
Mertua Dirga tidak menyangka bahwa menantu kesayangannya itu akan pulang tanpa mengabari mereka terlebih dahulu.
"Coba kalau kamu bilang, Mama akan masak masakan spesial buat kamu," omel Mama Zara ketika mereka sedang makan malam.
"Begini saja udah enak kok, Ma. Aku nggak mau Mama dan Zara repot-repot," jelas Dirga memberitahu alasannya. Dirga tahu kebiasaan mertuanya, kalau dia datang Mama Zara akan sibuk buat ini dan itu.
"Mami dan Papi kamu sehat, Ga?," tanya mertuanya.
"Alhamdulillah. Mami dan Papi titip salam buat Mama dan Papa," jawab Dirga.
"Waalaikumsalam," balas Mama dan Papa Zara serempak.
"Meskipun sekarang Zara sedang hamil, kamu tidak usah sering-sering pulang. Sayang, uangnya ditabung saja untuk lahiran anak kalian nanti," saran Papa Zara. Biaya pulang pergi ke Korea sudah habis uang berapa, bukannya murah. Apalagi status Dirga yang masih kuliah tentulah pengeluaran bertambah banyak. Kondisi seperti itu harus bisa mengatur keuangan dengan benar.
"Iya, Ga. Kamu nggak usah khawatir. Ada Mama dan Papa di sini yang akan menjaga Zara," timpal Mama Zara ikut mendukung ucapan suaminya.
Dirga menoleh ke arah Zara. Dia jadi merasa tidak enak, sebagai seorang suami seharusnya dialah yang menjaga Zara. Namun apa daya keadaan yang tidak mengizinkan hal itu.
"Iya, Ma. Maaf belum bisa menjadi suami yang optimal buat Zara," ucap Dirga merasa sedih. Tidak seharusnya dia menjadi beban orang lain.
"Papa dan Mama bisa mengerti dengan kondisi kalian. Papa percaya dengan kamu, makanya kami tidak melarang Zara menikah dengan kamu yang masih kuliah itu," ujar Papa Zara tersenyum.
"Terima kasih, Pa." Dirga jadi malu sendiri. Dia memang nekad, sudah berani melamar Zara sebelum menyelesaikan kuliahnya. Namanya juga cinta, takut Zara diambil orang lain.
"Pa, Ma. Dirga di sini hanya dua minggu. Rencananya satu minggu ke depan kami mau menginap di rumah kakek," sela Zara memberitahu kedua orang tuanya.
"Dirga mau bantu kakek kerja di resto?," tanya Papa Zara menatap menantunya.
"Iya, Pa. Sekalian begitu, sih," jawab Dirga.
"Nggak harus menginap di sana juga. Kamu kan bisa pergi ke resto dari sini sekalian mengantar Zara pergi kerja. Iya, kan?," ucap Papa Zara yang mengisyaratkan bahwa beliau tidak mengizinkan rencana Dirga.
Dirga hanya diam. "Kalau kamu memang maunya begitu. Ya, Papa dan Mama tidak akan melarang," sambung Papa Zara melihat menantunya hanya diam saja.
"Udah, nanti saja bahas masalah itu sambil makan. Kok, malah ngobrol terus," sela Mama Zara.
Selesai makan malam dan membereskannya, Zara melihat Dirga sedang mengobrol dengan Papanya di ruang keluarga.
"Ra, Dirga kapan selesai kuliahnya?," tanya Mama Zara sambil merapikan peralatan dapur di rak piring.
"Tahun ini Insya Allah wisuda, Ma. Kemungkinan aku juga nggak bisa ke Korea, Dirga tidak mengizinkan karena aku sedang hamil," jawab Zara.
"Syukurlah kalau begitu. Jadi kamu lahiran, Dirga sudah ada di sini," ucap Mamanya merasa lega. Zara pun hanya menganggukkan kepala.
Keesokan harinya
Selesai sarapan Zara kembali ke kamar untuk berganti pakaian kerja. Dirga pun mengiringinya masuk ke dalam kamar.
"Mobil di bawa Papa dan Mama kerja. Jadi kamu mengantar aku pake motor aja. Nggak apa, kan?," toleh Zara sambil berjalan menuju ke lemari pakaian.
"Nggak apa. Nanti kita ambil mobil di rumah kakek. Motor kamu titip di sana saja," ujar Dirga tidak masalah.
"Pulang nganter kamu, aku langsung ke resto, ya. Kita nggak usah menginap di sana," sambung Dirga sambil mengamati istri sedang memakai jilbab di depan cermin.
"Lho, jadi kamu setuju dengan ucapan Papa?," toleh Zara.
Setelah selesai berdandan, Zara kemudian berjalan mendekati Dirga.
"Makasih, Ga. Kamu pengertian sekali," ucap Zara mengelus pipi mulus suaminya.
"Aku tidak mau mengecewakan Mama dan Papa kamu," balas Dirga mengambil tangan Zara di pipinya lalu mencium bibir Zara. Sejenak Zara merasakan sentuhan itu. Dirga melepas ciumannya lalu menatap Zara.
"Ayo, nanti aku terlambat," ajak Zara tersenyum malu.
Dirga pun jadi salah tingkah sendiri. Setiap melihat bibir Zara dari dekat, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.
Mereka pergi naik motor. Zara pun duduk menyamping sambil melingkarkan tangannya ke perut Dirga.
"Jangan ngebut bawanya," pesan Zara.
"Aku bukannya brandalan, Ra," protes Dirga sambil menstarter motor. Zara hanya tertawa kecil mendengarkan ucapan Dirga.
Dirga membawa motor dengan kecepatan 40. Hanya dua puluh menit perjalanan menuju ke sekolah itu pun kalau tidak terjebak macet.
Baru kali ini Zara berboncengan motor dengan seorang laki-laki yaitu suaminya. Dirga pun melirik tangan Zara yang melingkar di perutnya. Dirga tersenyum sambil fokus membawa motor Zara.
Tiba di depan pintu gerbang sekolah, para siswa yang berjalan melintasi mereka tampak menoleh melihat Zara turun dari motor dibonceng cowok ganteng seperti Dirga.
"Eh, itu Mam Zara dianter siapa, ya?," bisik salah satu murid perempuan.
"Adiknya kali atau kakaknya," jawab yang lainnya.
"Ah, nggak mungkin cowok itu adik atau kakak Mam Zara, mukanya kayak orang Korea begitu. Beda banget kan dengan Mam Zara," timpal yang lain.
Dirga pun memutar motornya dan pergi meninggalkan sekolah tempat Zara mengajar. Zara berjalan menghampiri beberapa siswi yang melihatnya dengan tatapan heran.
"Mam Zara," panggil salah satu dari siswi tersebut.
"Ada apa, Dewi?," Zara menghentikan langkahnya dan menyapa beberapa siswi yang ada di sana.
"Mam Zara diantar siapa tadi?," tanya mereka kepo karena yang mengantar Zara tadi cowok ganteng kayak aktor Korea.
"Yang tadi?," ujar Zara tersenyum geli.
"Iya, Mam," ucap mereka serempak.
"Cowok yang mengantar Mam tadi itu adalah suami Mam," jawab Zara.
Dewi dan beberapa siswi lainnya melongo tidak percaya. Karena memang wajah Dirga masih muda, nggak kelihatan kayak bapak-bapak.
"Mam Zara bercanda, kan?," Ucap Dewi tidak yakin.
"Ya Allah, Dewi. Benaran dia suami Mam, namanya Dirga. Dia alumni sekolah ini, lho. Kalau nggak percaya kalian boleh tanya guru lain, Bu Ayumi," jelas Zara.
"Benaran, Mam?. Mam Zara pernah mengajar suami, Mam?," tanya siswi lain.
Zara hanya mengangguk tersenyum. Karena bel masuk sudah berbunyi, Zara dan para siswinya membubarkan diri. Begitulah kedekatan Zara dengan murid-muridnya, sudah seperti teman saja kalau di luar kelas.
Mereka berani bertanya bahkan berkonsultasi masalah pribadi kepadanya. Padahal sudah ada guru bimbingan konseling. Meskipun tidak menjadi wali kelas, Zara tetap bisa dekat dengan para siswa dan siswinya.