
DIRGA POV
Aku tidak menyangka kalau dia bakal datang menemui ku di restoran Korean Food milik kakek. Kakek Zahid, ayah papi adalah koki terkenal di hotel berbintang di Korea. Di Korea lah papi bertemu dengan mami, mereka bersahabat sejak SMA.
Persahabatan itu menjadi cinta lalu mereka menikah. Setelah resign dari hotel, kakek memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Beliau ingin bisnis kuliner Korea. Mami dan papi tetap tinggal di Korea karena papi berkerja di perusahaan Korea sementara mami, dosen di sana. Karena aku dekat dengan kakek, aku ikut bersamanya pulang ke kampung halaman beliau.
Bisnis kakek berkembang pesat sampai buka beberapa cabang di kota besar yang dihandel oleh anaknya selain papi.
Aku melihat pesanan Miss Zara. Kimbap dan jus jeruk. Karena aku sudah lama ikut kakek, aku mewarisi keahlian memasak makanan Korea dari beliau. Aku ingin membuatkan sendiri kimbap pesanannya.
“Ehem, kimbap dan jus jeruk datang” dia menoleh ke arah ku. Dia kelihatan kaget sekali ketika melihat ku.
“Dirga” kata Miss Zara kaget. “Kok, kamu yang bawa?” tanyanya heran.
Aku meletakkan pesanannya di atas meja lalu duduk dihadapannya.
“Maaf ya lama, aku membuatnya sendiri” jawab ku.
Dia menatap ku tidak percaya. Kayaknya Miss Zara belum mudeng dengan ucapan ku.
“Resto ini milik kakek ku, beliau lagi sakit jadi aku membantunya. Belakangan ini pengunjung ramai sekali. Kakek ku koki dari Korea, jadi aku menggantikan posisinya sementara waktu sambil mengajari beberapa koki cadangan” jelas ku melihat tampangnya masih kebingungan.
“Buruan dimakan, nanti dingin kimbapnya”
“Ini kamu yang buat. Aku nggak percaya” katanya.
“Mau lihat...ayo ikut ke dapur” ajak ku tersenyum melihatnya.
Dia menunduk sepertinya tidak kuat melihat wajah tampanku. Hehe
“Nggak usah lain kali aja” tolaknya sambil mengambil kimbap dihadapannya lalu satu kimbap masuk ke mulutnya.
“Hm..uenak banget” katanya dengan mulut masih penuh dengan kimbap.
“Iyalah Dirga yang buat spesial buat Miss cantik” ujar ku memujinya.
“Uhuk...uhuk...” dia tersedak mendengar ucapan ku.
Dia meraih jus jeruk di depannya. Aku tersenyum kecil melihat reaksinya. Dia salah tingkah sendiri melihat ku menatapnya.
“Jangan melihat ku seperti itu” ujarnya melempar wajah ku dengan gumpalan tisu sudah disiapkan ditangannya. Aku mengusap wajah ku lalu tersenyum manis.
“Ngapain senyam-senyum” katanya lagi.
“Hm...kenapa mau datang?” tanya ku serius menatapnya.
“Penasaran aja” jawabnya singkat menghindari tatapan ku.
“Bukan kangen?”
“Maulah kalau ada yang kangen”
“I miss you” ucap ku pelan. Harusnya dia tahu bagaimana perasaan ku kepadanya.
“Kalau begitu besok sekolah” ujarnya tersenyum kecil.
“Of course” kata ku menyakinkannya.
Bisa melihatnya hari ini saja aku bahagia sekali. Sebenarnya aku ingin mengabarinya tapi kesibukan ku di resto membuat ku tidak sempat untuk menghubunginya.
Dari sikapnya, aku tahu dia begitu peduli dengan ku. Tapi yang namanya perempuan susah sekali untuk mengakuinya. Apalagi mengingat statusnya sebagai guru. Jaim banget.
Miss Zara. Salahkah kalau aku mencintai mu. Perasaan ini tak bisa dibendung. Datang tanpa permisi dan tak mau pergi. Don’t you know.
***
“Hey, Bro. Ke mana aja lo satu minggu menghilang. Materi pelajaran udah ku kirim di whatsapp” ujar Rio.
“Ada job penting. Thanks, ya” Rio emang baik, dari awal aku datang dia friendly banget. Hobi kami pun sama, bermain basket.
“Bro, selama lo nggak sekolah ada guru agama baru, lho. Namanya Pak Farhan. Denger gosip nih, guru-guru nyomblangin Miss Zara sama beliau. Cocok ya pasangan sholeh dan sholehah” cerocos Rio.
Aku terdiam mendengarkan cerita Rio. Boleh juga nih anak, sampe tau gosip di kalangan guru. Apakah miss Zara juga menyukainya?.
“Seperti apa orangnya?” tanya ku.
“Ganteng Bro, saingan lo kayaknya. Soalnya cewek-cewek lagi viral ngomongin beliau. Tapi gantengnya banyakan lo, Ga” ujar Rio tersenyum.
Aku berdiri dari bangku lalu meninggalkan Rio.
"Hey, mau ke mana lo?” teriak Rio.
“Ke toilet, kebelet”
“Kebiasaan lo, kalau lagi bicara main kabur aja” masih ku dengar suara Rio menggerutu.
Selesai dari toilet, ketika mau berjalan menuju tangga lantai dua. Aku melihat dari arah berlawanan Miss Zara berjalan berdua dengan guru laki-laki. Apa guru itu yang dimaksud dengan Rio. Dada ku bergemuruh melihatnya. Entah apa yang mereka bicarakan, ku lihat Miss Zara tersenyum malu.
Sejenak netra mata kami bertemu, Miss Zara kelihatan kaget lalu senyumnya menghilang setelah melihat ku. Tanpa senyum aku melihatnya lalu aku melengos mendahului mereka naik tangga.
Bukankah dia akan masuk ke kelas ku. Aku bergegas masuk kelas lalu duduk menunggu kedatangannya di kelas. Bel pergantian pelajaran sudah berbunyi. Tak lama suara salam terdengar, pintu kelas terbuka. Sosok yang ku tunggu sudah duduk di meja guru.
Aku hanya menatapnya tanpa senyuman. Entahlah aku tidak suka sekali melihatnya bersama laki-laki lain.
Dia menjelaskan materi pelajaran sekilas lalu memberi tugas individu untuk kami kerjakan. Sesekali ku lihat dia melirik ke arah ku tapi hanya tatapan dingin yang ku berikan kepadanya.