
mmmh,"anggukan kecil Ratih yang juga menginginkan hal yang sama.
Artinya harapan nya untuk memiliki hati Dafa perlahan-lahan akan terwujud. semoga setelah ini hubungan mereka akan lebih baik lagi.
~
Suara alarm sholat subuh yang mampu membangunkan insan yang masih dalam peraduannya.
"mmmmh..sudah subuuh.." gumam Ratih yang masih setengah sadar.
"aakhh.."ketika menggeliatkan tubuh nya. rasa nyeri bagian tubuh setelah menjadi seorang istri sesungguhnya.
mengingat hal itu,ia tersenyum dengan apa yang telah terjadi. Ratih mencoba untuk bangun dan perlahan mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.
setelah selesai, ia melihat suami nya masih terlelap dengan nyenyak.
"mas, bangun mas. udah subuh." memanggil Dafa yang masih terlelap.
"mmmh,,iya dek. jam berapa sekarang?"berusaha membuka mata nya.
"udah jam 5.10 mas. yuk mandi dulu trus wudhu. kita sholat bareng. aku tunggu in mas." beber Ratih panjang lebar. Dafa langsung beranjak menuju kamar mandi.
Kegiatan subuh pertama kali setelah menjadi suami istri sesungguhnya berjalan dengan lancar.
~
Ratih didapur memasak nasi goreng bawang spesial. karena masakan andalan Ratih jika berada dirumah orang tuanya. nasi goreng bawang nya selalu menjadi favorit jika di pagi hari sebelum beraktivitas.
"Morning pa" sapa Dafa yang melihat papanya sedang membaca koran diruang tengah sambil menyeruput kopi buatan Ratih.
"Pagi,Bagaimana semalam?lancar??" guyonan papanya.
"apaan sih pa,,jangan nanya-nanya."elak Dafa.
"dek,kamu masak apa?"ucapnya setelah berlalu dari tempat papanya dan mendekati arah dapur.
"baik lah,mas tunggu". lalu beranjak duduk di tempat meja makan.
"sebentar ya mas,ini udah masak kok."ungkap Ratih yang menata nasi goreng buatannya diatas meja.
"pa,yuk sarapan." panggil Ratih mendekati papa mertuanya.
"udah masak ya. baik kita sarapan" beranjak dari ruang tamu menuju meja makan.
"wah,sudah tercium aroma enak ini Ratih. memang ngak salah mama mu milih menantu. yang melayani perut suami" ucap papanya yang menyanjung Ratih.
"apaan sih pa,lebay deh. inikan belum tentu enak. dicoba dulu" protes Dafa yang kurang senang dengan pujian papanya itu. entah karena iri nanti kasih sayang papanya beralih kepada Ratih.
Ratih yang mendengar perdebatan ayah dan anak itu hanya bisa tersenyum saja.
"wah Ratih, ini nasi goreng sederhana dan terenak yang pernah papa rasakan." ungkap papanya jujur.
"ditambah dengan seruputan kopi l*Wak yang kamu bawa dari negara kita"pujian papanya setelah menyeruput kopi instan andalan Ratih yang notabene nya pencinta kopi.
"enak juga nasi gorengnya.ah,palingan hanya bisa nasi goreng aja" batin Dafa yang agak gengsi mengungkapkan isi hatinya.
"gimana Dafa?enak kan?"timpal papanya
"mmh,,biasa pa. masih bisa dimakan" jawabnya dengan wajah datar seperti tanpa ada niat memberikan pujian atas masakan Ratih.
Ratih yang melihat raut wajah Dafa yang datar itu merasa kurang bersemangat. padahal, ia ingin menunjukkan kemampuannya bahwa dia juga bisa menjadi seorang istri yang memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya.
Awalnya ada setitik harapan di hati Ratih kehidupan rumah tangganya akan membaik. namun, dari hal kecil ini saja Ratih bisa melihat Dafa yang cuek dan tidak ada keinginan membina rumah tangga sesungguhnya.
"Ya Allah, semoga mas Dafa benar-benar menjadi seorang imam yang bisa menuntun bahtera rumah tangga yang sakinnah mawaddah warrahmah" batinnya untuk mengobati rasa sesak yang tidak bisa diungkapkan dengan perkataan.
"ya Allah, kenapa sesak sekali melihat raut wajah suamiku yang terlihat datar saja?"batinnya sambil melihat sekilas suaminya itu kemudian menunduk lagi.
Bersambung~~