My Cousin is My Husband

My Cousin is My Husband
19



Author POV


"silahkan nona" ungkap asisten Andi yang membukakan pintu mobil untuk Ratih ketika telah sampai di depan villa.


"terima kasih Andi." ungkap Ratih yang hendak beranjak keluar dari mobil.


" wah, bagus sekali villa nya." gumam Ratih dan asisten nya hanya membalas dengan senyuman karena masih bisa mendengar perkataan istri bos nya.


"mari nona, silahkan masuk." arahan asistennya untuk segera masuk ke villa.


Sedangkan barang- barang bawaan mereka di bawa oleh dua orang yang bertugas di villa.


Ratih pun masuk. tentunya sangat tercengang dengan interiornya yang terlihat lebih elegan dan besar dibandingkan apartemen yang di tinggalinya saat ini.


"waaah" yang pandangan takjub dengan gaya arsitektur klasik yang disuguhkan didepan matanya.


"waah empuknya" ketika mendudukkan salah satu sofa diruang tamu.


" Rasa nya seperti negeri dongeng" gumamnya lagi dengan senyuman yang terus mengembang. Tentu Ratih sangat terpesona dengan fasilitas yang mewah sehingga menampilkan kesan villa itu elegan. asisten nya hanya membiarkan nona nya yang masih terlihat takjub dengan apa yang dilihatnya.


"nona,silahkan untuk beristirahat ke lantai 2 sebelah kanan dan itu adalah ruangan nona. barang bawaan nona sudah ada di kamar." ucap Andi yang membuyarkan pikiran Ratih.


"baik Andi, terima kasih. kesempatan tinggal disini tidak boleh di sia- sia kan." ucap Ratih dengan semangat nya seperti tidak ingat lagi dengan masalahnya.


"saya harus pergi dulu nona." pamit asisten Andi.


"iya Andi" anggukan Ratih tanda setuju.


Tidak berselang waktu Andi pergi. Ratih pun memilih untuk beranjak ke kamar yang sudah diberitahu oleh Andi.


" waaaw, besarnya. aroma nya sungguh nyaman." batin Ratih ketika memasuki kamar nya. memang benar itu kamanya ketika Ia melihat barang bawaannya sudah tersusun rapi seperti berada didekat lemari pakaian.


"waah, empuk dan nyaman ya. serasa hanya ingin di kamar saja. "ucap ceplos Ratih.


"hah, di kamar aja? apaan sih Ratih ngak usah berpikir yang tidak akan pernah terjadi." batin Ratih yang menguatkan hatinya lagi.


"udah Ratih, tidak usah memikirkan orang tidak memikirkan mu." untuk menjauhkan pikiran tentang kenyataan sebenarnya.


"Aaarg, gerah nya..mending mandi dulu ah." ucap Ratih pada diri nya agar pikirannya teralih kan.


Memang untuk keberangkatan mereka Jakarta Paris membutuhkan waktu.


"iiih segeeer nya." ucap Ratih yang keluar dari kamar mandi menuju koper baju. Ratih perlahan membuka pakaiannya. dia menggunakan baju tidur panjang warna ungu kesayangannya. Benar sekali, Ratih hanya punya stok baju tidur berwarna ungu semuanya dan dengan model yang sama.


Setelah berpakaian, Ratih memilih berjalan ke arah meja rias untuk mengeringkan rambut panjang nya yang hitam legam.


Setelah mengeringkan rambut, Ratih memilih untuk beristirahat di kasur. karena beristirahat dan tidur di atas pesawat membuat seluruh tubuhnya pegal- pegal. ditambah lagi telinga nya yang kurang nyaman terasa berdengung dan sakit ketika diatas pesawat. tanpa sadar Ratih pun terlelap.


~


"Ratih.."


tok tok tok


"Ratih"


Tok tok tok


Dafa menggedor pintu kamar nya. karena semenjak masuk kamar Ratih langsung mengunci kamarnya.


mendengar pintu di ketuk. Ratih pun menggeliat dan tersadar ada yang memanggil namanya.


tentunya Ratih segera beranjak dari kasur nya dengan langkah lemah khas orang yang baru bangun tidur. tentu Ratih tau dan kenal dengan suara siapa yang sudah membangunkannya.


"Ya mas.." ungkap Ratih ketika melihat yang datang dan sudah berdiri di depan pintu.


~~


bersambung