
Oryza pun lalu diperiksa oleh dokter. Setelah diperiksa, Oryza dirawat sementara. Kagami pun melihat Oryza yang terluka melintas di hadapannya.
"Wah, ternyata aku tidak sendirian. Ada yang terluka juga, hehe," ucap Kagami yang merasa senang. Akan ada teman untuk diajak ngobrol dengannya.
...****************...
Kagami pun memperhatikan Oryza yang dibawa ke kamar. Dan ternyata dokter membawa Oryza sekamar dengan Kagami. Tetapi Oryza tidak tahu bahwa dia sekamar dengan orang lain. Kagami makin senang, di kamarnya ada teman ngobrol.
"Oke, kita sudah sampai kamar. Istirahatlah, kamu jangan buat keributan di ruangan ini. Mengerti?" ucap dokter kepada Oryza dengan memasang muka seram.
"I... iyah, aku tidak akan membuat keributan di sini," ucap Oryza yang agak gugup melihat dokter.
"Baiklah, kalau begitu dokter tinggal. Dan perlu kamu tahu, kamu memiliki teman di sini yang sama-sama terluka, jadi bertemanlah," ucap dokter sambil berjalan meninggalkan kamar dan tersenyum kepada Oryza.
"Ha, akhirnya aku bisa tenang juga. Kalau saja tadi dokter lama diem di sini, sepertinya aku akan cepat pingsan deh," ucap Oryza yang bisa santai dan istirahat.
Kagami pun tiba-tiba membuka pintu kamar dan berteriak sambil berjalan-jalan di kamar. Oryza yang hampir tidur lalu terbangun akibat teriakan Kagami yang kencang.
"Oy, apa kamu tidak punya mata? Ini kamar yang sedang sakit. Kamu ngapain teriak-teriak di sini?" ucap Oryza yang kesal melihat Kagami yang tiba-tiba membuat ulah.
"Oh, iyah, aku tau ini kamar yang sedang sakit," ucap Kagami yang tersenyum kepada Oryza.
"Terus, kenapa kamu di sini? Dan kenapa kamu teriak-teriak?" ucap Oryza, masih kesal ke Kagami.
"Apa kamu ada di kamar ini?" ucap Oryza kepada Kagami yang penasaran.
"Iyah, dan kita akan menjadi teman di kamar ini, hehe," ucap Kagami sambil tertawa kepada Oryza.
"Masalah tadi sudah selesai. Datang lagi masalah baru, argh," ucap Oryza yang kesal menghadapi dokter dan Kagami.
"Kamu baik-baik saja?" ucap Kagami yang melihat Oryza teriak.
"Argh, aku tidak apa-apa. Aku ingin istirahat saja, tidak mau diganggu. Cukup dokter saja yang mengganggu aku. Kamu jangan," ucap Oryza yang sedih tidak bisa istirahat.
"Yasudah, kalau kamu ingin istirahat. Istirahat saja dulu," ucap Kagami yang tersenyum ke Oryza.
"Syukurlah, kalau kamu mengerti yang aku katakan. Kalau begitu, aku mau istirahat dulu. Jangan ganggu aku," ucap Oryza yang bisa istirahat di kamar rawat.
"Kalau sudah selesai istirahatnya, apa bisa kita bersenang-senang, hahaha?" ucap Kagami sambil ketawa.
Oryza pun bangun lalu melempar bantal ke arah muka Kagami yang sedang tertawa dan tepat mengenai muka Kagami.
Setelah kejadian di taman, Katazuki dan Liya pun kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Sesampai di depan kelas Mage, Katazuki dan Liya berpisah. Katazuki pun tidak sempat menanyakan di mana kelas Liya berada. Katazuki pun lalu masuk ke kelas, dan semua murid pun melirik ke arah Katazuki dengan wajah kagum. Ada yang merasa takut kepada Katazuki.
"Ah, kenapa mereka melihatku seperti itu? Apa aku membuat kesalahan ya?" ucap Katazuki yang bingung, teman sekelasnya terus-menerus melihatnya.