My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 6 Pergi Bersama ke Sekolah



Zara merebahkan badannya di atas  ranjang setelah diantar Dirga pulang. Mengingat kejadian sepulang sekolah tadi. Dirga sudah menyelamatkannya dari ajakan Candra untuk pulang bareng. Bisa dibayangkan kalau tidak ada mobil Dirga di belakang mobil Candra tadi. Bagaimana cara dia bisa menolak ajakan Candra yang masih getol pedekate dengannya. Laki-laki satu itu memang bermuka tambeng.


"Dirga memang benar. Aku belum bisa bersikap tegas dengan Pak Candra. Harusnya dia tahu kalau aku menjaga jarak dengan guru laki-laki yang masih lajang. Cukup berteman saja tidak lebih" gumam Zara.


Tapi kalau ingin lebih dari itu, Zara akan segera menghindar ketika mereka melepaskan sinyal-sinyal pendekatan kepadanya.


Dirga menyarankan Zara agar memberitahu Candra kalau dia sudah punya calon.


'Iih, calon dari mana. Satu sekolah juga tahu kalau aku ini jomblo tulen. Hehehe' lamun Zara.


"Eh, bisa-bisanya Dirga bilang kalau calonnya “Yang lagi menyetir”. What!!!. Itu kan maksudnya dia. Yang ada nanti aku bisa ditertawakan oleh Pak Candra" gumam Zara lagi.


Zara mengakui kalau cara berpikir Dirga memang lebih dewasa darinya. Entah kenapa?. Dia dan Dirga bisa menjadi akrab layaknya teman. Bukan hubungan antara guru dan muridnya. Sebenarnya dengan siswa lain pun Zara dekat, tapi berbeda dengan Dirga. Entahlah, sulit untuk diartikan oleh Zara.


***


“Yum, kamu tahu nggak?. Kemarin Pak Candra belum pulang. Eh, ternyata dia sengaja menunggu ku untuk mengajak pulang bersama” cerita Zara ketika bertemu dengan Ayumi.


“Terus, kamu pulang bersama Pak Candra?. Wah, Pak Candra pasti happy banget tuh” ujar Ayumi mengedipkan matanya kepada Zara.


“Eh, siapa bilang aku ikut dia” elak Zara.


“Terus kamu pulang naik bis?” tanya Ayumi.


“Nggak. Aku pulang diantar oleh Dirga” jawab Zara tersenyum.


“What!!. Sius, Za?” seru Ayumi tidak percaya dengan ucapan Zara.


“Serius kali!!” ujar Zara membetulkan ucapan Ayumi.


“Aku nggak percaya!!” ujar Ayumi kuekeh tidak percaya juga.


“Terserah!!” balas Zara masa bodoh.


Zara kemudian berjalan meninggalkan Ayumi yang masih terbengong-bengong di mejanya. Hari ini dia ada kelas di IPA 1 yang tak lain adalah kelas Dirga.


'Aduh, kenapa jantungku jadi berdebar tak karuan begini. Sebelum ada Dirga di kelas itu, jantungku normal-normal saja' batin Zara.


Zara mengabsen satu persatu siswa yang ada di kelas IPA 1. Tidak dia lihat sosok jangkung Dirga di bangku bagian belakang. Benar saja. Setelah mengabsen, Rio, ketua kelas memberitahu kalau Dirga izin tidak masuk hari ini. Dia melihat memang ada surat dari Dirga di atas meja guru. Tanpa kehadirannya paling tidak, bisa membuat Zara tenang mengajar di kelas itu. Karena kalau Dirga ada di kelas, tatapannya ketika melihat Zara sedang mengajar, membuat gadis itu tidak konsentrasi. Zara menjadi tidak percaya diri kalau ada Dirga, secara siswanya itu lebih fasih bahasa Inggrisnya dibandingkan dengannya.


***


Sudah tiga hari Zara tidak melihat batang hidung Dirga. Hari kedua, Zara mengetahuinya karena jadwalnya piket jadi dia bisa mengecek siswa-siswi yang tidak hadir. Hari ketiga Dirga tidak hadir, Zara ketahui dari Ayumi yang mengajar di kelasnya.


'Kenapa aku jadi begitu peduli dengan ketidakhadirannya?' tanya hati Zara heran.


Entah kenapa, seperti ada yang hilang jika dia tidak melihat Dirga ada di sekolah.


Urusannya dengan Candra sudah selesai. Zara bicara kepada Candra bahwa dia sudah mempunyai calon yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.


"Hahaha. Bohong sedikit, deh. Siapa coba yang sedang studi di luar negeri, mengarang sekali" gumam Zara sambil tertawa geli jika mengingatnya lagi.


Drett.Drett.Drett.


Ponsel Zara bergetar. Dia melihat di layar ponsel tertera nomor asing .


"Siapa, ya?. Malam-malam begini menelpon" gumam Zara.


Agar tidak penasaran, dia pun menggeser tanda hijau di layar ponselnya.


“Assalamualaikum” sapa Zara.


“Waalaikumsalam” balas lawan bicaranya. Sejenak Zara terdiam. Seperti suara...


“Ini aku, Dirga” lanjutnya. Dari balik ponsel Zara tersenyum. Ternyata tebakannya benar.


“Oh, Dirga. Ada apa?” tanya Zara sok cool.


“Pelajaran Miss kemarin aku izin tidak sekolah, ada tugas tidak?” tanyanya.


“Kamu sudah 3 hari tidak masuk sekolah. Ke mana?” Bukannya menjawab pertanyaan Dirga, Zara malah balik bertanya.


“Lho, Miss kok tau aku sudah 3 hari tidak masuk?” tanya Dirga heran.


'Oh, sialan!!. Kenapa aku keceplosan menanyakan itu?. Haduh, Zara, mulutmu harimaumu' umpat Zara dalam hatinya.


“Ya, tahulah. Aku kan guru” jawab Zara asal. Di seberang sana Zara mendengar suara Dirga sedang tertawa.


“Kangen, ya?” tebak Dirga.


'Iih, nih anak maksudnya apa?' batinnya. Jantung Zara sudah dag-dig-dug begini. Mungkinkah dia kangen katena tidak melihat sosok Dirga di sekolah?. Ah tidak!!!.


“Miss, kok diam,” panggil Dirga.


Zara tersadar kalau di seberang sana dia masih menunggu.


“Eh, apa?. Maaf tadi ada yang lewat jadi tidak fokus” kata Zara ngeles.


“Ng ... itu tukang ronda” jawab Zara ngaco.


'Hahaha. Jam 9 masa tukang ronda sudah keliling. Zara, kenapa otakmu mendadak tulalit, sih?' dialog hati Zara.


“Kayaknya memang Miss sedang tidak fokus, deh. By the way ada tugas nggak?” tanya Dirga lagi.


Pipi Zara memanas. Sepertinya Dirga tahu apa yang dia rasakan. Mengalihkan pembicaraan yang ujungnya menjebaknya sendiri.


“Hm, ada. Tugasnya di buku paket halaman 35" jawab Zara.


“Ok. Thanks informasinya. Selamat malam, Miss. Assalamualaikum” tutup Dirga.


“I miss you” lanjutnya pelan lalu sambungan telpon terputus.


'Apa dia bilang tadi, apa aku nggak salah dengar?' tanya hati Zara tidak yakin. Mungkin telinganya sudah salah mendengar bahwa Dirga merindukannya.


Fix malam ini, Zara tidak bisa tidur gara-gara mencerna kalimat terakhir Dirga.


***


Seperti biasa Zara berangkat ke sekolah agak pagi, tapi tumben bis hari ini kok ramai sekali. Dia menunggu di halte dengan gelisah. Waktu terus berjalan. Kalau bis sekali lagi lewat dan dia gagal naik, bisa dipastikan dia bakal datang terlambat ke sekolah.


Tiba-tiba Sigra silver berhenti tepat di depannya. Sepertinya dia kenal siapa pemilik mobil itu. Apa dia harus menerima tawarannya?.


“Miss, ayo naik nanti terlambat, lho” panggil Dirga dari dalam mobil setelah menurunkan kaca pintu mobil.


Zara melirik jam di tangan kanannya. Benar juga, mau tak mau dia menerima tawaran Dirga.


Selama di mobil dia lebih banyak diam. Matanya terlihat mengantuk sekali akibat kurang tidur semalam. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Dirga. Dirga pun menoleh ke arahnya. Jangan sampai siswa tampan itu memergokinya ketiduran. Tapi matanya sudah berat sekali, sesekali kepalanya hampir saja terbentur kaca pintu mobil akibat menahan kantuk.


“Miss kenapa?. Begadang ya semalam?” tanya Dirga.


“Ah, nggak kok, hanya insomnia saja” jawab Zara memaksakan mata terbuka lebar.


“Udah nggak usah memikirkan aku, hari ini kan sudah bertemu” kata Dirga tersenyum.


Zara membulatkan mata. Kalimat Dirga sukses membuat rasa kantuknya menghilang.


“Percaya diri sekali. Memangnya siapa yang sedang memikirkan kamu?” elak Zara.


“Para fans kamu tuh yang pada kangen. Apalagi si Angel” sambung Zara.


Zara tersenyum melihat ekspresi Dirga ketika nama Angel dia sebut. Kelihatan tidak suka sekali.


“Playgirl!!" gumam Dirga.


Zara tidak menanggapinya. Semua guru juga tahu kalau Angel suka gonta ganti pacar. Zara turun di pintu pagar, sementara Dirga akan memasukkan mobilnya ke parkiran.


“Miss, nanti pulang bareng, ya" ucap Dirga sebelum melajukan mobilnya ke area parkir.


Tinggal Zara yang terbengong. Dirga mau mengajaknya pulang bareng.


'Nggak salah makan tuh anak?. Dia pikir aku temannya apa?' batin Zara.


Tiba di ruang guru. Ayumi menatap Zara tajam. 'Kenapa lagi dengan nih anak. Pagi-pagi sudah pasang tampang menyeramkan.'


“Kenapa, Neng?. Kesambet?” ledek Zara.


“Kok, kamu bisa datang bersama Dirga?” tanya Ayumi.


Ealah, jadi Ayumi melihat Zara turun dari mobil Dirga. Biasa saja kali. Dia kan guru Dirga, wajar kalau siswanya itu memberinya tumpangan gratis.


“Nggak sengaja bertemu di halte. Mobil Dirga lewat, eh dia menawarkan tumpangan. Yah, daripada aku nanti terlambat lebih baik ikut saja" jawab Zara jujur.


“Oh. Aku kapan ya, bisa dekat dengan Dirga?" gumam Ayumi.


“Kamu bawa motor nggak?. Kalau nggak bawa, kamu bisa ikut pulang bersama, tadi Dirga menawarkan aku untuk pulang bersama” cerita Zara.


Mata Ayumi menyipit, menatap Zara curiga. “Apa??” tanya Zara melihat tatapan temannya itu.


“Apa Dirga pendekatan dengan kamu, Za?” Ayumi bersedekap sambil menatap Zara serius. Hah, jelas Zara kaget dengan asumsi Ayumi itu.


“Yang benar saja" bisik Zara tidak percaya.


“Za, kata teman-temannya, Dirga itu sombong sekali. Dia tidak mau menawarkan tumpangan yang searah dengannya, tapi kamu jelas-jelas beda arah mau-maunya dia rela menawarkan tumpangan. Kamu nggak pikir ke sana?” jelas Ayumi.


Zara berpikir sejenak mencerna ucapan Ayumi. 'Oh, My God. Aku sungguh tidak tahu soal itu. Ku pikir rumah kami searah' teriak hati Zara.


“Terus kamu cemburu?” goda Zara menjawil dagu Ayumi.


“Ya, kecewa saja. Ternyata dia lebih memilih kamu daripada aku” lengos Ayumi tidak mau melihat Zara.


“Aduh, Yum masa gara-gara siswa kita jadi ribut. Lagian juga itu kan persepsi kamu saja. Belum tentu benar” kilah Zara.


'Lagian kalau memang ternyata benar, aku harus bagaimana, ya?. Aaaargh'