
Sebelum rapat mulai, Ayumi ditodong oleh Zara untuk bercerita.
"Buruan, Yum. Kamu sebenarnya mau cerita apa, sih?" tanya Zara kepo sekali.
"Ssst. Pelan-pelan" ujar Ayumi menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
Suasana ruang guru tampak lengang, hanya ada beberapa guru yang tidak masuk ke kelas untuk menunggu rapat dimulai.
"Kamu masih ingat nggak dengan cowok di IG yang aku ceritakan tempo hari?" tanya Ayumi.
Zara tampak berpikir dan mengingat-ingat siapa nama cowok tersebut. Namanya agak kebule-bulean makanya susah untuk diingat.
"Iya, tapi aku lupa namanya siapa" jawab Zara.
"Namanya Zeyn, Ra" ujar Ayumi mengingatkan
"Oh, iya ... iya. Terus ada cerita apa tentang dia?" tanya Zara lagi.
"Aku memberi dia nomor kontakku. Kamu tahu nggak, dia menghubungi aku terus. Kadang diskusi atau cerita tentang kuliah dia" jawab Ayumi sambil tersenyum.
"Pendekatan, nih" goda Zara tertawa kecil. "Eh, dia masih kuliah, Yum?."
"Iya, katanya kuliah di luar negeri gitu, tapi dia nggak bilang di mana. Udah semester akhir" jelas Ayumi.
"Wah, pintar dong. Sama seperti Dirga" puji Zara. Ayumi mengangguk. Dia memang menyukai cowok pintar dan mandiri.
"Eh, Ra. Dia memberitahuku kalau besok dia mau pulang ke Indonesia. Papanya sakit. Dia mau mengajak bertemu, gimana?" cerita Ayumi lagi.
"Kalau kamu sendiri bagaimana?" Zara membalikkan pertanyaan Ayumi untuk dijawabnya sendiri.
"Aku penasaran saja, mau lihat wajahnya sama nggak dengan yang ada di IG. Kalau nggak, berarti dia cowok penipu" jawab Ayumi.
"Kalau sama, gimana. Tetap lanjut?" goda Zara sambil tersenyum.
"Ah, kamu!!. Ya, nggak tahulah. Namanya juga baru kenalan" seru Ayumi malu. "Eh, Ra. Tapi kamu temani aku untuk bertemu dengan dia, ya."
"Di mana?. Aku harus izin Dirga dulu" ujar Zara.
"Di cafe salah satu mall. Sekalian ada yang mau aku beli juga" jawab Ayumi.
Zara mengangguk setuju. Memang tidak baik juga jika Ayumi menemui cowok itu sendirian.
Sementara di restoran, Dirga mendapatkan kabar dari dosennya untuk segera kembali ke Korea. Lusa dia sudah terbang ke negara kelahirannya itu. Dirga bingung bagaimana menyampaikannya kepada Zara. Padahal dia masih memiliki waktu lima hari lagi bersama istrinya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Kakek Zahid melihat Dirga tampak galau.
"Itu, Kek. Lusa aku harus sudah ada di Korea" jawab Dirga.
"Cepat sekali, bukannya kamu masih lima hari lagi baru balik ke Korea" ujar Kakek Zahid.
"Iya. Tapi aku dapat email dari dosenku, Prof Ahnyong sedang sakit, dan aku harus menggantikan beberapa kelas yang dipegangnya" jelas Dirga, karena dia salah satu mahasiswa yang dipercaya oleh Profesor itu untuk menjadi asistennya.
Ponsel Dirga berbunyi, tanda ada pesan yang masuk. Dia melihat pesan dari Zara yang meminta dijemput.
"Kek, aku mau menjemput Zara dulu" pamit Dirga sambil melepaskan celemek yang dipakainya. Kakek Zahid hanya menganggukkan kepalanya.
Tiba di sekolah Zara, mobil Dirga sudah parkir tidak jauh dari pintu pagar sekolah.
"Yum, Dirga sudah datang. Aku duluan, ya" pamit Zara meninggalkan Ayumi.
"Eh, jangan lupa besok, ya" teriak Ayumi mengingatkan Zara tentang janjian mereka untuk ke cafe.
"Iya!" sahut Zara.
Zara tersenyum sambil membuka pintu mobil. Dia pun sudah duduk di samping Dirga. Laki-laki muda di sampingnya itu melajukan mobil meninggalkan area sekolah. Dirga tampak fokus menyetir mobilnya. Tidak ada suara.
Sesekali Zara melirik suaminya itu. "Yang, kamu kok diam saja?" tanya Zara.
"Ehmm. Di rumah saja ceritanya" sahut Dirga tersenyum.
"Ya, udah. Kalau begitu aku juga ceritanya di rumah saja" balas Zara.
"Kamu mau cerita apa?" tanya Zara setelah mereka berada di dalam kamar. Zara melepaskan semua atribut pakaiannya hingga menyisakan camisol dan legging pendek yang masih melekat di badannya.
"Ra ... Ehmm" Dirga bingung harus mulai darimana. Setelah dia kembali ke Korea entah kapan bisa kembali menemui istrinya itu lagi.
Zara menanti kalimat Dirga selanjutnya. Sebenarnya suaminya itu mau bicara apa. Zara mendekatkan dirinya sambil kedua tangannya melingkar di leher Dirga.
"Kamu mau ngomong apa, sih?" tanya Zara tersenyum menatap mata Dirga.
"Lusa, aku sudah kembali ke Korea" jawab Dirga. Zara termangu menatap wajah suaminya. Bukannya Dirga liburan dua Minggu kenapa dia pulang sebelum waktu liburannya habis. Mereka akan berpisah lagi.
"Kenapa?" tanya Zara tanpa suara.
"Prof. Ahnyong sakit, aku diminta untuk menggantikan kelasnya" jawab Dirga.
Zara bisa mengerti, Dirga adalah asisten kesayangan Prof. Ahnyong. Zara mencoba untuk tersenyum, dia tahu bahwa Dirga juga berat untuk cepat kembali ke sana.
"Kapan kamu mau beli tiketnya?" tanya Zara.
"Besok"
"Besok kita kembali ke rumah papa, ya" pinta Zara.
"Ra, aku ..."
"Tidak apa, Yeobo. Aku mengerti, kok" sambung Zara.
Dirga tersenyum mendengar Zara memanggilnya Yeobo. Yeobo adalah panggilan sayang dalam bahasa Korea-nya. Laki-laki berparas tampan itu mendekatkan wajahnya kemudian menarik tengkuk istrinya. Zara pun merasakan kembali hangatnya ciuman Dirga. Dirga akan sangat merindukan moment seperti itu. Dia tidak ingin melewatkannya begitu saja. Zara mengusap rambut suaminya dengan kedua tangannya membuat Dirga semakin memperdalam pagutannya. Dia tidak dapat menahan diri dan menginginkan lebih dari itu.
Zara memeluk badan Dirga setelah melepaskan hasrat bersama. Zara hampir saja lupa meminta izin Dirga untuk menemani Ayumi ke mall besok. Seharusnya dia menghabiskan waktu berdua bersama Dirga karena tinggal besok waktu Dirga bersamanya.
"Yeobo" panggil Zara manja sambil mengusap rahang Dirga. Laki-laki tampan itu tersenyum ketika dipanggil begitu oleh Zara, apalagi mendengarkan suara manja istrinya.
"Apa Anae?" Dirga pun membalas dengan panggilan sayang dalam bahasa Korea juga.
"Pulang dari sekolah besok, aku mau menemani Ayumi ke mall. Boleh, ya?" ujar Zara tersenyum geli.
"Apa kamu nggak capek?" tanya Dirga sambil mengusap punggung mulus Zara.
"Sebentar saja, kok. Boleh, ya" Zara takut Dirga tidak mengizinkannya pergi karena dia sedang hamil.
"Iya, pergilah. Mau dijemput tidak?" tanya Dirga.
"Nggak usah. Nanti Ayumi akan mengantarku pulang langsung ke rumah papa" jawab Zara.
Drettt. Drettt. Drettt
"Ponsel kamu" ujar Zara menatap Dirga, memberitahu bahwa ponsel milik suaminya yang berbunyi.
Dirga beranjak dari atas ranjang sambil memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Sementara Zara masih enggan untuk beranjak dari sana.
"Assalamualaikum" sapa Dirga setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Waalaikumsalam. Ga, hari ini aku ada di Indonesia" balas suara laki-laki dari seberang sana.
"Hei, tumben kamu pulang. What's wrong?" Dirga heran Zeyn, teman dekatnya di Korea tiba-tiba pulang.
"Papaku sakit, Ga. Aku disuruh pulang, mungkin papa juga kangen dengan anak ganteng nya ini" suara Zeyn sambil tertawa kecil.
"Aku lusa mau pulang ke Korea" ujar Dirga memberitahu.
"Yah, nggak bisa bertemu dong" ucap Zeyn kecewa. Bukannya Dirga masih lama di Indonesia.
"Nanti aku akan mengajak Zara untuk membesuk papamu" ujar Dirga. Dia akan pergi bersama Zara ke rumah sakit.
"Malam saja, Ga. Siang aku ada janji" ujar Zeyn.
"Oke ... oke" ucap Dirga setuju. Zeyn mematikan sambungan telponnya.
Dirga meletakkan ponselnya di atas nakas dan melihat Zara yang masih berbaring di atas ranjang. Dia mendekati Zara dan melihat istrinya tertidur.