My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 21: Dae Hyun



Zara POV


Keesokan hari


Aku dan Dirga bersiap-siap untuk pergi menemani Zika ke rumah calon mertuanya.


"Nanti kamu yang bicara dengan orang tua Dae" ucapku sambil mengenakan jilbab di depan kaca towalet.


"Kok, aku udah kayak bapak-bapak yang udah mau menikahkan anaknya saja" ujar Dirga sambil memperhatikanku.


"Kamu kan, nanti akan menjadi seorang Bapak juga" timpalku selesai menyemat bros di jilbabku.


"Hm. Selama kamu masih di sini, kita banyak kesempatan untuk mewujudkannya" Dirga sudah mendekatiku dan memelukku dari belakang.


"Ga, aku..." aku membalikkan badanku hingga menghadap Dirga.


"Ada apa?" Tatap Dirga bertanya sambil tersenyum.


"Bagaimana kalau kita tunda dulu untuk memiliki anak. Jika setelah pulang dari Korea, aku belum juga hamil" ucapku ragu sambil menunduk, aku tidak berani menatap manik Dirga. Dirga cukup terkejut mendengarkan ucapan ku.


'Apa alasan yang membuat Zara berpikiran begitu' batin Dirga.


Dirga lalu mengangkat daguku agar aku dapat menatap wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Dirga tanpa senyuman lagi di wajahnya.


"Aku..." Aku tidak berani untuk melanjutkan ucapanku ketika melihat perubahan ekspresi wajah Dirga.


"Aku tidak mau menjadi pikiran kamu, Ga. Selagi kita masih belum satu rumah, lebih baik..." Aku menggantung lagi ucapanku karena jari telunjuk Dirga sudah menempel di bibirku.


"Sssst. Aku tidak setuju. Aku ingin cepat punya anak bersama kamu. Apa kamu tidak mau?" Ucap Dirga lalu menarik ku ke dalam pelukannya.


Hatiku sangat terharu mendengarkan ucapannya. Aku juga mau kalau dia tidak merasa terbebani karena jarak yang memisahkan kami.


"Jika Allah percaya menitipkan amanah-Nya kepada kita lebih cepat. Kenapa harus takut. Aku akan sangat bahagia menerimanya" lanjut Dirga.


Aku mengurai pelukan Dirga "Iya, aku mau"ucapku menatapnya. Ah, ternyata sikap Dirga lebih dewasa dibandingkan denganku.


"Ayo, kita keluar. Zika pasti sudah lama menunggu" ajak Dirga menggandeng tanganku. Aku pun mengangguk setuju.


"Ck. Lama sekali ditungguin" goda Zika melihatku.


"Sori Zi, ada yang kami diskusikan sebentar" jelasku.


"Bukan lagi ehem...ehem" lanjut Zika masih menggodaku.


"Ayo, kita pergi" ajak Dirga yang ikut tersenyum malu mendengarkan ucapan Zika.


Kami pun pergi meninggalkan rumah. Mobil Dirga telah membawa kami membelah kota Seoul.


***


Kedatangan kami ternyata sudah ditunggu-tunggu oleh kelurga Dae, calon suami Zika.


"Please come in (Silahkan masuk)" ajak seorang ibu-ibu paruh baya yang ternyata mamanya Dae.


Untung beliau bisa bahasa Inggris jadi Zika bisa nyambung kalau ngobrol dengan calon mertuanya. Kehidupan kelurga Dae cukup modern. Sesuai kan kalau Bu Hasanah mau menjadikannya sebagai menantu.


"This is my sister, Zara and this is her husband, Dirga Jaehwa" ujar Zika mengenakan kami berdua.


"Oh, you are Korean too" sela Papa Dae.


"Yes, I'm Korean" ujar dirga mengulurkan tangannya kepada Papa Dae.


Dirga akhirnya memulai pembicaraan dan memberitahu apa tujuan dari kedatangan kami. Ku dengar Dirga lebih banyak menggunakan bahasa Korea ketika bercakap dengan orang tua Dae Hyun. Mungkin biar lebih nyambung gitu. Aku memperhatikan gesture Dirga ketika berbicara dengan kedua orang tua Dae. Dirga terlihat sangat dewasa dan berwibawa. Dia tidak tampak seperti anak kuliahan saja. Aku tersenyum kecil sambil memperhatikannya.


"Zi, kamu ngerti nggak?" Bisikku ke arah Zika yang duduk di sampingku.


"Nggak tau ah, Mba. Kenapa nggak bicara pakai bahasa Inggris aja sih suami Mba" omel Zika berbisik.


Sesekali orang tua Dae tersenyum melihat ke arah Zika. Tak lama dari pembicaraan Dirga dengan orang tua Dae, kami pun diajak ke ruang makan untuk menikmati santap siang ala Korea.


Aku sedikit bertanya kepada Dirga tentang apa yang mereka bicarakan. Dirga pernah bertemu dengan papa Dae yang ternyata adalah teman papa Dirga. Pantesan saja ku lihat mereka tadi tampak akrab sekali.


"Let's eat a lot (Ayo, makan yang banyak)" tawar Papa Dae ramah.


"Thanks" ucapku diikuti juga oleh Zika.


"Zi, orang tua Dae meminta kamu untuk menginap semalam di rumah mereka. Gimana?" Ujarku memberitahu Zika.


"Tidak apa, Zi. Aku akan tidur di rumah Om ku, kok" sela Dae seolah mengerti dengan keraguan Zika.


Zika menoleh ke arah aku dan Dirga. "Orang tua Dae, ingin mengenal kamu lebih dekat lagi. Kalau hanya bertemu sebentar begini sayang sekali karena kamu kan, sudah jauh-jauh datang ke Korea" timpal Dirga.


"Iya, tapi pakaianku bagaimana?" Tanya Zika bingung. Dia kan, tidak membawa baju ganti.


"Kamu, aku antar pulang untuk mengambil pakaian. Nanti baru kita balik lagi ke sini" jawab Dae. Zika pun mengangguk setuju.


***


Zika ikut bersama kami pulang dulu ke rumah mengambil pakaian. Mobil Dae mengiringi kami.


"Iya, jadilah calon menantu yang baik di sana" pesanku sambil mengantar Zika ke teras. Ku lihat Dirga dan Dae tampak akrab mengobrol.


Dae tersenyum melihat Zika menghampirinya. Untung aku dulu nggak sampe diminta oleh Mama Dirga datang ke Korea.


"Kami permisi dulu" pamit Dae berdiri dari kursi.


"Hati-hati, ya" pesanku.


"Oke. Besok Zika, ku antar kembali ke sini" janji Dae.


Aku dan Dirga mengangguk. Setelah Dae dan Zika pergi, Dirga merangkul pinggangku.


"Ayo, masuk" ajak Dirga tersenyum.


"Ga, kamu nggak mau mengajakku jalan-jalan apa" ujarku meliriknya.


"Aku masih kangen, lupakan jalan-jalan" kedipnya melihatku sambil mengeratkan rangkulannya.


"Mama dan Papa belum pulang, kan" selidikku.


"Iya, jadi kita bebas..." Dirga menggantung ucapannya dengan tatapan mata yang membuat jantungku berdetak kencang.


Kami yang jarang bertemu,rasanya enggan untuk berjauhan meskipun di dalam rumah.


Begitu pun keesokan harinya. Ketika Dirga pergi kuliah, dia mengajakku ke kampusnya karena dia hanya menggantikan kelas profesor Ahnyong seperti yang dia beritahu kepadaku sebelumnya. Aku pun ikut saja daripada aku bengong sendirian di rumah karena Zika belum pulang. Aku menunggu Dirga di perpustakaan, kebetulan sekali jadi aku bisa sambil membaca.



Ada dua gadis, sepertinya mahasiswa sedang membahas suatu buku. Tetapi dari obrolannya yang menggunakan bahasa Korea itu aku mendengar dia menyebut nama Dirga. Hey, mereka ngomongin Dirga. Tapi tentang apa? Aku sama sekali tidak mengerti.


Sambil membaca buku terjemahan bahasa Inggris, aku memperhatikan mereka. Ku lihat raut wajah gadis satunya tampak tersipu. Jangan-jangan dia naksir Dirga lagi. Aku hanya menebak saja, kenapa sampai tersipu begitu ketik temannya menyebut nama Dirga. Dia belum tahu kalau Dirga udah punya istri.


Dari jauh aku melihat Dirga memasuki perpustakaan menuju ke arahku. Belum sampai dia ke meja ku. Kedua gadis tadi sudah berjalan menghampirinya.


Ku dengar salah satunya memanggil Dirga, Oppa. Itukan artinya kakak.


"Oppa, An-yongsu gyosuui gwajega moil ttae?(Kakak, kapan tugas profesor Ahnyong dikumpul?)" Tanya gadis itu sambil tersenyum manis. Tepatnya senyuman untuk menarik perhatian lawan jenis.


"Ilju-il deo (Satu Minggu lagi)" suara Dirga menjawabnya dengan ekspresi wajah biasa saja.


"Sillyehabnida, anaega gidaligo iss-eoyo (Permisi, istri saya sudah menunggu)" Dirga tampak menunjukkan jarinya ke arahku.


Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.  Ku lihat senyuman di wajah gadis itu tampak memudar. Entah apa yang diucapkan Dirga kepadanya. Dirga lalu meninggalkan mereka dan berjalan menghampiriku.


"Maaf agak lama di kelas" ucap Dirga.


"Nggak apa,kok" balasku sambil melirik gadis tadi, rupanya mereka sudah pergi keluar dari perpustakaan.


"Hei, apa yang kamu lihat?" Tanya Dirga.


"Gadis tadi, siapa?"


"Oh gadis tadi, mereka adik tingkatku. Aku juga mengajar di kelas mereka kalau Prof.Ahnyong berhalangan datang" jelas Dirga.


"Kayaknya naksir sama kamu, deh" ucapku pelan.


"Dari dulu yang naksir suamimu ini banyak, tapi aku tidak tahu kok mentoknya sama kamu saja" ujar Dirga sambil menjawil hidungku.


Aku hanya tersenyum melihatnya. Itulah namanya jodoh. Kalau kita berusaha menjaga diri dan menjaga hati, Insya Allah jodoh kita pun akan melakukan hal yang sama.


"Ayo, pulang" ajak Dirga.


Tanpa malu Dirga menggandeng tanganku hingga keluar dari kampus. Dia pun menjadi pusat perhatian mahasiswi yang berlalu lalang. Banyak yang patah hati kayaknya, tahu Dirga udah punya gandengan.


"Ga, kita jalan-jalan ya" ajakku ketika kami sudah berada di dalam mobilnya.


"Pulang aja. Besok kamu udah mau pulang ke Indonesia, kan. Aku nggak mau nanti kamu kecapekan" tolak Dirga.


"Bentar aja, ke taman atau mall gitu buat cuci mata" bujukku lagi.


"Nggak, cuci mata apa! Buat capek aja keliling-keliling nggak jelas gitu"


"Lha, terus di rumah mau ngapain?" Tanyaku bingung kalau jalan-jalan saja dia nggak mau.


"Aku mau puas-puasin peluk kamu" bisik Dirga.


"Ahh, dasar kamu ya!!" Teriakku manja lalu memukul pundaknya. Dirga hanya terkekeh sambil membawa mobilnya menuju ke rumah.


Benar juga sih, daripada capek keliling mall nggak jelas mendingan di rumah. Menghabiskan waktu bersama yang singkat ini. Bermanja-manja cantik dengan suami tercinta. Karena entah kapan Dirga bisa menemui ku di Indonesia. Ah, kalau ingat itu aku jadi sedih lagi.


Zara



Dirga Jaehwa