
2 hari sebelum pernikahan Cecil dan Mark. Abim mengajakku ke suatu Mall untuk membeli cincin pernikahan dan mencari suatu hadiah kecil dari kami untuk pasangan yang akan menempuh hidup baru. Tak lama kini abim sudah sampai dirumahku, yaa memang sejak kejadian dia melamarku kemarin. Semua keluargaku kini tampaknya malah jauh lebih sayang dengan dirinya dibandingkan aku anak kandungnya sendiri. Jika abim tak datang kerumah seharipun pasti langsung ditanyakan keberadaan anak itu, huft~
"Dekk, cepet turun abim sudah datang" teriak kak ester dari lantai bawah dan aku langsung bergegas turun
"Mama mana kak?" Tanyaku
"Lagi ke minimarket sama cia dan yaya" jawab kak ester
"Oh, yaudah kalo gitu chila langsung berangkat aja ya kak" jawab chila sambil menyalimi tangan kakak iparnya tersebut
"Iya, hati-hati yaa" jawab kak ester sambil mengantarku ke depan pintu
----
Di dalam mobil, abim yang dari tadi tak banyak bicara (memang sifatnya seperti itu huft) kini mengajakku bicara..
"Kamu mau cincin model seperti apa?" Tanya abim
"Yang simple aja, aku nggk suka yang terlalu mewah" jawabku
"Okedeh. Mau sekalian cari kado apa untuk cecil?" Abim
"Kado apa ya? Menurut kamu apa?" Chila
"Aku juga nggak tau, coba telfon dulu temenmu yang lain. Jgn sampe nanti udah dibeli malah samaan" Pinta abim
"lah bener juga hahah" jawabku sambil langsung menelfon kedua sahabat priaku itu
----
Di sebuah toko perhiasan, abim dan chila kini sedang duduk sambil melihat-lihat perhiasan yang disarankan oleh pegawai toko tersebut. Cukup lama mereka berada disana dan akhirnya menemukan sepasang cincin yang mereka berdua suka dan sepakat untuk membelinya.
Setelah keluar dari toko perhiasan tersebut, kami memutuskan untuk berkeliling mencari kado untuk cecil dan mark. Abim menemukan sebuah ide untuk memberikan mereka sepasang kimono yang ternyata bisa dibordir dengan nama. Tak hanya membeli untuk cecil dan mark, tampaknya abim pun tertarik dan membeli sepasang kimono itu untuk dirinya dan sang calon istri.
Setelah apa yang kami cari telah dapat, kami pun memutuskan untuk makan di salah satu restaurant favorit abim di mall tersebut. Saat sedang asik makan, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku..
"Chilaa?" Kata pria tersebut dan aku langsung refleks menoleh
"Eh iya kak irfan" kataku
"Apa kabar kamu? Sama siapa kesini?" Tanyanya lagi
"Baik kak, kakak gimana apa kabar? Oh ya kak kenalin ini kak Abim" Balasku
"Kakak baik. Abim? Pacar kamu?" Tanya kak irfan
"Bukan kak, dia calon suami chila" jawab chila tegas
"Maksudnya dia apa? Ditolak?" Tanya abim heran
"Hehe, jadi dia itu temennya koko. Dia sempet ingin mendekati chila dan melamar chila. Tapi chila nggak mau" jawabku
"Kenapa? Dia sepertinya mapan dan baik" Abim
"Kalo hati yang bicara. Mau dia mapan, baik dan bahkan anak presiden pun. Kalo hati menolak ya gimana" Chila
"Cinta kan bisa datang jika sering bersama" goda abim
"Nggk juga tuh. Buktinya kita nggak pernah bersama aku tetep cinta sama kamu. Kamu juga gitu kaaan?" Jawab chila polos
"Hahahaha" tawa abim saat mendengar perkataan dari sang calon istri
Sehabis magrib, kini chila dan abim telah sampai dirumah chila. Abim masuk bersama dengan chila. Seperti biasa dia harus mengabsen mukanya dengan calon keluarganya itu, dan tak lupa abim membeli 2 kotak martabak manis kesukaan sang calon mertua..
"Ma, pa.. ini abim bawakan martabak" sapa abim seraya memberikan kotak martabak
"Aduh mantu, perhatian sekali sama mertuannya. Makasih ya" goda papa pada abim membuka kotak isi martabak tersebut
"Sini abim cicip dulu" panggil mama dan langsung menyuapi abim sepotong martabak manis tersebut
"Maa, chila juga mauuu" celetukku yang cemburu akan perhatian mama terhadap abim
"Hahaha, sini syg papa yang suapin" jawab papa spontan membuat mereka ber 4 tertawa
.
.
next
.
.
Hello gaes..
bantu terus support Author ya biar makin semangat menulis lagi, lagi dan lagi dengan cara like, comment apa perlu dishare ya hihiww~
klik favorit biar tak ketinggalan episode selanjutnya..
I love you. Xoxo♥️