My Student, I'm in Love

My Student, I'm in Love
Part 30. Ke Rumah Sakit



Setelah sholat Isya, Dirga mengajak Zara membesuk orang tua Zeyn di rumah sakit. Zara belum tahu kalau Zeyn, pemuda yang berkenalan dengan Ayumi tadi siang adalah teman dari suaminya.


"Papanya sakit apa?" tanya Zara sambil mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit mencari kamar inap papa Zeyn.


"Sakit jantung" jawab Dirga singkat. "Nah, ini dia kamarnya."


Dirga mengetuk pintu kamar inap tersebut setelah merasa yakin memang itu adalah kamar tempat papa Zeyn dirawat.


"Eh, Ga, kamu rupanya" seru Zeyn membukakan pintu kamar. Zara begitu terkejut melihat wajah Zeyn. Sementara Zeyn tampak biasa saja.


"Lho, Zeyn. Jadi ..." ucap Zara sambil menatap wajah suaminya dan Zeyn secara bergantian.


"Aku teman satu kampus dan satu jurusan dengan Dirga" ucap Zeyn.


"Lho, Ra, kamu kenal dengan Zeyn?" tanya Dirga heran. Zeyn meletakkan jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan agar Zara tidak memberitahu Dirga tentang perkenalannya dengan Ayumi tadi siang.


"Ah, Zeyn pernah mengomentari IG Ayumi. Makanya tidak asing lagi" jawab Zara tersenyum kaku.


"Bagaimana keadaan papamu?" tanya Dirga melihat banyak selang yang dipasang di badan Papa Zeyn. Laki-laki paruh baya itu sedang tertidur.


"Menunggu keadaan beliau stabil, baru dokter bisa melakukan operasi" jawab Zeyn.


"Bakalan lama kamu di sini, Zeyn" ucap Dirga.


"Ya, Tuhan. Zeyn teman kuliah Dirga di Korea. Pantas saja dia bicara tidak mau menikah dulu sebelum selesai kuliah. Dia menyindir Dirga rupanya" batin Zara.


"Ya, lihat situasi dulu, Ga. Tugasku sebagian juga sudah ku kerjakan" ujar Zeyn.


"Oh ya, besok kamu pulang ke Korea. LDR-an lagi, dong" goda Zeyn.


Dirga hanya menyunggingkan senyuman. Begitupun dengan Zara. Sudah resiko yang harus mereka jalani. Tidak lama mereka membesuk. Dirga dan Zara berpamitan.


Pulang dari rumah sakit, Zara dan Dirga sudah berpamitan dengan kakek Zahid. Malam terakhir kebersamaannya dengan Dirga di Indonesia akan mereka berdua habiskan di rumah orang tua Zara.


Dirga sudah selesai merapikan pakaiannya ke dalam koper. Sehingga besok pagi dia sudah santai, tinggal berangkat saja. Dirga memilih jadwal penerbangan pagi. Perjalanan ke Seoul memakan waktu 7 jam 5 menit, dia akan tiba di sana pada malam hari.


Zara baru masuk ke kamarnya setelah mem-packing oleh-oleh yang akan dibawa Dirga untuk mertuanya di Korea. Zara ingin cepat-cepat mengganti pakaiannya. Tanpa sadar dia telah membuka pakaiannya di depan Dirga. Laki-laki berwajah oriental itu melihat istrinya begitu seksi di depan mata. Menyaksikan lekuk tubuh istrinya dari belakang, menarik Dirga untuk mendekatinya.


Zara terkejut karena merasakan pelukan Dirga dari belakang. Tangan Dirga sudah melingkar di perutnya.


"Ya,Tuhan. Aku lupa kalau ada dia di dalam kamar" Zara memejamkan matanya karena malu. Dia hanya memakai pakaian dalamnya saja.


"Anae ..." panggil Dirga mesra sambil mencumbu istrinya.


"What?" sahut Zara mesra sambil merasakan kecupan-kecupan hangat suaminya.


"I will miss you" ucap Dirga lagi. Dia kemudian membalik badannya Zara menghadap ke arahnya. Mata mereka bertemu dan saling pandang. Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah Zara. Dirga pun sudah mendaratkan ciuman hangatnya. Debaran jantung keduanya berdetak kencang. Zara punĀ  dapat merasakan kedua tangan Dirga sudah berhasil membuka pengait bukit kembarnya dan mulai bermain di sana.


Dirga menjatuhkan badan Zara dengan pelan di atas ranjang. Kedua badan itu sudah menegang, siap untuk menyatu di dalam danau cinta istrinya. Sebelum berpisah, Dirga ingin menuntaskan hasratnya dengan Zara. Jika sudah di Korea nanti, dia hanya bisa menahan hasrat dan rindunya hingga bisa bertemu kembali.


Dirga memeluk badan polos Zara di balik selimut. Dia menikmati kehangatan badan istrinya sambil tangannya bermain-main.


"Yeobo!!" Zara melenguh merasakan lagi sensasi sentuhan tangan Dirga.


"Stop it!!" rengek Zara. Suara itu terdengar sangat mesra di telinga Dirga sehingga membangkitkan gairahnya kembali. Namun Dirga menahannya karena dia tahu Zara pasti sudah kelelahan melayaninya tadi.


"Tidurlah" bisik Dirga tersenyum.


"Aku tidak bisa tidur. Kalau aku tidur nanti ketika bangun kamu sudah mau pergi" ucap Zara menahan sesak di dadanya.


Dirga semakin mengeratkan pelukannya. Dia bisa merasakan perasaan istrinya.


"Yeobo!" panggil Zara.


Dirga hanya menempelkan wajahnya ke pipi Zara. "Apakah kamu nanti akan menjadi dosen di Korea?" tanya Zara.


"Kalau kamu ditawarkan untuk menjadi dosen di sana bagaimana?" tanya Zara lagi.


"Nggak, Anae. Selesai wisuda aku ingin pulang dan tidak mau berpisah dengan kamu lagi" jawab Dirga sambil mengecup pundak Zara. Hati wanita itu menjadi lega setelah mendengarkan keputusan Dirga. Dia tersenyum kemudian membalikkan badannya menghadap Dirga.


Zara menangkup wajah Dirga dengan kedua tangannya. "Aku dan calon anakmu akan sabar menunggu kamu pulang" ucap Zara tersenyum.


"Terima kasih, Anae. Believe me" Dirga tersenyum kemudian menyatukan bibirnya kembali. Tak ingin keintiman mereka berakhir begitu saja. Hingga lelah memeluk keduanya baru terpejam.


Suara adzan subuh berkumandang membangunkan Zara yang tidur dalam pelukan hangat suaminya. Rasanya tidak ingin beranjak dari atas ranjang apalagi mengurai pelukan hangat suami tercinta. Dalam hitungan jam Dirga akan pergi ke bandara.


Dengan berat hati dia pun terpaksa menggerakkan badannya hingga membangunkan Dirga.


"Hei, bangun. Sudah subuh, kita belum mandi, lho" ujar Zara mengingatkan sambil menjawil hidung mancung Dirga.


Dirga tersenyum meskipun matanya masih terpejam. Dia pun rasanya enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Ayo, bangun!!" paksa Zara kemudian memencet hidung suaminya itu.


Dirga tertawa geli lalu menangkap tangan Zara agar melepaskan pencetannya.


"Iya, ayo mandi" ajak Dirga.


"Gendong" pinta Zara menatap manja suaminya.


Dirga menuruti keinginan istrinya. Dia menggendong Zara masuk ke dalam kamar mandi.


***


Kedua orang tua Zara sudah menunggu anak dan menantunya untuk sarapan pagi bersama. Rencananya papa Zara yang akan mengantar Dirga ke bandara. Dirga melarang Zara untuk ikut mengantarnya ke bandara.


"Duduklah, sarapan dulu" tegur papa Zara melihat anak dan menantunya batu keluar dari kamar.


"Makan yang banyak, Ra" ujar mamanya. Zara memang tidak terlalu banyak makan kalau pagi hari. Tapi karena kondisinya sedang hamil, harusnya porsi makannya lebih banyak dari biasanya.


"Iya, dengarkan mama tuh" timpal Dirga. Zara hanya memanyunkan bibirnya.


"Semoga ada waktu lagi untuk ke sini" ujar Mama Zara disela mereka sedang sarapan.


"Insya Allah, Ma" jawab Dirga singkat.


"Salam buat mami dan papi kamu, ya" lanjut mertuanya.


"Iya, Ma" sahut Dirga.


"Papa mau mengeluarkan mobil dulu" ujar papa Zara setelah sarapan pagi. Dia meninggalkan meja makan, disusul oleh mama Zara yang mau mengambil kardus kecil yang berisi oleh-oleh untuk orang tua Dirga.


Setelah sarapan Dirga dan Zara kembali ke kamar untuk mengambil koper yang akan dibawa Dirga. Zara sudah meminta izin kepala sekolah untuk datang terlambat karena suaminya mau pulang ke Korea.


"Yeobo" panggil Zara. Wanita itu sekarang lebih suka menyapa Dirga dengan panggilan sayang itu, mengingat suaminya adalah keturunan Korea.


Dirga tersenyum. Dia sangat suka jika Zara memanggilnya begitu. Dirga menarik pinggang Zara yang masih terlihat ramping itu.


"Kenapa aku tidak boleh mengantar kamu ke bandara?" tanya Zara.


"Aku tidak mau melihat kamu menangis" jawab Dirga.


"Nggak. Aku mau ikut" rengek Zara manja sambil bergelayut di lengan Dirga.


"Yakin?" goda Dirga tersenyum. Zara hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau kamu memaksa" ujar Dirga sambil menjawil hidung mancung Zara.


Akhirnya Zara ikut juga mengantar Dirga ke bandara. Zara sudah terbiasa sehingga dia tidak akan menangis ketika Dirga pergi.