
POV Dafa
setelah kami sholat. tiba-tiba notifikasi pesan masuk di handphone ku. segera ku ambil hp itu dan duduk santai di sofa. aku melihat langkah kaki yang terus mendekati ku sambil membawa minuman. tentu dia adalah Ratih. entah kenapa ketika dia berjalan mendekat dan terus mendekat. dia terlihat sangat berbeda. rambut hitam dan panjang nya yang terurai sangat indah dan senyumnya yang mempesona. setelah dia meletakkan minuman itu. aku mempersilahkannya untuk duduk di samping ku. entah setan apa. aku mengec** nya kilas.
Ratih terlihat terkejut. kami saling memandang sangat dalam. aku pun memegang pipi dan menc***nya lagi dengan lembut. karena tidak ada perlawanan dari Ratih aku terus me***** nya. "ah,manis"gumam ku sambil melepas pipinya Ratih. karena ku tahu Ratih mulai kehabisan napas. kemudian ku mengulang hal membuat ga**** yang sulit ditahan karena terus menginginkannya lagi dan lagi.
~~
"tok tok tok" bunyi kamar yang terus di ketuk."aargh, siapa yang mengetuk." geram Dafa yang terhenti dengan aktivitasnya dan mereka saling menatap. "mas,itu suara mama" ungkap Ratih. Ratih pun berlari membuka pintu. Dan sekali lagi pintu di ketuk.
"tok tok tok"
"nak, sarapan lagi ya. mama tunggu dibawah." ungkap mama Ratih.
"iya ma" ungkap Ratih yang terlihat ngos-ngosan karena berlari membuka ganggang pintu.
"kamu kenapa nak?"ungkap mama Ratih yang heran melihat anaknya habis olahraga dan berkeringat.
"hehe,tidak kenapa-kenapa kok ma. tadi habis lompat-lompat biar makin tinggi gitu ma" ungkap Ratih sekenanya karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. dan dia sedang menahan malu karena tingkahnya dengan Dafa yang baru saja terjadi.
"iih,ada-ada saja.tinggi kamu tidak akan berubah lagi nak." ungkap mama Ratih sambil menekan gemas hidung anak sulungnya itu.
"mana nak Dafa?tanya mama lagi
"lagi ke toilet ma. nanti habis ini kami langsung kebawah ma." ungkap Ratih. Ratih mau mengalihkan pertanyaan mamanya yang takutnya tidak bisa ia jawab.
Ratih pun menutup pintu dan berjalan mendekati Dafa yang masih duduk di sofa. dia menatap Dafa yang sedang meminum kopi yang Ratih buatkan tadi. tentunya minuman itu sudah hampir dingin.
"cie yang mau tinggi. sini duduk dekat mas biar makin tinggi" goda Dafa yang membuat Ratih tersipu malu karena alasan yang dibuatnya.
"iih, mas Dafa. aku ngak tau buat alasan apa tadi. jadi asal jawab aja." ungkap Ratih yang berdiri malu-malu didepan Dafa.
tiba-tiba Dafa menarik tangan Ratih lagi. dan menyebabkan Ratih terduduk di pangkuan Dafa. Dafa memegang dagu Ratih dan mengangkatnya agar mereka saling menatap.
"mas,kebawah yuk. mama papa dan keluarga lainnya udah nunggu di bawah." ungkap Ratih yang takut kejadian tadi terulang lagi.
Cup
"ya udah, itu penutup kita pagi ini. mas suka sekali dengan ini. makasih ya" ungkap Dafa sambil mengelus bibirnya Ratih.
"mmmh" Ratih mengangguk dan tersipu malu. karena ini pertama kalinya ia di perlakukan seperti ini.
"ya udah,kita kebawah"ucap Dafa sambil menurunkan Ratih dari pangkuannya. dan dafa menautkan jari-jari mereka untuk saling menggenggam tangan yang terasa hangat bagi Dafa.
"mas,malu nanti diliatin keluarga lain."ungkap Ratih yang mau melepaskan genggaman itu.
"ya udah. kita pelan-pelan saja. tapi harus dekat-dekat dengan mas ya."balas Dafa dan mereka sekarang berjalan menuju meja makan keluarga.
bersambung~~