My Cousin is My Husband

My Cousin is My Husband
1



Ratih POV~


Perlahan ku coba membuka mataku dan ku merasa kepalaku sangat berat untuk di gerakkan. Kulihat mama duduk di kursi yang di letakkan dekat tempat tidur ku


“Ratih sayang, apakah masih pusing?” tatapan khawatir yang tersirat diwajahnya mamaku.


“Ratih hanya sedikit pusing mungkin karena belum sarapan saja ma” alasan ku untuk menguatkan hatiku yang tengah terluka mendengar kabar yang menyakitkan. Walaupun kami belum terlalu mengenal, tapi harapan untuk membina rumah tangga yang sakinah mawadah hanyalah angan-angan saja.


“ mama suapi ya buburnya biar cepat pulih” ucap mama sambil mengambil mangkok yang ada di atas meja.


“ Iya ma” dengan memperbaiki posisiku menjadi duduk.


Tiba-tiba terdengar suara pintu masuk dan ku lihat wajah tampan yang setiap kaum hawa melihatnya pasti akan takluk yakni kakak sepupuku Dafa.


“Kak Dafa, ada apa kak?” tanya ku dengan sedikit senyuman terbaik ku. Karena kami memang sudah lama sekali tidak berjumpa. Terakhir kali ketika aku masih SMA.


“nggak ada, Cuma lihatin kamu aja Dek. Kamu udah baikan?” balasnya dengan tatapan yang penuh pengertian.


“Kalian bicara aja dulu. Dafa, Kamu bisa bantu suapi Ratih ya?” Sela mama dan memberikan mangkok bubur ke kak Dafa.


“Iya Ma. Dafa bisa. Mama istirahat saja dulu.” balas Dafa dan langsung duduk di bibir ranjang tempat tidurku.


“Mama?”batinku


”Sejak kapan kak Dafa panggil mamaku dengan panggilan mama? Bukannya selalu tante? ” pikirku agak bingung.


“Mulai hari ini, Mama kamu juga Mama mas juga dan harus panggil Mas dengan panggilan Mas tidak boleh kakak lagi ya. Karena mulai hari ini dan seterusnya kamu adalah istri sah mas.” Jelas Kak Dafa dengan senyumnya yang menawan.


“Apa mas? Apa aku tidak salah dengar?” keterkejutan yang ku perlihatkan dengan jelas.


“Tidak, kamu tidak salah dengar.” mas Dafa yang menarik tangan ku dengan tangan kanannya dan mengusap lembut dengan ibu jarinya dengan lembut. Aku merasakan hal aneh di dadaku yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Entah itu karena keterkejutan atau memang bahagia mendengar penuturan Mas Dafa.


“mas tadi mengucapkan ijab dan qabul ketika kami belum sadar. Setelah kamu sadar dan bertenaga lagi kita menandatangani buku nikah kita secara hukum. Jadi, sekarang kamu mas suapi ya.” ungkap mas Dafa dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sungguh sangat meneduhkan dan membuat jantungku berdetak tak karuan.


“Iya mas, aku mau.” Angguk ku


“Mau apa?” senyum mas Dafa menyeringai.


“ya mau makan bubur lah mas. Masak aku mau apa coba?” sahut ku cepat.


“Mas sangka kamu mau ma*** l*** dengan mas sekarang” senyum jail mas dafa yang belum pernah kulihat.


“apaan sih mas. Jangan bercanda.” Balas ku dengan mengalihkan wajah ku kearah lain untuk menutupi gugup ku dan mas Dafa pasti tahu itu.


“hahaha, ya udah. Mas cuma menggoda kamu saja. Sudah lama sekali rasanya mas tidak seperti ini dengan kamu dek. Jadi kangen aja. Nih mas suapi lagi ya” mas Dafa menyuapkan bubur yang hampir mulai mendingin.


Perbincangan kami terus berlanjut sambil memakan habis bubur itu dengan paksaan mas dafa.


Dafa POV~


“Habis suapan terakhir ini kita langsung ke bawah ya dek. Buat tanda tangani buku nikah kita karena bapak penghulunya sudah lama menunggu kita” kata ku sambil memberikan suapan terakhir.


“ ya Kak, eh iya mas” dia tersenyum pada ku dengan gugup dan aku tahu itu. Tapi aku hanya balas dengan senyuman. Aku harus menjalankan sandiwara ini dengan sempurna pikirku.


“cium dong kening istrinya biar fotonya lebih romantis”pinta mamaku


“iya ma” dengan perasaan aneh ku mulai mengecup singkat kening Ratih.


“Kok sebentar, kan belum di foto lagi. Lebih lama lagi.” Pinta mama mertua ku dengan senyuman dan ku lirik para tamu memperhatikan kami. Dan akhirnya aku dengan terpaksa mengecup lama kening Ratih.


“hahaha. Pengantin baru memang malu-malu ya” sahut para tamu yang hadir dan melihat begitu kaku nya kami. Dan kulihat pipi Ratih yang merah merona. Entah kenapa aku suka melihatnya.


“hei, Dafa. Mikirin apa kamu. Jangan sampai kamu menyukainya. Kamu melakukan ini hanya untuk sandiwara saja. ingat kamu punya Sofia. hanya Sofia yang bisa menjadi ibu dari anak-anak ku” logikaku berpikir agar tidak goyah dengan kehadiran Ratih.


Author POV~


Akhirnya pernikahan mereka selesai. Ijab dan qobul serta resepsi dilakukan satu hari saja. Jadi mereka menyalami para tamu yang hadir hingga sore hari.


Mereka memasuki ruang pengantin yang telah disediakan.


"mas ini handuknya. mas duluan aja mandi" ucap Ratih yang masih belum terbiasa dengan keadaannya sekarang ini.


"baik, mas duluan ya" balasnya sambil mengambil handuk yang kuberikan.


"tapi,nggak mau sekalian kita mandi bersama?"tiba-tiba mas Dafa mendekat dan sekarang aku terkunci di dua lengan nya.


"nggak usah mas, a-ku mau membersikan riasan ku dulu" jawab ku dengan terbata-bata.


"yakin nih?"Dafa mendekatkan ke telinga Ratih yang membuat membuatnya merasa geli.


"yakin mas, udah ya mas godain nya"ungkap ku sambil merosot ke bawah dan berlari ke arah meja riasan.


"hahaha" Dafa tertawa karena berhasil mengerjai Ratih dan langsung masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Dafa selesai dan keluar dengan percaya diri dengan menggunakan sehelai handuk di pinggangnya.


Ratih secara tidak sadar melihat penampakkan yang hanya biasa dilihat di drama korea yang dia tonton. Tapi ini nyata, sungguh tampan dengan rambut setengah basah serta otot berbentuk kotak-kotak yang cukup menggiurkan untuk siapapun yang melihatnya.


“Aaaahhh....Mas! pakai bajunya dulu dikamar mandi!” teriak Ratih yang tersadar dengan ketampanan suaminya itu.


“apaan sih dek, teriak-teriak. Biasa saja. kita kan udah suami istri” membuat Dafa untuk terus mendekati ratih dan berbisik.


“giliran kamu mandi lagi ya dek, habis ini kita mau olahraga bersama” dengan suara seraknya yang membuat gemuruh di dada Ratih.


“ada apa ini?kenapa jantung ku berdetak kencang sekali. Jangan sampai Mas Dafa mendengarkannya.” Ratih yang sibuk dengan pikirannya.


“Ratih... Ratih..!!.” Suara Dafa yang membuyarkan lamunannya.


“ Eh, iya mas. Aku mandi dulu” Ratih yang lari sekencang-kencangnya ke kamar mandi tanpa menoleh ke belakang.


“aneh, digoda sedikit saja sudah jatuh dengan perangkap ku. Ratih mari kita terus bermain-mainnya. Akan aku buat kamu menyesal dengan pernikahan ini dan meminta perceraian terjadi secepatnya.”dengan senyum licik Dafa yang penuh kebencian.


Bersambung~~