
Zara sama sekali tidak mengabari tentang kepergiannya kepada Dirga. Dia hanya meminta izin mau jalan-jalan dengan temannya ke luar kota. Dirga pun mengizinkannya.
Penerbangan Zara dan Zika berjalan dengan lancar. Tiba di Bandara Internasional Incheon, Zara dan Zika memesan taksi langsung menuju Seoul. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah mertuanya, Zika mengajak Zara untuk mengisi perut terlebih dahulu.
"Lapar, Mba" ujar Zika.
"Iya, sebentar lagi kita mampir ke restoran" ucap Zara. Dia sudah tahu tempat restoran halal di sana. Dirga pernah mengajaknya mampir ke restoran tersebut.
Taksi berhenti ketika tiba di depan restoran Korea muslim. Mereka pun turun dari taksi dan berjalan masuk ke dalam restoran.
"Aku belum pernah makan makanan Korea di tempatnya langsung, Mba" seru Zika. Zara hanya tersenyum kecil melihat Zika.
Mereka berdua mencari meja duduk tidak jauh dari pintu masuk. Seorang waiters menghampiri Zara dan Zika. Meskipun tidak bisa berbahasa Korea Zara menggunakan bahasa Inggris dan untungnya waiters tersebut bisa berbahasa Inggris.
Sambil menunggu makanan yang mereka pesan, mata Zara berputar melihat suasana di dalam restoran yang sudah banyak juga dikunjungi orang. Tiba-tiba mata Zara membulat ketika melihat sosok laki-laki berparas tampan yang tidak asing lagi baginya. Laki-laki itu memakai seragam koki berwarna putih, dia tampak sibuk berbicara dengan beberapa waiters yang sambil memberikannya catatan menu.
'Dirga...benar itu dia. Tapi ngapain dia di sini dengan pakaian seperti itu?' batin Zara sambil menutupi wajahnya dengan tisu sebelum Dirga menoleh ke arahnya.
Sebenarnya Zara ingin sekali berteriak memanggil Dirga, namun dia tahan. Kalau Dirga tahu akan kedatangannya maka rencananya memberi kejutan kepada Dirga menjadi batal.
Tak lama waiters datang membawa pesanan mereka. Zara masih sambil melirik ke arah pantry restoran mengawasi Dirga agar tidak melihat posisi duduknya.
"Yuk, Zi. Kita makan setelah ini kita langsung ke rumah mertua Mba" ajak Zara untuk menikmati pesanan mereka yang sudah terhidang di atas meja.
"Iya, Mba. Kayaknya enak-enak semua ini" seru Zika.
"Jangan lupa baca Basmallah" ujar Zara tersenyum mengingatkan Zika sebelum makanan masuk ke mulutnya.
"Bismillah" gumam Zika.
Mata Zara masih mengawasi gerak-gerik Dirga. Dari jauh Dirga sudah terlihat tidak memakai atribut koki lagi. Dia sudah memakai kemeja lengan pendek dengan tas ransel di punggungnya kemudian dia tampak melambaikan tangan kepada teman-temannya yang ada di sekitar pantry. Dirga lalu hendak berjalan keluar, dia pun melewati meja Zara tanpa menoleh kanan dan kiri lagi. Laki-laki muda itu sudah berada di luar restoran.
'Ya Allah. Apa Dirga berkerja part time di restoran ini?' batin Zara terasa begitu sesak. Matanya mengembun, Zara berusaha menahan diri agar bulir bening itu tidak lolos dari sudut matanya.
Zara merogoh ponselnya di dalam tas. Dia mencoba menghubungi Dirga melalui WhatsApp.
(Ga, kamu lagi di mana ?)
(Aku baru mau ke kampus, Sayang)
Zara tersenyum lebar setiap kali Dirga memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Ihh, Mba Za kok, senyum-senyum sendiri" celetuk Zika yang ternyata sedang memperhatikannya.
"Ssst. Mba lagi chatting dengan suami" balas Zara tersenyum malu.
(Lama, ya)
Balas Zara lagi.
(Oke)
(I Miss you so much, Honey)
(Me too. Bye)
Zara tersenyum, dia mengakhiri chattingnya dengan Dirga. Zara sudah tidak sabar untuk bertatap muka langsung dengan suaminya itu.
***
Rencananya Zara akan meminta tolong Dirga untuk menemani dia dan Zika menghadiri undangan keluarga Dae Hyun, calon suami Zika.
Di mana lokasi rumah Dae Hyun, Dirga pastilah tahu. Zara sudah menelpon mami mertuanya tentang tujuannya datang ke Korea. Mertuanya pun sudah menyetujui. Begitu juga dengan rencananya untuk memberi kejutan kepada Dirga tentang kedatangannya di Korea.
Selesai makan di restoran, Zara mengajak Zika ke rumah mertuanya.
"Zara, mami juga kangen sama kamu" peluk Mami Dirga.
"Mi, ini Zika yang aku ceritakan kemarin" ujar Zara mengenalkan Zika.
"Razika" Zika menyambut tangan Mami Dirga sambil mengenalkan diri.
"Ayo, masuk. Zika tidur di kamar depan saja, ya" ujar Mami Dirga membuka pintu kamar yang tidak jauh dari pintu ruang tamu.
" Iya, Tante. Dimana saja, aku senang kok" ucap Zika merasa berterima kasih.
"Calon suami kamu, kerja di mana?" Tanya Mami Dirga kepo.
"Di Jakarta, Tante" jawab Zika.
"Zi, kamu istirahat dulu ya. Pasti capek, kan. Besok pagi siapkan diri untuk bertemu calon mertua" goda Zara tertawa kecil.
"Iya, Mba"
Zara dan Mami Dirga meninggalkan Zika sendirian di kamar tamu.
"Mi, Mami nggak kasih tahu Dirga kan?" Tanya Zara.
"Iya, kamu nggak percaya banget sama Mami" ujar Mami Dirga menjawil pipi menantunya itu.
"Tapi, kasihan banget anak Mami itu. Pasti kangen banget ini sama istrinya" goda Mami Dirga tersenyum.
"Udah buruan ke kamar sana. Nanti Dirga pulang. Mami dan Papi nggak bakalan mengetuk pintu kamar kalian " ujar Mami Dirga menggoda menantunya lagi.
"Ah, Mami" Zara tersipu malu dibuatnya.
Zara lalu menuju kamar Dirga untuk beristirahat sebelum Dirga pulang.