dirga tersenyum lebar sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. Aku ikut tersenyum bahagia melihatnya begitu bahagia sekali.
[Aku jadi ingin cepat ketemu kamu, deh. Memeluk dan menciummu]
[Aku akan sabar menunggu kamu sampai waktu kamu liburan, kok]
[Kamu nggak ke sekolah?]
[Nggak. Kayaknya badanku lemas karena banyak muntah tadi]
[Ya udah, kamu istirahat saja. Oya, aku nggak bisa lama. Aku mau berangkat ke kampus dulu. Pulang dari kampus nanti ku telpon lagi, ya]
Aku hanya mengangguk setuju. Telpon darinya benar-benar sangat ku nantikan.
Dirga mengakhiri video call kami setelah dia mengucapkan salam dan memberikan kiss bye untukku. Ah, tingkah kami udah kayak anak ABG saja.
Aku mengelus perutku yang masih rata. Semoga anak Umi sehat-sehat saja ya nak, Ayah belum bisa pulang.
Sejak tahu aku hamil, intensitas Dirga menelponku jadi semakin sering. Sehari bisa sampai empat atau lima kali dia menelepon. Ternyata dia cerewet sekali, ya.
Masa morning sickness, aku memang sedikit susah makan tapi ketika Dirga memarahiku karena tidak mau makan, aku pun memaksakan diri untuk makan itu pun sambil video call-an dengannya. Karena Dirga ingin melihat langsung apakah aku memang sudah makan atau belum. Herannya aku bisa makan dengan lahap ketika sambil video call-an dengannya. Wah, kalau begini bisa membengkak dana untuk pulsa. Tapi tidak apalah, ujar Dirga. Asalkan aku mau makan dan bayi yang ku kandung sehat, hal itu tidak menjadi masalah baginya.
Aku merasakan perhatian yang diberikannya lewat telpon bisa membuatku bersemangat ketika aku mulai merasa kesepian tanpa kehadirannya di sisiku.
Di sekolah, aku pun sudah bisa beraktivitas normal kembali. Mual yang ku rasakan di pagi hari sudah agak berkurang asalkan makanku tidak terlalu banyak, Insya Allah aman.
"Udah nggak mual-mual lagi, Za?" tanya Bu Rida.
"Alhamdulillah, Bu. Udah agak mendingan" jawabku.
"Itu juga karena sering ditelpon suaminya, Bu" sela Ayumi.
"Bagus itu, perhatian suami itu besar lho pengaruhnya buat ibu hamil" ujar Bu Rida lalu mengambil perlengkapan mengajarnya.
"Masuk kelas dulu" sambung Bu Rida.
"Iya, Bu" ucap aku dan Ayumi serempak.
Author POV
Setelah Bu Rida pergi, Ayumi tampak membuka akun IG miliknya. Ada akun seorang laki-laki blasteran mengikuti akunnya.
'Siapa nih. Kok bisa nih cowok mengikuti akun ku?' batin Ayumi.
Hai. Boleh kenalan nggak?
Komentarnya di salah satu foto Ayumi bersama Zara di sebuah restoran.
Ayumi langsung keluar dari akunnya. Tidak membalas komentar tersebut. 'Paling juga cowok iseng' batinnya.
"Kenapa, Yum. Mukamu kok ditekuk begitu?" Tanya Zara.
"Nggak, ada cowok ngajak kenalan di IG. Males banget. Paling juga cuma iseng doang" jawab Ayumi.
"Nggak salahnya kalau cuma kenalan saja. Siapa tahu jodoh. Kan banyak tuh yang berjodoh gara-gara kenalan di IG" ujar Zara.
"Iya, terus nggak lama nikah mereka cerai. Ogah. Pasang foto paling ganteng kenyataannya itu foto orang lain" jelas Ayumi.
Walaupun jilbab Ayumi belum sepanjang yang Zara pakai. Dia sudah mengerti bahwa tidak ada pacaran dalam Islam.
"Benar juga apa yang kamu bilang. Harus hati-hati juga kenalan di media sosial" ujar Zara setuju.
Ayumi menyimpan ponselnya ke dalam tas. Dia memang mudah suka dengan cowok berwajah Indo. Tapi kenyataannya setiap cowok yang dia sukai pasti akan menyukai temannya bukan dirinya. Makanya dia tidak mau mengumbar perasaannya seperti dulu.
Tak lama ponsel Zara pun berbunyi lagi. Kali ini Mami mertuanya yang menelponnya. Maklum cucu pertama juga bagi mertuanya. Jadi nggak kalah perhatiannya dengan Dirga.
"Hmm. Enak banget ya, punya mertua perhatian sekali dengan menantunya" puji Ayumi.
"Alhamdulillah. Mami Dirga walaupun cerewet tapi beliau sayang sekali denganku" balas Zara tersenyum.
'Semoga aku bisa mendapatkan mertua sebaik mertua Zara juga' batin Ayumi sambil membalas senyuman Zara.