
Dua bulan kemudian
"Ihh, ngapain juga nikah sama brondong kalau akhirnya jadi jablay" ucap Rika salah satu teman mengajar Zara. Rika adalah salah satu guru yang seusia Zara. Dia sudah menikah dan mempunyai satu anak.
"Cinta buta itu namanya. Laki-laki mapan yang mau serius malah ditolak dan lebih memilih mantan murid yang masih kuliah. Yang ada juga kita diporotin untuk biaya kuliahnya. Eh di sana dia melirik gadis yang lebih muda pula" timpal Hesti sinis, guru IPA yang memang tidak suka dengan Zara.
"Eh, ibu-ibu. Ngapain kalian sibuk ngurusin kehidupan orang lain" sela Bu Rida yang kebetulan mendengarkan pembicaraan kedua guru itu. Bu Rida memang dekat dengan Zara. Sebagai sesama guru bahasa Inggris, dia sudah seperti kakak bagi Zara.
Telinga Bu Rida menjadi panas mendengar sesama guru saling menjelekkan.
"Rika, urusin suami mu yang suka main tangan itu. Dan kamu Hesti, urusin anak laki-laki mu itu yang suka jalan sama tante-tante!!" teriak Bu Rida.
Ayumi yang berada di belakang Bu Rida tersenyum geli melihat muka masam kedua tukang gosip itu. Mereka berdua pun langsung bungkam mendapat teguran dari Bu Rida.
ZARA POV
Aku yang tidak jauh dari ruangan guru, mengurungkan niat ku untuk masuk karena tidak sengaja mendengarkan semua ucapan ibu-ibu di dalam sana. Aku lalu membalikkan badan dan berjalan menuju ke perpustakaan.
Di perpustakaan, aku mengeluarkan ponsel dari saku blazer ku. Ada berapa panggilan video call dari Dirga yang tidak ku gubris tadi. Ku lihat lagi di ponsel, ada SMS juga dari Dirga. Mungkin karena aku tidak mengangkat panggilan video call darinya, Dirga lantas mengirim SMS saja.
( Ra, kakek kurang sehat. Kamu bisa lihat kakek di rumah? Kasihan kakek sendirian di sana )
Ya Allah, kakek sakit? Aku sudah lama tidak ke Korean food. Sejak pulang dari Korea, aku tinggal bersama orang tua ku. Untuk sementara waktu aku tinggal di sana karena Dirga kan, masih di Korea.
Pulang dari mengajar, ku sempatkan diri untuk mampir mengunjungi kakek Zahid. Rumahnya tepat berada di belakang resto Korean Food, miliknya.
"Mas Ari, kakek di mana?" Tanya ku kepada waiters yang sudah lama ikut kakek itu.
"Kakek sedang demam, Mba. Beliau ada di rumah belakang sedang istirahat" jawab Ari.
Aku langsung menuju ke rumah kakek. Rumah itu tidak terlalu besar untuk ukuran beliau. Kamarnya hanya dua, satu ditempati beliau dan satunya lagi kamar Dirga.
"Waalaikumsalam. Masuk Ra, kakek di kamar" sahut kakek Zahid.
"Ya Allah, kakek sakit apa? Kita ke dokter aja ya, kek" kata ku panik melihat kakek Zahid terbaring di atas ranjang.
"Hanya demam, Ra. Nggak usah repot-repot. Kakek sudah minum obat tadi" tolak kakek Zahid.
Aku sedih sekali melihat kakek sendirian di masa tuanya. Seharusnya beliau menikmati masa tuanya bersama anak dan cucunya. Bukan sendirian seperti ini. Kalau Dirga sudah selesai kuliah, kami nanti bisa tinggal di sini untuk merawat kakek.
Setelah memastikan kakek tidak begitu mengkhawatirkan, aku pamit pulang ke rumah. Lagi pula ada Ari yang menemani kakek selama Dirga di Korea.
Author POV
Tiba di rumah
"Bagaimana keadaan kakek, Za?" Tanya Afifah, Mama Zara ketika dia sampai di rumah.
"Demam karena masuk angin, Ma. Kakek sudah minum obat, jadi aku tenang meninggalkannya bersama Ari" jelas Zara sambil duduk di sofa.
"Syukurlah kalau tidak apa-apa. Mama takutnya kakek sakit parah" ujar Afifah dengan raut wajah cemas.
"Ma, aku ke kamar dulu ya. Mau mandi" Zara berdiri dari sofa lalu berjalan menuju kamarnya.
Setelah membersihkan diri, Zara mengecek ponselnya. Tidak ada telpon atau pesan dari Dirga. Zara lalu membaringkan badannya di atas ranjang. Tatapannya menerawang ke langit-langit kamar.
'Salah kah jika aku menerima lamaran Dirga. Dia memang belum memiliki pekerjaan mapan. Tapi penghasilannya sebagai asisten dosen selalu dia transfer ke rekening ku setiap bulan walaupun tidak banyak'
'Aku mencintainya juga bukan karena aku buta dengan perasaan ku. Aku sudah istiqoroh agar diberikan pilihan yang terbaik menurut agama ku , laki-laki yang bisa menjadi imam ku dunia akhirat'
Bulir bening meluncur dari sudut mata Zara. Ketika dia memejamkan matanya, air matanya pun tak terbendung lagi. Zara larut dalam isakan tangis sambil menahan kerinduan di hatinya.