My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 16: Galau



Zara POV


Satu bulan berlalu kami lewati bersama kehidupan rumah tangga dengan jarak jauh begini. Hanya melalui ponsel kami bisa melepas rindu. Dengan mendengar suaranya, melihat senyum dan tawanya rindu ini sedikit terobati.


Ya Allah, aku harus menunggu satu tahun lagi. Semoga Dirga cepat menyelesaikan kuliahnya agar kami bisa berkumpul bersama di Indonesia.


Aku masih teringat ucapannya ketika kami pertama kali tidur di atas ranjang yang sama.


Flashback on


Pillow talk dilakukan Dirga ketika kami tidur bersama agar tidak membuat ku bertambah gugup. Sumpah, walaupun usia ku lebih tua darinya jantung ku seperti mau keluar dari tempatnya ketika dia bersikap romantis seperti pasangan kekasih di dalam drama Korea.


"Ra, kamu itu sumber semangat buat ku" ujarnya di samping ku sambil menatap langit-langit kamar.


"Masa, sih. Emang kamu pernah nggak semangat?" Selidik ku meliriknya.


Dirga mengangguk tersenyum. "Kapan?" Tanya ku sambil melihatnya lagi.


"Waktu aku dengar gosip kalau kamu mau menikah dengan Pak Farhan. Sejak itu, niat ku yang awalnya ingin kuliah di Indonesia jadi berbalik ingin kuliah di Korea agar aku bisa melupakan mu" jawab Dirga menoleh ke samping, menatap manik ku.


Ya Allah, Dirga. Aku pun menatapnya tidak berkedip.


"Jadi benaran kamu waktu itu emang suka sama aku, guru kamu sendiri?" Tanya ku tidak percaya.


"Iya. Kamu aja yang cuek, nggak tau apa kalau aku selalu ngasih sinyal" jawab Dirga cemberut lalu memalingkan wajahnya.


"Kita itu beda status, Ga. Kamu murid ku dan aku guru kamu, dalam bayangan ku nggak mungkin juga  cinta beneran sama gurunya apalagi sampai mau ngajak nikah. Makanya aku nggak mau menganggap serius ucapan kamu waktu itu" sanggah ku.


"Tapi kepikiran juga, kan?" Goda Dirga sambil mengacak-acak rambut ku.


"Aaaa, Dirga !!" Aku berteriak kesal karena rambut ku berantakan karena  ulah Dirga.


Aku pun bergerak mau membalas Dirga dengan mengacak-acak rambutnya juga. Namun Dirga segera menangkap tangan ku.


Aku tersenyum smirk melihat Dirga yang tidak mau mengalah. Aku kemudian melancarkan serangan ku dengan menggelitik pinggang Dirga. Alhasil, Dirga pun menggeliat kegelian.


"Ra, udah...udah" pinta Dirga tidak bisa menahan rasa geli.


"Nggak bisa!! Sini" Aku masih bersih keras mau mengacak rambut Dirga. Dirga lalu menepis tangan ku sementara tangan satunya menarik pinggang ku hingga aku jatuh ke pelukannya dan bibir ku tepat sekali menyentuh bibir Dirga.


Mata ku membulat, masih dengan posisi yang sama. Dirga terpaku menatap ku dengan bibir yang masih menyatu. Jantung ku seakan mau melompat keluar. Sentuhan pertama yang dia berikan di sana, Dirga menyambut accident tidak disengaja itu dengan senang hati. Mana berani aku mau memulainya lebih dulu. Malu tau nggak. Dirga menarik selimut menutupi badan kami berdua untuk melanjutkan accident tadi lebih lama lagi. Perang kehangatan pun di mulai.


Flashback off


Ah, aku juga jadi kehilangan semangat jika tidak ada Dirga di sini. Walaupun sikapnya terkadang sok cool di luar sana tapi bila di dalam rumah bersama ku atau keluarganya ternyata dia begitu hangat.


Di sekolah


Ayumi berjalan mendekati meja kerja ku, dia mungkin tahu aku tampak lesu sedang duduk menunggu bel masuk.


"Hey, kenapa kamu? Lesu amat. Udah ngisi, ya?" Tegur Ayumi duduk di hadapan ku.


"Isi apa? Orang nggak ketemu-ketemu juga, gimana mau berhasil" sungut ku.


"Kalau menurut ku, bagusnya kamu jangan punya anak dulu" saran Ayumi.


"Kenapa?" Tanya ku heran. Orang kalau udah nikah, punya anak itu tujuannya untuk meneruskan keturunan keluarga.


"Kalau kamu hamil sekarang justru akan menjadi beban Dirga. Di sana dia akan kepikiran kamu dan calon anaknya terus. Akhirnya akan mengganggu konsentrasi dan kuliahnya. Bisa-bisa tambah lama selesai kuliahnya" jelas Ayumi.


'Nih, anak walaupun belum nikah tapi sarannya benar juga' batin ku.


Aku akan mempertimbangkan saran Ayumi.  Tapi aku juga tidak mau memakai alat kontrasepsi atau sejenisnya untuk menghindari itu. Usia Dirga masih muda tapi bagaimana dengan ku, kalau aku menunda untuk hamil ?