My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 13: Kena Sindir



Sudah lima hari aku di Seoul, di rumah mertua ku. Besok aku akan kembali ke Indonesia, itu artinya aku akan berpisah dengan Dirga. Waktu liburnya tidak lama. Lagi pula tidak mungkin kan, dia mengantar ku ke Indonesia terus balik lagi ke Korea. Buang-buang uang saja kalau begitu. Jadi dengan berat hati ku putuskan untuk pulang sendirian saja.


Aku duduk di atas ranjang sambil menatap wajah Dirga yang masih terlelap tidur di samping ku dalam balutan selimut tebal. Wajahnya semakin dewasa kok semakin tampan saja. Aku jadi tersenyum sendiri melihat wajahnya.


Sambil menunggu waktu subuh, lebih baik aku merapikan pakaian yang akan ku bawa kembali ke Indonesia. Aku pun beranjak dari atas ranjang.


"Hei, mau ke mana?" Tiba-tiba tangan Dirga memeluk pinggang ku. Aku meliriknya, ku lihat matanya masih terpejam.


'Apa dia bermimpi?'


Aku lantas mengabaikannya sambil berusaha melepaskan tangannya dengan pelan dari pinggang ku.


"Tetaplah di sini" gumam Dirga.


"Dirga" aku mengibaskan tangan ku di depan wajahnya.


"Kamu sudah bangun?" Ucap ku lagi.


"Hmm"


Ck. Apa dia sudah bangun dari tadi ? Aku memandang wajahnya yang masih mata terpejam.


"Ayo,tidur lagi di sini" gumam Dirga sambil menarik badan ku hingga terjatuh di sampingnya.


"Ga, bentar lagi subuh lho. Aku nggak mau ketiduran" tolak ku.


Dirga seolah tidak mendengarkan ucapan ku. Dia mengurung ku ke dalam pelukannya. Hingga hangat menjalar ke seluruh tubuh ku.


"Aku akan merindukan moment seperti ini bersama mu" bisik Dirga ke telinga ku.


Ya Allah, hati ku berdenyut. Besok kami akan berpisah untuk sementara waktu. Lagian, kenapa juga dia mau mengambil kuliah di Korea segala.


Mau tak mau aku membiarkan Dirga memeluk ku sepuas hatinya. Karena aku pun akan merindukan pelukan hangat darinya.


***


Sarapan pagi sudah siap di meja makan. Semua mami Dirga yang membuatnya. Ugh, aku malu sekali. Semua gara-gara Dirga sih, karena dipeluknya tadi, kami jadi kebablasan tidur lagi dan akhirnya bangun kesiangan.


Dirga senyum-senyum melihat ku duduk di meja makan. Aku hanya memanyunkan bibir ku membalas tatapannya.


"Zara, besok jadi kan pulang ke Indonesia?" Tanya Mami mertua ku sambil melirik Dirga, anaknya.


"Ya, harus pulang Mi. Zara udah harus kerja lagi" jawab ku.


"Hmm. Bakalan ada yang rindu berat ini" sindir mertua ku sambil melihat Dirga.


Ku lihat Dirga membuang muka karena malu telah diledek Maminya. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.


"Resiko, karena udah nggak tahan mau nikah sama Zara" timpal Papi mertua ku.


Nah lho, anak kesayangan diserbu oleh Mami dan Papinya sendiri. Aku hanya menahan diri agar tidak tertawa lagi. Ku lihat Dirga sedang melirik ku dengan tatapan seolah berkata 'Suka ya lihat suami disindir'.


"Iya, sindir terusss" ucap Dirga malu sendiri.


Mami dan Papinya terkekeh mendengar ucapan Dirga.


"Sebelum memutuskan untuk menikah. Kalian sudah tahu kan, konsekuensinya. Dirga belum lulus kuliah di Korea sementara Zara pegawai negeri di Indonesia. Resikonya harus kalian hadapi berdua" ucap Papi Dirga menatap kami berdua.


Selesai sarapan Papi dan Mami pergi bekerja. Kini tinggal kami berdua di rumah. Aku dan Dirga saling bantu membersihkan rumah. Tugas ku mencuci piring, menyapu dan mencuci pakaian. Sementara mengepel bagian Dirga. Dia ternyata sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sejak usia remaja. Selesai mengepel, Dirga ke dapur lalu membuka kulkas mencari bahan untuk membuat menu makan siang kami.


Huh. Aku menghembuskan nafas ku. Capek banget. Selesai sudah tugas ku menjemur pakaian hari ini. Masuk ke dapur melihat Dirga juga hampir selesai memasak.


Kerennya suami ku kalau lagi masak begitu. Aku senyum-senyum sendiri.


"Kenapa ? Kamu kok senyum-senyum begitu. Terpesona, ya" tegur Dirga.


Ups. Aku ketahuan sedang memperhatikannya. Aku hanya tertawa kecil lalu menghampirinya.


"Iya, tapi sedikit" balas ku bercanda.


Dirga memanyunkan bibirnya. Aku tuh sebenarnya malu karena tidak mahir urusan dapur. Apalagi kalau soal memasak, aku nyerah banget.


Sejak kecil orang tua ku tidak membiasakan anaknya untuk bantu-bantu di dapur. Mama ku malah menyuruh ku untuk belajar saja. Pembantu juga ada di rumah. Jadi secara tidak langsung beliau sudah memanjakan ku.


"Selesai!" Dirga memindahkan masakannya dari panci ke mangkuk.


Aku bertepuk tangan untuknya. Sesuatu banget deh kalau lihat cowok pinter masak. Dirga merapikan kembali peralatan dapur dan membersihkannya. Ketika aku mau membantunya, tangan Dirga menahan ku agar tetap di tempat dan tidak mengganggunya. Ketika Dirga  keluar dari dapur, aku mengekor di belakangnya.


"Ra, kamu ngapain jalan di belakang ku?" Ujar Dirga sewot.


Aku hanya cengengesan saja melihatnya. Dirga beralih duduk di sofa ruang keluarga lalu tangannya meraih remote tv. Televisi pun menyala.


Aku pun ikutan duduk di sampingnya. Tapi tidak melihat ke arah televisi.


"Ga!" Panggil ku.


"Hmm" sahutnya dengan tatapan masih fokus ke arah televisi.


"Aku nggak bisa masak, kenapa masih mau menikah dengan ku?" Tanya ku.


"Aku cari istri, bukan koki" jawabnya cuek tanpa melihat ke arah ku.


"Kamu nggak malu?" Tanya ku lagi biar puas.


Dirga mengecilkan volume televisi kemudian meletakkan remote televisi itu di atas meja. Pandangannya beralih ke arah ku yang duduk di sampingnya.


"Aku yang akan melayani mu dengan sepenuh hati" tatap Dirga.


Huaaa. Aku melayang-layang mendengarkan ucapannya. Dirga mengangkat dagu ku agar melihatnya.


"Kamu itu Ratu ku, bukan budak ku" ucapnya sembari menempelkan bibirnya ke bibir ku.


"Dasar, Raja gombal!!" aku mendorong badannya lalu berdiri ingin menjauh darinya.


Baru satu langkah kaki, Dirga tiba-tiba mengangkat badan ku.


"Aaaa!! Dirga, turunkan!!" Teriak ku kaget.


"Sekarang, sang Ratu harus melayani si Raja gombal ini" ujar Dirga tertawa lepas sambil menggendong ku masuk ke dalam kamar.


Aku tersipu malu sambil melingkarkan tangan ku ke lehernya. Dirga pun menutup rapat pintu kamar dengan kakinya.