My Cousin is My Husband

My Cousin is My Husband
4



Author


"riiiing riiingg"


alarm hp ratih berbunyi menandakan waktu 15 menit lagi azan subuh berkumandang. dia merabany dan mematikan bunyi yang terus berdering. ia takut itu akan menggangu tidur nyenyanya Dafa.


Ratih menarik selimut dari tubuhnya sembari duduk. dia melihat Dafa masih terlelap dengan nyenyak ya.


ia tatap wajah tampan nya Dafa untuk barang sejenak." mas, apakah aku sedang bermimpi?" sambil menatap lekat wajah tampan itu.


"alis yang tebal, rahang yang kokoh, bibir yang begitu menggoda siapapun yang melihat nya. Tuhan, begitu sempurnanya ciptaan-Mu." gumam nya Ratih yang tidak mungkin ia katakan secara langsung. ia hanya bisa mengagumi secara diam-diam untuk saat ini.


lalu Ratih beranjak dari kasur menuju kamar mandi dan sebelumnya dia mengambil handuk dan pakaian untuk dipakai di kamar mandi. karena kalau pakai di luar kamar mandi, ia masih malu dan belum terbiasa. nanti takutnya kayak di novel-novel romantis gitu. "hihihi" Ratih cekikikan sendiri jika membayangkan hal itu. "ih, Ratih. kamu apaan sih. membayangkan yang hal aneh." sambil memukul pelan kepalanya sendiri.


tidak butuh lama untuk mandi dan berpakaian lengkap sebelum azan berkumandang. ia pun keluar. ia mendekat kearah Dafa yang masih terlelap. "bangunin ngak, bangunin ngak, bangunin ngak" ia terus berkata sambil menggerakkan jarinya. "ah bangunin aja, kan dah mau subuh". gumam Ratih yang agak kasih melihat dafa yang terlihat kelelahan.


"Mas,bangun." sambil menggerakkan bahu Dafa. "Alhamdulillah, udah azan." gumam ratih. "Mas, udah azan subuh mas". yang terus menggerakkan tubuh Dafa.


merasakan seseorang yang menggerakkan tubuhnya. Dafa mencoba membuka matanya yang agak berat. ia melihat samar. "iya dek? ada apa?" ungkapnya dengan suara parau.


"mas,udah azan subuh. yuks sholat mas." jawab Ratih yang berdiri disamping tempat tidur.


"iya dek, makasih ya" sambil duduk dan mengusap wajahnya yang terasa sangat mengantuk.


"tunggu ya dek,,kita sholat berjamaah".Dafa berkata demikian seraya melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"baik mas" langkah nya mengambil mukena dan mempersiapkan sajadah untuk mereka sholat.


~


setelah melakukan sholat subuh. Dafa duduk di disofa dan sibuk dengan handphone nya. sedangkan Ratih pergi ke dapur mempersiapkan sarapan pagi.


"eh,pengantin baru kok kedapur" goda mama mertuanya yang sudah duluan disana. "iya ma,ini mau buatin kopi untuk mas Dafa." ungkap Ratih. "gitu baru istri Sholehah" sambung mamanya Ratih yang sudah senyum-senyum menatap anak sulungnya itu.


~


"mas, ini kopi buat mas. Ratih ngak tau apakah mas suka atau tidak." ungkap Ratih sambil meletakkannya di atas meja.


"terima kasih dek" balas Dafa.


sejenak suasana agak canggung. mereka saling menatap dan tidak tau apa yang sedang mereka pikirkan.


"dek, dek Ratih" sambil memecah kecanggungan itu.


"eh, iya mas." ucap Ratih agak terbata.


"duduk sini" ucap Dafa sambil menepuk sofa yang disamping nya.


"i..iya mas" balas Ratih yang tampak ragu.


"ngak usah ragu gitu. kamu takut dengan mas?ungkap Dafa yang mulai mencairkan suasana.


"eeh,,ngak mas. aku agak ngak terbiasa aja." jawab Ratih sekenanya


"nanti harus di biasakan, karena kita udah sah. ngak perlu malu-malu lagi. ok?" Dafa menatap Ratih sambil memegang bahunya Ratih.


"iya mas" kawah ratih yang tampak merona dan jantung nya berdegum kecang karena terlalu dekat dengan Dafa. dan begitupun dengan sentuhan Dafa di bahunya Ratih.


Cup


tiba-tiba Dafa mengecup kilas bibir nya Ratih dan


bersambung~~