
Tidak terasa kehamilan Ciki sudah sembilan bulan, sebentar lagi mereka akan memiliki jagoan. Ciki tengah berjuang di ruang bersalin dan di temani sang suami yang setia mendampinginya.
Woeeek! Woeeek! Woeeek!
Suara tangisan sang buah hati membuat Ciki dan Adit bernafas lega. Tidak terasa Adit menangis bahagia menyambut kehadiran sang buah hati, Ciki hanya bisa tersenyum lemah ketika melihat suaminya begitu bahagia.
"Makasih yah sayang." Ujar Adit sembari mencium puncuk kepala sang istri, Ciki hanya tersenyum lembut.
"Nama anak kita siapa mas ?" Tanya Ciki.
"Kamu saja yang memberi nama untuk anak kita, sayang." Jawab Adit.
"Rangga Putra Adtya ?" Ujar Ciki.
"Hm, kedengarannya bagus. Baiklah, mulai sekarang nama anak kita Rangga Putra Aditya." Ujar Adit.
Setelah dua hari di rumah sakit, Ciki di perbolehkan pulang. Adit mengurus administrasi, kemudian membawa sang istri dan buah hatinya untuk pulang ke rumah mereka.
*****
Tujuh hari berlalu setelah Ciki melahirkan, kini tiba waktunya aqiqah untuk Rangga Putra Adtya. Keluarga dan kerabat ikut meramaikan acara aqiqah serta memberi ucapan selamat kepada pasangan suami istri Adit dan Ciki yang tengah berbahagia dengan kehadiran sang buah hati.
"Aku mencintaimu sayang." Ujar Adit sembari memeluk Ciki dari belakang.
"Aku juga Mas." Ujar Ciki.
Ciki tersenyum dan membalik badannya menghadap Adit. Adit kembali mengeratkan pelukannya sembari mengecup bibir istrinya bertubi tubi.
"Apa kalian tidak ingat sudah memiliki anak sekarang ?"
Suara bernada sinis itu membuat ciuman Adit berhenti, Adit dan Ciki berbalik serempak ke arah pintu kamar di mana Fitri sedang berdiri sambil menggendong Rangga.
"hehehe!" Kekeh Ciki.
"Nanti malam baru lanjut bermesraannya, di luar sudah banyak tamu." Ujar Fitri mengomel.
"Siap siap!" Ujar Ciki.
"Nih anak kamu!" Ujar Fitri sembari menyerahkan Rangga ke Ciki.
Fitri keluar setelah menyerahkan Rangga ke ibunya, Adit dan Ciki juga segera keluar menemui tamu undangan yang datang ke haqiqahnya Rangga.
"Selamat yah Cik, Pak Boss atas kelahiran anak pertamanya ?" Ujar Renata memberi ucapan selamat ke sahabatnya.
"Makasih Ta, Kamu kapan nih kenalin babang tamvan ke kita ?" Ujar Ciki ke Renata.
Renata hanya tersenyum kecut mendapat pertanyaan yang membuat dirinya teringat akan kejadian lalu saat dirinya memergoki tunangannya berduaan dengan wanita lain. Renata memang belum menceritakan kejadian pahit yang menimpanya ke sahabatnya itu, ia tidak ingin kalau sahabatnya itu kepikiran dengan masalahnya, di tambah Ciki waktu itu tengah mengandung anak pertama.
"Kenalin calon suaminya ?" Ujar Rendi mencairkan suasana saat melihat mata Renata mulai berkaca kaca.
"yeeeh." Ujar Renata sembari memukul pelan lengan Rendi.
"Wah ada yang jadian nih, traktirannya kapan ?" Ujar Ciki menimpali, Ciki cukup peka dengan perubahan raut wajah Renata saat ia menanyainya tadi.
"Ih, siapa yang jadian." Ujar Renata.
"Tenang aja, secepatnya kita akan jadian." Ujar Rendi dengan nada bercanda.
"Ogah."Ujar Renata.
"Sudah sudah, Kalian tidak usah berantem." Ujar Ciki.
"Dia nih, ya udah gue ke sana dulu. Laper, mau makan." Ujar Renata menunjuk meja makan.
"Ya udah, sana makan. Nanti kalau sudah ada waktu gue ke rumah kamu." Ujar Ciki.
"Thank, Sahabat gue yang terpeka." Ujar Renata sembari memeluk erat Ciki dari samping.
"Ih, jangan peluk peluk tau. Gue lagi gendong Rangga nih. Sana makan, katanya lapar." Ujar Ciki.
"Iyah iyah, lupa. Ya sudah gue ke sana dulu." Ujar Renata sembari berjalan menuju meja makan.
"Ikut." Ujar Rendi mengikuti Renata.
Ciki dan Adit kembali menghampiri para tamu lain yang ikut hadir memberi ucapan selamat atas kelahiran putranya.
Ciki dan Adit serta keluarga besar mereka ikut bahagia atas kelahiran Rangga Putra Raditya.
******************** Tamat ***********************