
Tidak terasa kami harus kembali ke Indonesia. Urusan Zika dan Dae sudah selesai. Orang tua Dae juga setuju dengan Zika sebagai calon istrinya. Dae akan konfirmasi kepada orang tua Zika kapan keluarganya akan ke Indonesia untuk lamaran secara resmi.
Tidak banyak barang yang ku kemas ke dalam koper. Dirga akan mengantar aku dan Zika ke bandara. Rasanya berat sekali untuk berpisah. Tapi aku tetap bersyukur karena bisa bertemu dengannya walaupun waktunya singkat.
Dirga menarik badanku ke dalam pelukannya sebelum kami keluar kamar. Pelukan yang erat seolah tak mau berpisah lagi.
'Jangan sampai menangis, Zara' aku hanya membatin sambil membenamkan kepalaku di dada bidangnya.
Aku mengurai pelukan Dirga sambil menatap matanya yang tajam. Ku kalungkan kedua tanganku ke lehernya.
"Sampai kapan kita akan seperti ini? Sampai kapan kita sanggup berpisah terus seperti ini?" Ucapku berharap dia menjawab pertanyaanku.
"Sampai kita sama-sama tidak bisa menahannya lagi. Bersabarlah. Maafkan keegoisanku" ujar Dirga sambil membalas tatapanku.
Sejenak kami pun saling pandang, detik waktu terus berjalan. Tanpa sadar aku menarik tengkuk Dirga dan menciumnya. Di bandara nanti tidak akan ada kesempatan lagi untuk memeluk atau menciumnya. Mendapat kesempatan seperti itu, Dirga malah menyambut ciuman biasa yang ku berikan dengan caranya, dalam, lama dan membuatku sedikit sulit bernapas. Kalau aku tidak cepat menghentikan aksinya, bakalan bisa berlanjut lebih dari itu.
Dirga tersenyum melihatku. "Maaf, aku takut kamu kebablasan. Zika sudah menunggu di luar" ucapku tidak enak karena telah mendorong badannya tadi.
"Harus seperti itu biar hot. Kalau kamu tadi biasa aja" sindirnya.
"Ish, berarti kamu udah sering kissing, ya" tudingku.
"Astaghfirullah, Ra. Sebelum nikah sama kamu, bibirku ini masih virgin tau nggak" elak Dirga.
Aku terkekeh mendengar ucapan Dirga. Lalu terdiam memandang wajah tampannya. Tiba-tiba saja air mataku mengalir tanpa sengaja. Aku tertawa untuk menutupi hatiku yang sedih namun tak bisa ku hindari juga.
"Sayang" panggil Dirga menatapku heran sudah tertawa kok malah menangis.
Aku segera menghapus tetesan air mataku. Agar tidak semakin larut dalam kesedihan yang ku rasakan saat ini di depannya. Dirga menangkup pipiku dengan kedua tangannya.
"Aku akan sangat merindukanmu" ucapku terisak.
"Ssst. Aku juga sangat merindukanmu nanti. Tapi kita harus bersabar. Belive me. Oke" ujar Dirga menenangkanku.
Dirga lalu menarik ku ke dalam pelukannya. Ku peluk erat lagi badannya dan ku benamkan kepalaku ke dadanya karena entah kapan aku bisa memeluk badannya lagi seperti ini.
"Kamu sudah siap berangkat?" Bisik Dirga. Aku menggelengkan kepala.
Dirga mengecup puncak kepalaku. Mungkin dia menahan diri agar tidak menitikkan air mata karena dirinya seorang laki-laki. Laki-laki yang ku cintai ini membiarkanku memeluknya sepuas hati hingga suara ketukan pintu kamar membuatku menguraikan pelukan Dirga.
Tok.Tok.Tok
"Dirga!" Panggil suara Mami dari luar.
"Ayo" ajakku berjalan mau mengambil tas. Baru selangkah berjalan Dirga menggamit tanganku lalu menyosor bibirku.
"Di bandara nanti nggak bisa begini" ucapnya setelah melepas ciumannya. Aku hanya tersenyum. Kok pikiran kami bisa sama.
Dirga lalu mengambil koperku dan kami pun keluar dari kamar.
"Zara, Mami tidak bisa ikut mengantar kalian ya" ucap mertuaku ketika kami berada di luar kamar.
"Iya, Mi. Tidak apa, kok" aku menyalami dan mencium punggung tangan mertuaku.
"Papi tadi udah berangkat kerja. Titip salam saja buat orang tuamu" sambung Mami. Aku pun mengangguk.
"Ya Allah, sedih banget. Mba harus berpisah lagi dengan suami" gumam Zika ikut merasakan sedih.
"Ayo, barang-barang jangan sampai ada yang ketinggalan" sela Dirga mengingatkan.
Dirga kemudian mengantar kami ke bandara. Setelah itu dia langsung ku suruh pulang saja.
"Lho, kenapa Ra? Aku bisa tunggu kamu sampai berangkat" protes Dirga.
"Kamu mau buat aku tambah mewek nanti. Udah, kamu pulang sana. Bukannya kamu ada jadwal kuliah" jelasku dengan tatapan memohon. Aku tidak mau menangis di bandara ini.
"Benar? Nggak apa kalau aku pulang sekarang?" Tanya Dirga kurang yakin.
Aku mengangguk untuk menyakinkannya kalau aku akan baik-baik saja.
"So sweet sekali" ucap Zika melihat kami berdua.
Aku meraih tangan Dirga lalu mencium punggung tangannya. "I will miss you too" balasku.
"Assalamualaikum" ucap Dirga tersenyum sambil melambaikan tangannya. Namun aku tahu di balik senyuman itu tersimpan kesedihan juga bahwa kami pun akhirnya berpisah lagi.
"Waalaikumsalam" balas aku dan Zika.
Aku pun membalas lambaian tangannya. Dirga berjalan pergi meninggalkan kami tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Aku ingin dia cepat pergi agar dia tidak melihatku menangis lagi.
"Mba" tegur Zika yang melihatku masih menatap Dirga yang semakin lama semakin menjauh dan tidak terlihat lagi sosoknya.
Aku menoleh melihat Zika dengan air mata yang sudah banjir di pipi. Zika pun terharu sampai ikut menitikkan air mata.
"Maaf ya, Zi. Berpisah dengan orang yang kita cintai ternyata sangat menyiksa sekali" ucapku sambil menghapus air mataku.
"Iya, Mba. Aku tahu kok rasanya perih sekali. Semoga aja Mba nggak lama LDR-an dengan Dirga" ujar Zika tersenyum.
Kami pun akhirnya terbang meninggalkan Korea. Aku tidak tahu kapan bisa kembali ke Korea lagi menemuinya ataukah dia yang akan menemui ku.
Keesokan harinya
"Wah, yang baru pulang dari Korea. Wajahnya sumringah sekali" sindir Ayumi melihat kedatanganku memasuki ruangan guru.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Senangnya udah ketemu sama suami tercinta" goda Bu Rida.
"Ah, Bu Rida bisa saja. Ya senanglah Bu, masa sedih" balasku tersipu.
"Gimana, pertemuan anak Bu Hasanah dengan calon mertuanya di sana?" Tanya Ayumi antusias.
"Ealah, kirain kepo pertemuanku dengan suami" aku terkekeh.
"Ogah, ntar bikin mupeng. Suami belum ada. Mendingan kepoin anak Bu kepsek aja. Ya nggak, Bu Rida?" Lirik Ayumi ke arah Bu Rida.
"Iya. Lagian kamu Yum, kapan mau married. Jangan kebanyakan memilih nanti tambah berumur" ujar Bu Rida mengingatkan.
"Ah, ibu. Kok jadi membahas aku, sih" sungut Ayumi tidak suka.
"Gimana, Za. Ceritain dong" lanjut Ayumi melihatku.
"Ya, nanti orang tua si Dae, calon suami Zika akan datang ke Indonesia untuk melamar langsung" ceritaku.
Tet.Tet.Tet.
Suara bel masuk berbunyi. Semua guru yang ada jam pertama mulai beranjak masuk ke kelas masing-masing.
"Yum, kamu nggak masuk kelas?" Tanyaku.
"Nggak, jam ketiga nanti. Kamu juga bum masuk, kan?" Ayumi balik bertanya. Aku hanya mengangguk.
"Dirga pasti senang banget ketemu sama kamu, iya kan?" Goda Ayumi.
Aku hanya senyam-senyum saja menanggapi ucapannya.
"Iya, tapi sedih lagi karena harus berpisah lagi" gumamku.
"Begitulah resikonya, Za. Harus kuat menahan rindu. Harus saling percaya juga. Itu yang lebih penting" ujar Ayumi mengingatkanku.
Apa yang Ayumi bilang memang benar. Keputusan itu sudah kami ambil bersama dan harus menanggung resikonya bersama-sama. Aku percaya dengan Dirga di sana.