
ZARA POV
Sambil menyusuri pantai Eurwangni di Incheon yang tak pernah sepi ini, Dirga menggenggam erat jari jemari tangan ku. Jantung ku masih saja berdebar ketika merasakan sentuhan tangannya. Kaki ku yang berbalut kaos kaki sesekali tersapu ombak pantai, sementara dia hanya bertelanjang kaki. Tubuhnya yang jangkung berada di samping ku membuat kami terlihat seperti adik dan kakak. Bagaimana tidak tinggi badan ku hanya sebatas pundaknya.
Beberapa pasang mata perempuan yang juga menikmati suasana pantai pun melirik kami. Ah tidak, tepatnya melirik laki-laki tampan yang sedang menggandeng tangan ku itu. Wajah bening Dirga bak aktor Korea itu menarik perhatian mereka. Kalau dia selebritis sudah pasti jadi idola, bukan seleb aja sewaktu SMA banyak yang ngefans sama Dirga. Untungnya suami ku itu bukan tipe laki-laki yang suka tebar pesona.
Sebentar lagi sunset akan terlihat, banyak wisatawan yang berkunjung hanya untuk menyaksikan sunset di pantai Eurwangni.
Dirga melepas genggamannya lalu memeluk pinggang ku. Aku kaget beraninya dia memeluk ku di tengah keramaian.
“Dirga” aku mendongak melihatnya."Malu, tau nggak” bisik ku.
“Ngapain malu, orang udah halal juga” katanya cuek, dia malah mengeratkan pelukannya.
Kami memang telah melangsungkan pernikahan selama Dirga liburan di Indonesia. Dua hari setelah akad nikah Dirga memboyong ku ke Seoul. Honeymoon di kota kelahiran maminya. Tidak ada yang menyangka bahwa aku, Zara Fathiyah akan berjodoh dengan mantan murid ku sendiri, Dirga Jaehwa.
Aku mencubit pinggangnya. Dia mengaduh kesakitan. Aku lalu berlari melepaskan pelukan tangannya. Sudah ku pastikan kalau dia akan membalas ku.
“Eh...mau lari ke mana?” teriaknya sambil mengejar ku.
Berlari di atas pasir memang tidak bisa cepat, Dirga berhasil meraih tangan ku lalu menarik ku ke dalam pelukannya. Netra kami pun bertemu. Tatapan matanya membuat jantung ku berdebar kencang. Aku meletakkan kedua telapak tangan ku di dadanya bisa ku rasakan juga debaran jantungnya begitu kuat.
Dirga mendekatkan wajahnya, kurasakan hembusan nafasnya.
“Eh...itu sunsetnya mulai nampak” tunjuk ku menghindari wajahnya, menggagalkan aksinya yang mau mencium ku.
Ku lihat dia tersenyum malu ikut melirik tangan ku yang menunjuk ke arah sunset.
“Kita lanjutkan di kamar saja, jangan di sini. Malu tau nggak” bisik ku tak mau membuatnya kecewa.
Dia hanya tertawa kecil kemudian merangkul pinggangku lalu kami sama-sama menghadap ke arah sunset. Beautiful.
“Sayang” panggil Dirga sembari menikmati indahnya sunset.
“Aku kok, belum pernah mendengar kamu membalas ucapan cinta ku” liriknya.
Rupanya dia penasaran sekali. Sebenarnya aku malu untuk mengucapkannya. Tanpa diucapkan dia harusnya tahu kalau aku sangat mencintainya.
“Aku kan, udah menerima lamaran kamu apa masih kurang bukti” kata ku coba mengelak.
Aku tahu arah pembicaraannya. Dirga tidak mau menyerah, dia tetap akan berusaha sampai aku mau mengucapkan kata itu.
Ku lihat Dirga memanyunkan bibirnya. Aku tersenyum geli melihat wajah manyunnya. Childish banget tapi tetap terlihat tampan sekali suami ku itu.
Setelah akad nikah Dirga mengucapkan kata I love you kepadaku namun aku hanya tersenyum malu bukannya membalas ucapannya. Baiklah. Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku berpindah posisi kini berada di hadapannya.
“Saranghae, suami ku” ucap ku mendongak menatapnya.
Netra kami pun bertemu. Dia tertawa lalu menjawil hidung ku.
“Pake bahasa Korea segala” katanya tersenyum melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ku.
“Kita kan, lagi di Korea” ucap ku cekikikan sambil menahan malu.
Karena sebelum ke Korea aku sempat browsing bahasa Koreanya aku mencintai mu. Biar nggak malu-maluin.
“Nado saranghae” balas Dirga.
“Ah, aku tahu artinya, aku juga mencintai mu benar, kan?”Dirga lalu memencet hidung ku.
“Kamu bisanya cuma itu aja, kan” ledek Dirga. Aku tertawa sambil membalas memeluknya.
Seberapa kuat engkau menghindari perasaan cinta yang hadir, jika sudah takdir cinta itu akan bermuara ke tempat yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Sejatinya tidak ada yang tahu dia akan berjodoh dengan siapa.
🍂🍂🍂