
"Kalau berkelahi/bertarungnya, di ruang latihan atau arena bertarung. Kamu kan bertarung di luar ruang latihan dan arena bertarung, jadi kamu bersalah," ucap guru kepada Katazuki.
"Maaf guru, saya tidak ingat kalau saya bertarung di luar ruang latihan dan arena bertarung," ucap Katazuki kepada guru.
"Kalau begitu, setelah ini selesai, kamu ikut bapak ke kantor. Mengerti?" ucap guru kepada Katazuki.
"Yah guru, saya mengerti," ucap Katazuki kepada guru.
...****************...
Kelas pun berakhir. Guru pun lalu menyuruh Katazuki untuk mengikutinya ke kantor untuk mendapatkan hukuman. Katazuki pun berdiri dari mejanya dan berjalan mengikuti guru ke kantor. Sesampai di depan pintu kantor, Katazuki pun masuk bersama guru dan duduk di kursi sambil berhadapan dengan guru.
"Katazuki, kamu tahu kan bahwa Elemental Ice itu sangat langka?" ucap guru kepada Katazuki.
"Hmm, iyah guru," ucap Katazuki kepada guru.
"Ayolah, jangan tegang begitu. Dan tidak usah sebut guru. Sebut saja yang enak buat kamu. Bisa kaka atau abang," ucap guru kepada Katazuki untuk mencairkan suasana.
"Ah, tapi kalau disebut kaka/abang, sepertinya tidak akan cocok. Soalnya guru sudah tua juga," ucap Katazuki yang berbicara dengan polos.
"Hmmm, memangnya saya terlihat tua ya?" ucap guru yang berbicara kepada Katazuki dengan kesal.
"Sepertinya guru memang sudah tua. Cocoknya guru itu dipanggil bapak/om. Kalau kaka/abang kayanya kurang cocok deh, hehe," ucap Katazuki yang berbicara kepada guru.
"Kamu ini memang benar-benar menyakiti perasaan saya. Huhu," ucap guru kepada Katazuki dengan sedih.
"Yasudah, saya panggil bapak saja kalau begitu," ucap Katazuki kepada guru.
"Gimana kamu saja deh. Gimana enaknya saja," ucap guru yang sudah lelah berhadapan dengan Katazuki.
"Baik, pak," ucap Katazuki kepada guru.
"Katazuki, karena kamu sudah melanggar aturan yang ada di akademi ini, kamu harus menerima hukumannya," ucap guru yang mulai serius berbicara kepada Katazuki.
"Kesalahan kamu tidak akan sampai membuat kamu di-skors," ucap guru yang memberitahu Katazuki.
"Tapi saya sudah bertarung di luar ruang latihan/arena bertarung. Dan lawan saya pun terluka cukup parah, pak," ucap Katazuki yang menjelaskan kesalahannya kepada guru.
"Sebenarnya, bertarung di luar arena itu bisa saja membuat kamu dikeluarkan. Tapi karena kamu masih baru dan belum tahu peraturannya, jadi saya maklumi saja. Sebagai gantinya, kamu harus membersihkan bekas pertarungan kamu yang ada di taman. Kamu mengerti, Katazuki?" ucap guru yang menjelaskan peraturan dan hukuman kepada Katazuki.
"Ah, baik pak. Saya mengerti," ucap Katazuki kepada guru.
"Kalau kamu sudah mengerti, kamu boleh keluar," ucap guru kepada Katazuki.
"Kalau begitu, izin pamit guru. Terima kasih," ucap Katazuki kepada guru.
Katazuki pun berdiri dari bangku dan berjalan keluar dari kantor guru. Setelah keluar dari kantor, Katazuki melihat Liya yang sedang berdiri di depan pintu kantor.
"Katazuki," ucap Liya kepada Katazuki.
"Ah, Liya. Kenapa kamu ada di sini?" ucap Katazuki kepada Liya.
"Aku tadi ke kelas kamu dan kamu tidak ada di kelas. Terus ada yang memberitahu kalau kamu dibawa ke kantor guru," ucap Liya yang menjelaskan kepada Katazuki.
"Ah, iyah. Aku disuruh ke kantor. Akibat aku tadi bertarung di luar arena," ucap Katazuki kepada Liya.
"Apakah kamu di-skors?" ucap Liya yang khawatir kepada Katazuki.
"Ah tidak, aku tidak di-skors. Tapi sebagai hukumannya, aku harus membersihkan sisa pertarungan aku yang ada di taman," ucap Katazuki kepada Liya.
"Ah, syukurlah kamu tidak di-skors. Kalau begitu, ayo kita bersihkan bekas kamu bertarung," ucap Liya kepada Katazuki.
"Ah, tapi itu hukuman aku," ucap Katazuki kepada Liya.
"Tidak apa-apa. Kamu kan sudah melindungi aku dari Oryza. Jadi aku akan