
Mereka berjalan memasuki salah satu mobil sport mewah di garasi samping villa . Tidak ada adegan romantis menampilkan seorang kekasih yang membukakan pintu mobil untuk pasangannya.
"Pasang sabuk nya"Dafa yang membuyarkan alam bawah sadar Ratih.
"Aaa,iya mas." langsung memasang sabuk pengaman itu.
Mobil sport itu melaju kencang. diperjalanan tidak ada pembicaraan untuk beberapa waktu. hingga Ratih membuka suaranya.
"mas, kita mau kemana sekarang?" untuk memastikan tempat yang akan mereka kunjungi.
"kita beli barang-barang untuk keperluan selama di Paris"balas Dafa singkat.
"mmmh" balas Ratih yang tidak tau untuk mengatakan apalagi.
~
tak lama kemudian mereka sampai disalah satu pusat perbelanjaan terbesar disana.
Ratih hanya mengikuti langkah kaki suaminya. karena sejak turun dari mobil pun mereka masih diam. tidak terlihat bahwa mereka pasangan suami istri. malah seperti bos dengan asistennya.
Dafa tiba-tiba berhenti di bagian toko khusus pakaian perempuan. Tentu secara tiba-tiba pula membuat Ratih terkejut dan keningnya menabrak punggung bidang suami nya itu. Punggung yang sangat pelukable.
"uh, ma'af mas" secara spontan Ratih meminta ma'af walaupun itu bukan salahnya.
"mmh,"balas Dafa dengan wajah datarnya.
"pilih pakaian yang kamu suka. aku tunggu disini" ucapnya sambil di tempat duduk yang telah disediakan untuk pelanggan.
Ratih yang sibuk memilih pakaiannya.
Tidak sengaja melirik kearah tempat duduk suaminya. Disana ternyata sudah ada seseorang yang dicintainya.
"apakah se bahagia itu kamu bersama orang yang kamu cintai? benar tidak ada lagi tempat bagiku di hatimu? apakah benar pernikahan ini sementara?? Ya Tuhan, kenapa rasanya sangat sesak sekali" Ratih yang hanya bisa membatin sambil memegang dada nya yang terasa sangat sesak.
sekarang Ratih memandangi diri nya sendiri setelah mencuci wajah nya agar tidak memperlihatkan bahwa ia telah menangis.
"Ratih, please. tahan air mata mu. air mata ini tidak pantas untuk kamu keluarkan demi orang yang tidak kamu cintai."
sekuat hati ia menahan tangisnya dan mengatur pernafasan nya agar normal kembali.
Kemudian ia, memperbaiki make up yang sempat hilang dan memoleskan sedikit lipstik agar terlihat cerah kembali.
ia melangkah keluar dari toilet dan tentu ia dikejutkan oleh suaminya yang ternyata berada di pintu.
"kenapa lama sekali didalam?" ucapnya tanpa ada rasa bersalah. padahal apa yang terjadi dengan Ratih adalah karena sikap Dafa sendiri yang tidak menghargai Ratih sebagai istrinya.
"ngak, tidak masalah. hanya memperbaiki make up ku saja mas." ungkap Ratih sebiasa mungkin. ia tidak mungkin memperlihat ke marahan nya dengan sikap suami diatas kertasnya itu.
Sebelum keluar tadi ia juga telah memantapkan hatinya untuk berpisah baik-baik dengan suaminya. sekarang ia hanya perlu menikmati liburan yang belum tentu ia dapatkan.
"benarkah?" tiba-tiba Ratih terkejut dengan sikap Dafa yang mendorongnya ke arah dinding dan mengukung dengan kedua lengannya.
Tentu jarak mereka sangat lah dekat.
tatapan mereka beradu sangat intim. saling memberikan sebuah bertanda bahwa mereka saling menginginkan.
"cup" kecupan kilas dari Dafa yang tidak terbayang oleh Ratih.
kemudian mereka saling menatap yang membuat tatapan mereka semakin berkabut.
tanpa mereka sadari mereka menyatu dalam decap*n yang begitu intens. saling menginginkan lebih setelah pergulatan mereka malam itu. kemudian..
bersambung~~