My Cousin is My Husband

My Cousin is My Husband
2



Ratih-POV


"aduh aku lupa dengan bajunya mas Dafa. cuci ngak, cuci ngak, aaah cuci aja dulu. dia kan udah jadi suamiku. eeeeh,suami? mimpi apa ya aku semalam?mas Dafa jadi suami ku?"pikir Ratih yang bermonolog dengan hatinya sambil merendam pakaiannya dan Dafa.


"aku mau berendam aja dulu ah."pikirnya sambil memasukkan sabun dengan aroma aloevera.


"waaah,,wanginyaaaa..ini adalah salah nikmat hidup yang tidak boleh di abaikan.Ratih,,seberat. apapun masalah mu,Jangan lupa banyak hal yang harus kamu syukuri."Ratih yang bermonolog dan mengusap lembut rambut nya sendiri seperti mengusap kepala anak kecil dan kemudian langsung berendam.


"tok tok tok"


"Ratih,Kenapa lama sekali di kamar mandinya?panggil mas Dafa.


"iya mas,,ini tinggal sedikit lagi selesai"sahutku


Beberapa saat kemudian aku keluar dan melihat mas Dafa tengah berdiri di samping pintu.


"eh,kenapa mas disini?tanya ku heran


"ngak mas cuma bosan aja,,jadi nunggu kamu siap habis itu kita sama-sama kebawah.


"oo gitu."sahut ku Sambil mengangguk.


"tapi aku ke bawahnya habis magrib Lo mas..bentar lagi kan mau magrib." sambungku lagi


"kalau gitu,,nunggu istri sendiri ngak masalah kan? pintanya lagi.


"hehe,,iya sih" senyumku yang terkesan sedikit kikuk.


kami saling menatap untuk sejenak. entah kenapa tatap kami saling terkunci.


"mas,aku menjemur pakai kita dulu ya" kata ku memutus tatap Kami


"pantesan kamu lama di dalam,ternyata kamu nyuci" balasnya mas Dafa Sambil melihat ember yang ku pegang.


"kamu nyuci baju mas juga?tanya nya ketika melihat bajunya juga.


"iya ngak masalah sih,,tapi bisa mas bawa ke laundry. takutnya kamu capek dek. bawa sini ember nya"


sambil mengambil pegangan ember yang ada di tangan ku.


"eh,ngak usah mas. biar Ratih aja.ngak terlalu berat kok."tolak ku.


"mas mau bantuin aja, mas mau lebih dekat dengan Ratih".senyumnya dengan sangat menawan.


"wah mas Jangan senyum kayak gitu. aku bisa pingsan liat nya." aku terus membatin. kemudian ku terpaksa harus memberikan ember itu ke tangan mas Dafa. secara tidak sengaja tangan kami bersentuhan. ini seperti tidak biasanya. hal ini belum pernah kurasakan.seperti tersengat listrik. jantungku berdebar lebih kencang. padahal sebelumnya sudah pernah bersentuhan. entah kenapa setelah menikah rasanya sangat beda. aku yang terus membatin sambil mengikuti langkah Dafa ke area untuk jemuran.


"mas,tunggu di sofa aja ya. biar Ratih jemur pakaian kita dulu." sambil mengambil baju ku.


"mas berdiri disini saja,nungguin kamu" mas Dafa berdiri sampingku sambil melihat pemandangan sore menjelang magrib ini.


"mas,kenapa mas mau menerima pernikahan ini?tanya ku sambil mengambil pakaian d*l*m nya mas dafa.dan ketika itu mas Dafa berbalik dan melihat ku memegangnya. sesaat aku agak kikuk. tapi ku mencoba untuk tenang.


"mungkin dah jodoh kita?" sahutnya


"jadi mas terima gitu aja?memang mas ngak ada seseorang yang mas suka gitu?tanya ku beruntun.


"mmmmh,ohya kamu sepertinya udah terbiasa mencuci pakaian laki-laki ya? tanya nya balik.


"sebenarnya aku agak kecewa,tapi ngak masalah.perlahan aja Ratih "batin ku.


"iya mas,,dulu aku pernah kerja parttime di laundry,jadi agak udah terbiasa"Bohong ku. padahal sebenarnya aku agak malu.


"mmh,,ternyata ada banyak cerita yang kamu miliki ya dek. mas jadi penasaran jadi nya" sambil membalikkan lagi tubuhnya ke arah pemandangan sore itu.


"yees,dah selesai mas. yuk kita masuk lagi.ini dah mau magrib." sambil berjalan dalam kamar dan di ikuti juga oleh mas Dafa.


"ini senja pertama kami. walaupun tidak seromantis drama di televisi. tapi aku menikmatinya. aku akan berusaha menerima pernikahan ini dengan ikhlas. terima kasih mas dafa"batin ku