My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 2 Nonton Basket



Dua orang guru sedang duduk di kantin sekolah. Sambil menikmati menu yang ada di kantin, mereka berdua mengobrol dengan akrab.


"Ya, ampun, Za. Senyum Dirga, aduh, nggak kuat. Kok, bisa dia cakep kayak gitu. Jangan-jangan Dirga itu aktor yang sedang menyamar, ya" celoteh Ayumi lebay ketika mereka sedang makan di kantin siswa.


Suasana kantin memang masih sepi karena para siswa belum istirahat. Sementara mereka sedang tidak ada jam mengajar sebelum istirahat.


"Kalah saingan kamu, Yum sama siswi lain yang ngefans dengan Dirga" ledek Zara sambil menyeruput es jeruknya yang sudah tinggal setengah gelas lagi.


"Iih, aku sebal banget sama Angel, siswi IPA 3 itu. Dia naksir berat tuh sama Dirga. Memang sih, Angel itu parasnya cantik, tidak bisa dipungkiri lagi, tapi sayang otaknya pas-pasan sekali. Matematikanya saja lemot begitu," gerutu Ayumi sambil melahap makanannya. Gadis itu merasa kalau dirinya tidak jelek meskipun usianya lebih tua dari siswanya, wajahnya masih terlihat muda.


"Tapi dia cantik seperti model begitu, Dirga juga bakalan klepek-klepek dengannya" kata Zara memanasi temannya itu. Tahu sendiri Ayumi itu orangnya tidak mau disaingi.


"Iih, Angel itu kan sudah pacaran dengan Aldy. Sekarang dia mau menggaet Dirga pula. No ... No!!!. Jangan sampai Oppa Korea IPA 1 jatuh ke tangan Angel, si playgirl itu" sungut Ayumi tidak suka.


"Ya Allah, Yum. Kamu sampai tahu juga, ya, siswa-siswi kita yang playgirl, playboy lah atau play group" ujar Zara terkekeh tidak bisa menahan diri untuk tertawa.


"Zaraa!!!" teriak Ayumi kesal menatap Zara dengan wajah marahnya.


"Bu Zara, boleh saya duduk di sini" sapa suara seorang laki-laki yang Zara lihat ternyata Pak Candra, salah satu guru olah raga di sekolah tempat mereka mengajar.


Zara dan Ayumi saling tatap. Dengan malas Zara terpaksa mengiyakan. Pak Candra duduk di samping Ayumi. Jadi dia dan Candra saling berhadapan. Dari gelagatnya, Zara tahu kalau laki-laki itu mau pendekatan dengannya. Hal itu dia juga tahu dari ibu-ibu senior di kantor. Tapi sayangnya, Candra bukanlah tipe Zara. Meskipun secara finansial Candra sudah mapan, tapi itu saja tidak cukup bagi gadis seperti Zara. Agama tetaplah prioritas baginya. Seorang laki-laki harus bisa menjadi imam dalam keluarganya nanti. Lha, waktunya sholat saja Candra tidak ada di mushola sekolah.


"Pak Candra nggak ada kelas, ya?" tanya Ayumi basa-basi.


"Iya, nih. Hari ini tidak banyak kelas. Kebetulan sedang lapar sekali jadi mampir ke sini dulu" jawab Candra sambil melirik ke arah Zara.


Zara memasang wajah datar. Kalau ditanggapi, nanti bisa ge-eran tuh cowok.


"Aduh...maaf, ya. Aku duluan, mau ke toilet" kata Zara mencari alasan agar bisa pergi dari kantin untuk menghindari laki-laki itu.


"Eh, Za. Aku belum selesai makan, nih" panggil Ayumi menahan tangan Zara agar tidak pergi dulu.


"Kebelet...kamu lanjutkan saja. Kan, sudah ada Pak Candra" goda Zara. Dia pun langsung berlari kecil bergelagat seolah-olah sedang kebelet pipis. Hehehe.


***


Tiba di kantor


Ayumi ngomel-ngomel sebal karena sudah ditinggalkan oleh Zara di kantin tadi.


"Sialan kamu, Za. Masa kamu meninggalkan aku sama Pak Candra. Asem banget!!" gerutu Ayumi. Dia tadi langsung menyusul Zara ke kantor.


"Kamu tahu sendiri kan, aku nggak mau dekat-dekat sama yang namanya cowok yang masih lajang. Nanti fitnah lagi, seolah-olah aku sama dia ada apa-apanya" jelas Zara.


"Kamu saja kalau mau" sodor Zara dengan senang hati. Dia akan mendukung Ayumi.


"Emoh juga aku" tolak Ayumi mentah-mentah.


"Tuh, kamu saja nggak mau. Tapi sok-sok menyodorkan dia ke aku" omel Zara sambil memanyunkan bibirnya.


"Eh, ada apa di luar sana?. Kok, heboh banget, ya. Kita lihat yuk, Za" ajak Ayumi langsung menarik tangan Zara agar keluar dari kantor.


Zara dan Ayumi kemudian keluar dari kantor untuk melihat kehebohan apa yang telah terjadi. Mereka berdua masih berdiri di teras kantor sambil melihat ke arah lapangan basket yang penuh dengan siswa dan siswi yang sedang menonton.


'Biasa juga ada tanding basket nggak seheboh ini, deh' batin Zara heran.


"Ya ampun, Za. Itu, si Dirga sedang bermain basket. Ke sana, yuk. Mumpung kita masih istirahat" ajak Ayumi.


"Malas, ah" tolak Zara.


"Ya, Za. Please, temani aku, ya. Ayo" Ayumi menarik tangan Zara lagi menuju ke lapangan basket yang udah ramai dengan para siswi. Mereka berteriak heboh ketika ada siswa yang berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang.


Mereka juga mengeluh-eluhkan nama Dirga karena ternyata siswa tampan itulah yang menjadi pusat tontonan para siswi. Zara pun terpaksa mengikuti Ayumi berjalan di antara kerumunan siswi untuk mencari posisi agar mereka bisa menyaksikan permainan basket Dirga.


'Kok, aku merasa konyol begini, yak. Mau saja mengikuti keinginan Ayumi' batin Zara baru menyadari sikap anehnya.


"Dirga!. Bu Ayumi di sini" teriak Ayumi memanggil nama siswa tampan itu.


Eh, yang empunya nama sontak langsung menoleh, melihat ke arah mereka. Entah melihat Zara ataukah Ayumi, tapi dari matanya seperti sedang menatap ke arah Zara. Dirga tersenyum ke arah mereka berdua. Ayumi pun tersenyum bahagia sambil melambaikan tangannya.


'Huh, bikin aku malu saja nih anak. Ada ya guru kayak Ayumi. Lebay' oceh Zara di dalam hatinya melihat kelakuan temannya itu.


Dirga melanjutkan aksinya kembali dengan memasukkan bola ke dalam keranjang, karena badannya tinggi maka dengan mudahnya benda bulat itu meluncur manis ke dalam keranjang.


Zara ikut juga mengamati Dirga yang sedang bermain basket. Peluh yang mengalir di dahinya membuat Dirga terlihat semakin keren.


'Alah. Kenapa aku juga ikut lebay, deh' gumam hati Zara tersenyum sendiri.


Sesekali Dirga melirik lagi ke arah Zara dan Ayumi, sontak membuat siswi yang berdiri di samping mereka pun menjadi kege-eran. Tiba-tiba seorang siswa menghampiri Zara.


"Miss Zara, dipanggil Pak Heru di kantor" kata siswa tersebut memberitahu gadis berjilbab putih itu.


"Terimakasih, Gusti" Zara kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Ayumi kalau dia mau ke kantor karena dipanggil oleh kepala sekolah.


Ayumi masih tidak mau beranjak dari lapangan basket. Tak lama Zara berjalan menuju ke kantor, bel masuk berbunyi. Tanda waktu istirahat berakhir. Semua siswa membubarkan diri. Lapangan basket itu perlahan-lahan sepi kembali karena para siswa sudah masuk ke kelasnya masing-masing.