My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 25: Kejutan



Ayumi baru saja meng-upload fotonya  sedang duduk santai di IG-nya. Tak lama akun yang sama dengan kemarin menyapanya lagi.


Assalamualaikum.


'Waalaikumsalam' Ayumi hanya menjawab dengan lisannya.


"Cowok ini beragama Islam. Tapi mukanya blasteran kayak gitu. Hmm jangan-jangan bukan wajah aslinya lagi. Aktor mana yang dia pake?" Gumam Ayumi tersenyum.


Waalaikumsalam. Cowok iseng!


Ayumi akhirnya membalas salam cowok itu di komentar.


Tring!!


Sebuah balasan masuk melalui chat di IG, bukan lagi dari komentar.


Saya ngajak kamu kenalan baik-baik kok dibilang iseng.


Ya, kebanyakan emang kayak gitu. Apalagi kalau pake foto profil wajah orang lain.


Maksud kamu?


Kamu pake foto aktor dari mana?


Hahaha. Ini wajah asli saya,lho. Kalau nggak percaya kamu follback akun ku, deh.


Ogah. Nggak percaya!!!


Kamu nggak percaya kalau wajahku setampan ini, kan. Itu asli, aku emang blasteran Jawa-Australia.


Terserah kamu deh, mau ngarang apa aja.


Ayumi keluar dari akun IG-nya sambil geleng-geleng kepala. Banyak kasus penipuan di akun sosmed. Jangan sampai itu terjadi dalam hidupnya. Apalagi soal cowok.


Hari-hari berikutnya akun yang sama bernama Zeyn terus menyukai atau pun komentar foto-foto yang Ayumi upload. Namun tidak pernah Ayumi gubris sama sekali. Ayumi tidak yakin kalau itu akun cowok normal. Gadis itu udah paranoid saja. Apalagi sampai cowok itu pernah meminta nomor ponsel Ayumi.


"Makin lama kamu semakin menantang ku saja" gumam Zeyn tersenyum di seberang sana sambil menatap akun IG-nya.


***


"Kenapa Yum, tiap buka ponsel muka kamu mendadak berubah begitu?" tanya Zara duduk di samping Ayumi.


"Aku males banget nih buka IG. Cowok yang bernama Zeyn ini selalu muncul komen di setiap foto yang aku upload" sungut Ayumi.


"Cie...dia naksir kamu kayaknya" goda Zara.


"Mana? Lihat orangnya, kayak apa sih" sambung Zara sambil melihat ponsel Ayumi.


"Nih, sok ganteng banget kan?. Nggak tahu, itu muka aslinya atau comot foto orang" tunjuk Ayumi memperlihatkan akun IG cowok tersebut kepada Zara.


"Emang ganteng, sih. Kamu coba buka dulu akunnya dan lihat foto-fotonya. Kalau semua foto di sana banyak muka tuh cowok berarti emang muka aslinya, Yum" saran Zara.


Ayumi akhirnya melihat isi akun IG Zeyn, nama cowok tersebut di IG. Ternyata semua aktivitas dan beberapa foto Selfi emang wajah yang sama dengan foto profilnya. Jantung Ayumi pun berdebar kencang. Dia tidak percaya ada cowok seganteng Zeyn mau berkenalan dengannya. Dari gaya-gayanya kayak anak kuliahan. Wah brondong, nih. Pikir Ayumi.


"Dia mau minta nomor ponselku. Gimana, kira-kira ku kasih nggak ya?" tanya Ayumi.


"Terserah kamu kalau soal itu. Tapi jangan kopdar, ya!" ujar Zara mengingatkannya.


"Nggaklah. Mana berani aku ketemuan dengan cowok kalau sendirian" elak Ayumi.


"Eh...Dirga nelpon. Aku ke sana dulu" ujar Zara menjauh dari Ayumi.


"Idih, kayak ada rahasia aja pake menjauh segala" sindir Ayumi melihat Zara berjalan keluar kantor.


Zara sudah menjauh dari kantor. Dia duduk di bangku taman dekat ruang guru.


[Kamu belum pulang, ya]


[Belum. Jam segini memang belum waktunya pulang, Ga]


[Lama juga, ya]


Terdengar suara Dirga bergumam di seberang sana.


[Aku udah biasa pulang jam segitu. Di rumah juga nggak ada orang. Mama juga pulangnya sore]


[I Miss you. Sampai ketemu...]


[Miss you too. Assalamualaikum]


[Waalaikumsalam]


Tut.Tut.Tut


Dirga sudah memutus sambungan telpon. Zara tampak mengeryitkan dahinya.


Zara beranjak dari bangku taman lalu kembali masuk ke kantor lagi.


***


Setelah jam pelajaran berakhir, Zara langsung pulang ke rumah. Teman mengajarnya termasuklah Ayumi mengajak cuci mata ke mall. Tapi Zara menolak karena sejak hamil dia kurang suka untuk ke sana ke mari, dia lebih suka di rumah.


Tiba di rumah. Zara membuka pintu yang masih terkunci dari luar. Mama dan papanya belum pulang. Adiknya juga kuliah di luar kota. Jadi, sudah pasti tidak ada orang di dalam rumah.


Zara memasuki rumah dan langsung menuju kamar. Cuaca di luar begitu terik. Zara menyalakan AC lalu membuka atribut pakaian kerjanya dan meletakkannya di atas ranjang. Tanpa dia sadari, tiba-tiba seseorang yang hanya mengenakan handuk saja berjalan mendekatinya. Tampaknya dia baru selesai mandi. Sosok itu langsung memeluk badan Zara dari belakang.


"Aaaaaaa!!!" jerit Zara kaget bukan main. Apalagi dengan keadaan dirinya yang hanya memakai tanktop dan celana pendek saja.


"To....to...tolong!!!" Teriak Zara tercekat sambil memejamkan matanya karena sosok itu dengan cepat membalik badannya.


"Sayang, ini aku"


Zara perlahan membuka pelan matanya. Matanya membulat tidak percaya melihat sosok laki-laki yang dirindukannya sekarang ada di hadapannya sedang bertelanjang dada.


"Di...di...dirga" ucap Zara masih gemetar.


Zara tidak percaya dengan sosok laki-laki di depannya itu adalah suaminya. Jangan-jangan dia makhluk halus yang menyerupai suaminya lagi.


"Tolong, jangan ganggu aku. Jangan menyerupai suamiku. Pergilah!!" ucap Zara memejamkan matanya lagi sambil melepaskan doa-doa di dalam hatinya. Dia masih belum percaya. Tidak ada angin, tidak ada hujan bahwa Dirga akan pulang ke Indonesia.


Dirga malah tertawa terbahak-bahak melihat Zara masih tidak percaya kalau dia memang ada di hadapan istrinya itu sekarang.


"Ra, ini aku Dirga. Suami kamu. Bukan makhluk halus" ujar Dirga menyentuh wajah Zara dan membelainya lembut.


Zara membuka pelan matanya sambil menatap tajam wajah laki-laki di hadapannya itu.


"Aku...suami kamu" Dirga tersenyum menyakinkan Zara.


"Aku bisa pulang karena Prof.Ahnyong mengizinkanku" sambung Dirga agar Zara percaya.


Kedua telapak tangan Zara menyentuh rahang Dirga. Menyusuri setiap lekuk wajah tampan di hadapannya itu. Zara merasa yakin bahwa laki-laki itu adalah suaminya. Dia pun langsung memeluk badan Dirga.


'Alhamdulillah Ya Allah, aku sudah takut kalau dia adalah penampakan' batin Zara masih dengan jantung yang bergemuruh.


"Tadi kamu telpon, tapi kenapa nggak bilang kalau udah di rumah?" Ujar Zara sambil membenamkan kepalanya di dada bidang Dirga.


"Aku, mau buat kejutan untuk kamu" bisik Dirga.


Zara menarik badannya lalu menatap manik suaminya. "Mau balas dendam rupanya" ucapnya.


Dirga hanya tersenyum. Saat ini rindunya membuncah, apalagi tahu kalau Zara telah hamil anaknya. Baru kali ini bisa bertatap muka langsung setelah Zara pulang dari Korea tempo hari.


"Iya, satu sama jadinya kan" balas Dirga menunjukkan deretan giginya yang rapi.


Zara melirik badan Dirga yang masih polos. Harum wangi badannya yang habis mandi itu menyeruak ke dalam hidung Zara.


"Kenapa?" tanya Dirga merasa Zara sedang mengamati badannya.


"Kamu udah mandi, ya" gumam Zara membuat garis di dada Dirga dengan jari telunjuknya.


"Kamu mau ngajak aku mandi lagi?" tatap Dirga mesra.


Zara mengangguk malu. "Kalau kamu nggak capek" ucapnya pelan.


"Nggaklah karena aku udah lama menantikan kamu" balas Dirga tersenyum lalu membanjiri Zara dengan ciuman.


***


"Berapa lama kamu di sini?" tanya Zara di dapur sambil menyiapkan makanan untuk Dirga. Sementara Dirga sudah menunggu di kursi makan.


"Dua Minggu. Tapi setelah itu aku tidak bisa pulang lagi. Menyelesaikan tugas Prof. Ahnyong dan persiapan wisuda," jawab Dirga menatap Zara yang sedang berjalan ke meja makan.


"Lama juga, dua minggu" ucap Zara berbinar. Dirga hanya tersenyum melihat ekspresi Zara yang sangat bahagia dengan kehadirannya.


"Ra," panggil Dirga.


"Apa?" Zara lalu duduk di samping kursi Dirga.


"Selama aku di sini. Kita tinggal di rumah kakek saja, ya" pinta Dirga sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Ga, bilang dengan Mama dan Papa dulu. Aku nggak enak dengan beliau kalau kita langsung ke rumah kakek" saran Zara.


Orang tuanya kan jarang ketemu sama Dirga. Zara tahu keadaan kakek Dirga yang hanya seorang diri di rumahnya. Tapi kan ada karyawannya yang juga tinggal di sana menjaga resto.


"Hmm. Gimana kalau satu Minggu di sini, satu minggunya lagi di tempat kakek ?," saran Dirga.


"Boleh juga seperti itu. Nanti aku bicarakan dengan Mama dan Papa" ujar Zara setuju dengan saran Dirga.


Zara tidak mau mengecewakan hati Dirga, dia sudah jauh-jauh datang tapi sama sekali tidak tinggal di rumah kakeknya.