My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 20: Melepas Kerinduan



Dirga POV.


Sewaktu di restoran tadi kok, aku merasa melihat Zara. Ah, mungkin perasaan ku saja yang selalu membayangkan Zara, makanya ketika melihat ada wanita berjilbab makan di resto tadi seolah-olah aku melihat Zara. Aku menggelengkan kepala heran. Aku terlalu rindu sampai berhalusinasi membayangkan kehadirannya di sini.


Selesai menggantikan kelas profesor Ahnyong, aku bergegas pulang ke rumah. Aku sudah berjanji kepada Zara kalau aku akan menelponnya kalau sudah pulang nanti.


Mendengar suaranya saja sudah mengobati rasa rinduku. Bulan depan rencananya aku akan menemuinya. Dengan kerja part time di restoran, aku tidak perlu lagi mengganggu gajiku sebagai asisten dosen.


"Hai Sayang. Kamu sudah pulang, ya" tegur Mami tersenyum melihat putranya ini sedang membuka sepatu.


"Mami ! Tumben sudah ada di rumah" balasku sedikit aneh melihat Mami sudah berada di rumah. Biasanya beliau sore hari baru kelihatan ada di rumah.


Mami tidak menanggapi ucapanku.


"Istirahatlah" perintah Mami sambil berjalan ke arah dapur.


Aku pun berlalu menuju ke kamar. Suasana kamar tampak sepi. Kulepas pakaian lalu mengambil baju ganti yang terlihat santai.


Sementara Zara bersembunyi di balik gorden, mengamati Dirga yang sedang mengambil ponselnya di dalam tas.


Huft. Untungnya ponsel Zara sudah disilent dan tanpa getaran. Sehingga tidak bersuara ketika Dirga menelponnya.


Kenapa telponku tidak diangkat-angkat oleh Zara. Apa dia sedang sibuk ? Aku terus mencoba menghubungi ponsel Zara. Namun tetap tidak ada tanda-tanda panggilan telponku di jawabnya.


Aku tersentak kaget, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Aku terdiam, ku lihat kedua tangan yang sudah tidak asing bagiku telah melingkar di perutku.


Zara!!! Aku memejamkan mata sejenak. Ah, aku terlalu berhalusinasi. Tapi kenapa pelukan ini terasa nyata sekali. Aku membalikkan badan lalu menghadap sosok orang yang sedang memelukku itu.


"Zara!! Ini beneran kamu?!!" Seruku tidak percaya sambil menangkup wajahnya dengan kedua tanganku.


"Aku tidak sedang bermimpi, kan?" Zara mengangguk dan hanya tersenyum memandangku.


Aku pun langsung menariknya ke dalam pelukanku. Tersenyum bahagia. Bisa-bisanya dia datang ke Korea tanpa mengabariku. Aku lalu mengurai pelukanku. Ku tatap wajah cantiknya yang telah lama ku rindu.


"Ga, aku..." Ku tempelkan telunjukku ke bibirnya.


Ku bisikkan sesuatu ke telinganya. Aku tidak mau nantinya sudah semangat untuk memadu kasih, dia bilang sedang libur sholat.


"Nggak kok" ucap Zara tersipu.


"Baguslah kalau begitu" timpalku tertawa kecil.


Ku pegang wajahnya, seolah masih tidak percaya, Zara berada di hadapanku. Ku dekatkan wajahku hingga netra ini bertemu dan saling menatap.


Ku kecup keningnya, hidungnya, pipinya dan dagunya dengan gemas. Zara melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku.


Hanya tawa kecil yang terdengar karena Zara merasa geli ku perlakukan seperti itu. Tawa gemasnya pun tak terdengar lagi ketika ku kecup bibirnya.


Rindu yang sudah meluap dan tak tertahankan lagi antara aku dan Zara kini terlampiaskan sudah. Zara masih memeluk badanku di balik selimut.


"Jadi ceritanya aku harus menemani kalian ke rumah orang tua laki-laki itu" ucapku sambil menopang kepala dengan tangan kiri lalu menghadap Zara.


"Iya, Ga. Aku nggak tahu alamat itu di mana. Kamu tahu, kan?" Tanyaku.


"He-eh. Aku tahu, kok. Tapi ada syaratnya..." Tatapku tersenyum smirk.


"Ya Allah, mau menolong istri aja pake syarat segala. Emang apa syaratnya?" Omel Zara.


Ku condongkan kepalaku dan membisikkan sesuatu ke telinga Zara.


"Dirga!!" Teriak Zara tersipu malu sambil memukul dadaku tanpa henti.


Aku terkekeh geli melihat Zara tersipu malu begitu.


"Udah, Ra" ucapku masih menahan tawa.


Aku mencoba menangkap tangan Zara. Namun dia mengelak, akhirnya kami pun bergumul di balik selimut seperti anak kecil saja.