
ZARA POV
Terakhir aku melihat Dirga ketika perpisahan kelas XII, itu pun aku curi-curi pandang. Dia tampak keren dengan jas hitamnya. Jantungku dag dig dig teringat kembali ucapannya bahwa dia mencintai ku. Aku tersenyum sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta dengan gurunya sendiri.
Aku sudah memberi jawaban kepada Pak Farhan. Semoga itu yang terbaik. Aku sudah istiqoroh beberapa kali dan jawabannya selalu sama, selalu bayangan Dirga yang muncul. Aku tidak pernah bermimpi tentang Pak Farhan meskipun ada rasa kagum dengannya.
Siswa kelas XII sudah tidak hadir lagi ke sekolah setelah pengumuman kelulusan mereka. Setiap hari minggu, aku meluangkan waktu ke Korean Food. Itu pun ada pesanan mama yang suka banget sama kimbap karena pernah suatu hari aku bawa ke rumah. Lalu beliau ketagihan.
“Mau pesan kimbap, nak Zara?” sapa bapak-bapak menghampiri ku.
“Kakek” aku tersenyum melihatnya.
Entahlah aku selalu disapa kakek Dirga setiap berkunjung. Lantas ke mana anak itu, kok tidak kelihatan batang hidungnya setiap aku ke sini.
“Iya kek seperti biasa. Satu porsi dibungkus untuk mama di rumah”
“Oya, ini ada titipan dari Dirga” ujar kakek Zahid meletakkan amplop di atas meja.
“Surat?” tanya ku. Kakek mengangguk.
“Bacalah di rumah”
“Iya, Kek”
Setelah menyantap kimbap pesanan ku, aku bergegas pulang. Entah kenapa kimbap yang ku rasakan selama ini sangat lezat tiba-tiba aku tidak berselera menghabiskannya.
Sampai di kamar aku segera membuka surat dari Dirga. Ya Tuhan. Dia sudah tidak ada di Indonesia lagi.
“Selamat atas keputusan mu menerima laki-laki yang sepadan dengan mu. Aku bukanlah siapa-siapa dan tidak bisa menjanjikan apa pun. Biarlah aku membawa pergi rasa cinta ku, paling tidak diri mu tahu bahwa aku mencintai mu”
Penggalan surat darinya membuat airmata ku menetes.
“Apa kau tidak ingin tahu jawaban ku. Kenapa pergi begitu saja?” isak ku mendekap surat darinya.
***
“Kenapa Dirga mengirim surat ? Dia kan bisa mengirim pesan lewat ponsel, kek” tanya ku ketika berkunjung lagi ke Korean Food.
“Dia sudah menghapus nomor nak Zara, Dirga tidak mau nantinya mengganggu istri orang” Ya Tuhan, dia sudah salah menduga.
“Istri siapa? Aku belum menikah, kek” jelasnku.
Kakek terlihat terkejut dan tidak percaya dengan jawaban ku.
“Kek, teman kerja ku Farhan memang telah menikah tapi dengan Azizah Zahra yang dipanggil Zara juga, bukan aku Zara Fathiyah.” lanjut ku.
Kakek tersenyum mendengar penjelasan ku. “Nak Zara menolak Farhan karena mencintai...”
Aku mengangguk mengerti maksud kakek.
“Tapi sudahlah kek, biarkan Dirga belajar dengan tenang di sana. Aku akan menunggunya pulang” kata ku menyakinkan.
Lagi pula aku tidak mau pacaran. Biarkan saja seperti ini. Jika dia memang jodoh ku, kami pasti akan bersatu.
***
DIRGA POV
“Apa kek, benarkah? Jadi dia juga mencintai ku” tanya ku tidak percaya ketika kakek menelpon ku.
“Kamu belajar sana yang rajin biar cepat selesai kuliahnya” pesan kakek.
“Kakek ada nomor Zara?” tanya ku.
“Nggak ada, salah sendiri kenapa nomornya langsung dihapus” ledek kakek.
“Ayolah kek, pasti kakek ada nomornya, Zara kan sering delivery” bujuk ku.
“Baiklah”
Sambungan telpon dari kakek terputus. Aku benar-benar bahagia. Seperti mendapatkan suntikan energi, ku jalani hari-hari dengan semangat. Cinta ku ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Tiga tahun berlalu.
Sambil kuliah aku menjadi asisten dosen. Sebenarnya kehidupan ku di Korea sangat berkecukupan karena tinggal bersama kedua orang tua ku. Uang hasil kerja ku sebagai asisten dosen ku tabung, persiapan ku untuk melamarnya. Tiga tahun tidak bertemu bahkan mendengarkan suaranya benar-benar membuat ku gila.
Ku putuskan liburan ini pulang ke Indonesia. Mami ikut juga karena kangen dengan kakek dan mau bertemu juga dengan calon menantunya.
Kata kakek, Miss Zara setiap minggu rutin ke Korean Food. Benar saja, kebiasaannya tidak hilang meskipun aku tidak ada di sini. Aku melihat menu pesanannya dari Ian salah satu waiters. Hmm menunya masih saja kimbap. Hobi banget. Aku tersenyum.
Selesai membuat kimbap, aku membawakan sendiri pesanannya. Aku mau membuat kejutan untuknya.
“Kimbap dan jus jeruk sudah siap” ujar ku berdiri di sampingnya.
Dia mendongakkan kepala, Miss Zara menutup mulutnya tidak percaya melihat ku ada dihadapannya. Wajahnya tidak berubah sama seperti tiga tahun yang lalu. Cantik alami tanpa polesan make up. Ya, wajah seorang guru memang tampak awet muda, seolah wajah muridnya lah yang menua.
“Mau dimakan atau dilihatin saja” kata ku menatapnya. Aku benar-benar merindukannya.
Dia tersipu malu. “Kamu sedang apa di sini? Bukannya...”
“Libur...kangen mau bertemu seseorang makanya pulang” dia terlihat salah tingkah. Aku tersenyum geli melihatnya.
“Kamu yang buat atau kakek?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Dia mengambil satu kimbap lalu memakannya.
“Tebak aja siapa yang buat?”
“Ini bukan buatan kakek” ujarnya tersenyum.
Hebat dia benar-benar penggemar kimbap sampai bisa membedakan rasa kimbap buatan ku dan kakek.
“Menikahlah dengan ku, aku akan membuatkan mu kimbap setiap hari”
“Apa kau sedang melamar ku?” tanyanya.
Aku mengangguk. Aku mengeluarkan cincin pemberian mami. Cincin ketika papi melamar mami. Mami mewariskan cincinnya untuk calon istri ku nanti.
Dia tampak terkejut. “Bagaimana dengan kuliah mu?” tanyanya.
“Aku di sana kuliah sambil menjadi asisten dosen. Satu tahun lagi target ku lulus kuliah”
“Kalau begitu tunggulah satu tahun lagi” katanya.
“Kamu mau membuat ku terus berbuat dosa dengan terus memikirkan mu. Paling tidak ketika aku wisuda nanti sudah ada kekasih halal yang menemani ku”
Dia tersenyum. Ku lihat pipinya merah. Lalu dia meraih cincin yang ku berikan dan memasukkan cincin ke jari manisnya. Aku tersenyum bahagia itu artinya dia menerima lamaran ku.
“Lalu, kapan kamu mau menemui kedua orang tua ku?” tanyanya.
“Besok saja” kata mami menghampiri kami.
Aku memang mau mengenalkan mami dengan Miss Zara.
“Mami ku” ujar ku mengenalkan kepadanya. Karena ku lihat wajahnya tampak bingung.
“Saya Zara, Tante” dia mencium punggung tangan mami.
“Mumpung Dirga masih libur, lebih cepat lebih baik. Iya kan, Zara” lirik mami.
“Oh...saya pikir Dirga mau menyelesaikan kuliahnya dulu tante”
“Satu tahun lagi menunggu, anak mami ini bisa gila” ledek mami tertawa sambil melihat ku.
Miss Zara tertawa kecil. Sialan bisa-bisanya mami membuat ku malu di depannya.