My Cousin is My Husband

My Cousin is My Husband
16



POV author


Ratih duduk sendiri menonton channel Y*T*b* kesukaannya. Namun, semenjak awal pikirannya tidak fokus dengan apa yang dilihatnya. remote tv yang terus di dipencet setiap beberapa menit.


"aahh,,kira-kira mas Dafa jam berapa pulang nya ya? gumam Ratih setelah mengambil nafas panjang agar rasa khawatirnya bisa hilang.


waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam lewat. yang ditunggu pun tidak nampak batang hidung nya.


"Assalammualaikum mas,,jam berapa mas pulang?" pesan yang sudah Ratih kirim sejak 1 jam sebelumnya.


"belum tau. jangan tunggu mas." baru di balas pukul 10.


"baik mas." hanya itu ketikan pesan yang dikirim oleh Ratih. karena tiba-tiba otaknya tidak mampu berpikir lebih jauh lagi. setidaknya dia lega bahwa Dafa baik-baik saja.


~


POV Dafa


"Ratih bangun, bangun.." ketika melihat dia tertidur di sofa. ku coba goyangkan bahunya. namun hal itu tidak mempu membangunkan ratih. wajar saja dia tertidur,, ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.


"sudah di bilang istirahat, kenapa ngotot harus menunggu disini. merepotin orang saja.


"nih anak tidurnya kayak orang mati. ngak gerak-gerak dari tadi. nyusahin aja." kesal ku karena harus melakukan hal tak penting.


"kenapa bib*r nya terlihat *****? secara langsung aku dapat melihat dengan dekat bibirnya yang mampu mengalihkan pikiran ku. tidak ku sangka efeknya seperti yang kurasa saat ini seperti kemaren lagi penuh g**rah ingin menyentuhnya."


"mungkin karena aku normal, jadi wajar saja aku tergod* dengan sepupu ku apalagi kami sudah halal. Aakkhh, apa yang kamu pikirkan Dafa. kamu harus jaga jarak." tiba-tiba tersadar dan langsung beranjak dari kamar Ratih.


~~


Author POV


Namun, untuk waktu keberangkatan dan persiapan pergi ke Paris sudah diberitahukan oleh Andi ke pada Ratih. memang tidak ada sedikit pun komunikasi antara Ratih dan Dafa.


~~


Kamis sore ini Dafa dan Ratih akan berangkat. namun mereka tidak ada bertemu sekali pun semenjak kejadian kekasih Dafa datang. Dafa pun belum ada niat untuk menjelaskannya pada Ratih.


"asisten Andi,,dimana mas Dafa?tanya ku basa basi ketika asisten Dafa datang menjemput Ratih untuk berangkat ke bandara.


"ma'af nona, bos Dafa lagi ada yang diurus sekarang. Jadi, untuk keberangkatan ke bandara, saya akan menemani nona." balas asisten Andi.


"baik lah. terima kasih infonya asisten Andi"ucap Ratih dengan nada suara yang rendah dengan memperlihatkan sedikit kekecewaan. lalu asisten Andi membukakan pintu mobil dan mempersilakan nona nya untuk segera masuk.


"ohya nona, panggil Andi saja." ungkap asisten Andi yang sudah berada di depan kemudi dan noleh kebelakang.


"kenapa?kan biar lebih sopan jika panggil asisten Andi." jawab ku agak bingung karena merasa kurang sopan jika panggil nama.


"karena itu aturannya nona, dan saya merasa janggal jika mendengarnya juga." jelas asisten Andi.


"mmh,,baik lah asis...ah maksudnya Andi" senyum Ratih yang menerima saran asisten Andi.


Setelah itu Ratih sibuk dengan gadget nya. tidak ada percakapan lagi hingga sampai didepan bandara.


" baik lah nona kita sudah sampai" asisten Andi membuyarkan lamunan Ratih.


"ohya,, baik lah Andi. terima kasih." ucap Ratih yang segera bersiap untuk keluar setelah asisten Andi membuka kan pintu mobil.


~


Bersambung..