My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 32



Waktu Istirahat sudah tiba, saat ini Ciki, Renata dan Rendi sedang duduk di kantin kantor. Mereka asyik ngegibah yang tidak berfaedah sama sekali.


"Eh, Kalian berdua punya teman cewek gak ? Kenalin gue dong." Tanya Rendi.


"Eh kutukumpret, bukannya lu sudah punya pacar. Gak usah sok play boy deh lu. Muka pas pas gitu." Ujar Renata ngegas.


"Gue jomblo sekarang. Gue udah putus ama Cewek gue kemarin." Ujar Rendi.


"Kenapa lu putus. Pasti lu di putusin gara gara pacar lu dapat cowok baru yang lebih gagah kan." Ujar Ciki menimpali.


"Enak aja. Gue itu gagah tau, kalian aja yang matanya jilung gak bisa bedain mana gagah mana pas pas an. Dan asal lu tau yah, bukan dia yang mutusin gue. Gue yang mutusin dia." Ujar Rendi.


"Ih, sok banget lu. Pake mutusin Cewek, gak usah sok cakep lu." Ujar Renata.


"Emang kenapa lu putusin pacar lu, bukannya kemarin lu dinner ama dia ?" Tanya Ciki.


"Ternyata, pacar gue itu udah punya cucu tiga, siapa yang gak kaget coba." Ujar Rendi. Sontak saja kedua sahabat wanitanya tertawa terpingkal pingkal.


Ciki dan Renata tertawa bukan karena ceritanya Rendi, tapi karena kebodohan Rendi yang ternyata memacari nenek nenek. Memang Rendi memiliki kelainan dalam memilih pasangan, ia lebih memilih wanita yang lebih tua darinya.


"Kok lu gak tau sih, Di ?" Tanya Ciki penasaran.


"Fotonya itu hasil editan gays atau kamera jahat yang bisa mengubah wajah keriput menjadi mulus." Ujar Rendi.


"Bukannya lu sudah lama pacaran sama cewek lu itu, emang lu belum pernah ketemu ?" Tanya Renata.


"Gue LDR, gue kenal dia lewat media sosial." Ujar Rendi.


"Korban dumay yah lu, turut perihatin." Ujar Ciki sembari tertawa seakan mengejek.


"Bukannya itu cewek yang ngajakin lu nikah waktu itu kan ?" Tanya Renata. Rendi mengangguk.


"Iyah. Gue kemarin janjian buat membicarakan kelanjutan hubungan kita. Pas ketemu, dia di temani dengan anak kecil. Emang sih gue akuin Body nya itu masih hot, apa lagi dadanya gede banget. Kalian mah kalah." Ujar Rendi.


Ciki dan Renata melempar tissu ke wajah Rendi.


"Dasar otak mesum lu." Ujar Ciki, yang di angguki oleh Renata.


"Serius. Gue kira dia itu sama anaknya. Gak masalah lah kalau dia itu janda beranak, tapi pas anak itu manggil dia nenek. Eh buset, Masa iya pernikahan pertama gue udah langsung dapet cucu." Ujar Rendi.


"Yah gak apa lah, anggap aja bonus." Ujar Renata lalu tertawa.


"Sialan lu senang bener ketewain gue. Walau pun gue suka sama cewek mateng, tapi jangan kelewatan mateng juga dong." Ujar Rendi. Ciki dan Renata tidak bisa lagi menahan tawanya, ke dua sohibnya itu benar benar sakit perut karna menertawainya.


"Udah cari yang lain aja. Kasian juga tu nenek nenek, staminanya udah mau habis, tiba tiba dapetnya cowok mesum kaya lu." Ujar Renata.


"Iyah, gue juga merasa di bohongin. Makanya gue putusin." Ujar Rendi.


"Boleh gabung ?" Ujar Adit yang sudah berdiri tepat di samping Ciki, tentu saja seketika tiga sekawan itu merasakan udara semakin sedikit saat Adit datang.


"Boleh, Pak." Ujar Rendi.


Adit langsung mengambil posisi duduk di samping Ciki. Ciki merasa jantungnya berdebar hebar, serasa melompat lompat ingin keluar dari tempatnya.


"Udah makan." Tanya Adit bergumam di dekat telinga Ciki, seperti sedang berbisik.


" Sudah, Pak." Jawab Ciki. Adit mengangguk.


Tanpa mereka sadari, meja mereka menjadi pusat perhatian seisi kantin. Adit tetap santai menikmati makanannya yang baru saja ia pesan, sedangkan tiga sekawan itu merasa kekuranga udara, yang tadinya meja meraka yang paling ribut dan heboh, kini menjadi tenang seperti tidak berpenghuni.


Sampai akhirnya jam masuk kantor tiba, mereka akhirnya bisa bernafas dengan bebas setelah Adit menjauh dari mereka.


****


Waktu pulang sebentar lagi akan tiba, karyawan mulai berkemas. Ciki memilih menunggu Adit untuk keluar dari ruangannya.


"Sudah selesai." Tanya Adit.


"Eh, iyah Pak." Ujar Ciki.


"Jangan panggil pak, kalau lagi berdua dong sayang. Panggil saja Adit kalau kamu masih malu manggil saya mas atau sayang." Ujar Adit.


"Saya tidak terbiasa." Ujar Ciki malu malu.


"Mulai sekarang, biasakan. Saya ini yang akan jadi suami mu nanti. Saya tidak mau yah, jika kita keluar kamu panggi saya Pak. Nanti saya di kira bapak kamu oleh orang orang." Ujar Adit . Ciki tertawa mendengar perkataan Adit.


"Iya iya." Ujar Ciki.


"Iya apa ? Saya suru kamu panggil saya tadi apa, Ciki. Kamu lupa yah." Ujar Adit yang memasang wajah cemberut.


"Iyah sayang." Ujar Ciki gemes dengan tingkah kekanak kanakan kekasihnya itu.


"Siap sayang." Ujar Ciki, Adit senyum bahagia mendengar kata sayang keluar dari mulut Ciki.


Saat hendak keluar dari kantor, tiba tiba ada seorang wanita cantik bak model yang berdiri di depan mereka, entah dari mana asalnya wanita itu.


"Adit." Panggil wanita itu. Wajah ceria Adit berubah jadi datar.


"Kamu ngapain, ke sini." Ujar Adit datar sembari merangkul Ciki seakan takut kalau kekasihnya itu pergi.


"Dit, saya merindukanmu." Ujar wanita itu.


"Kamu jangan datang mencariku lagi, saya tidak mau membuat pacarku salah paham." Ujar Adit, sembari berlalu meninggalkan wanita itu menangis.


Saat di dalam mobil, suasana terasa canggung, Ciki enggan menanyakan hal yang tadi. Sedangkan Adit memikirkan cara agar Ciki tidak salah paham dengannya. Lama tidak ada suara, akhirnya Adit memberanikan diri untuk berbicara.


"Ciki, saya sayang sama kamu. Kamu jangan mikir macam macam tentang tadi." Ujar Adit, memulai percakapan.


"Emang dia siapa, mas ? Kok sampai nangis gitu, kasian." Ujar Ciki, yang memang sedikit merasa kasihan dengan wanita tadi yang di sambut dingin oleh Adit.


"Dia Amarah, yang pernah saya ceritakan ke kamu. Saya benar benar sudah tidak memiliki rasa dengan nya. Saya takut kamu jadi salah paham." Ujar Adit. Ciki tersenyum mendengar perkataan kekasihnya itu.


"Iyah sayang, saya tau kok." Ujar Ciki.


"Eh, kamu tadi manggil saya apa ? sayang ?" Ujar Adit.


"Ih, kamu bilang saya harus terbiasa. Agar setelah menilah tidak memanggilmu lagi, bapak." Ujar Ciki cemberut.


"Kamu jangan cemberut gitu dong, sayang. Saya hanya senang mendengarnya." Ujar Adit sembari mencubit hidung kekasihnya.


"Aw, sakit tau." Ujar Ciki cemberut.


"Sakit yah, sayang. Maaf." Ujar Adit merasa bersalah.


Ciki membuang muka, berpura pura marah.


"Ya sudah, sebagai tanda maaf saya ke kamu, saya akan memberikan kamu ciuman saat kita sampai." Ujar Adit menggoda Ciki.


"Ihhhh." Pipi Ciki merona.


"Sayang." Ujar Adit yang tiba tiba terdengar serius.


"Hm." Ujar Ciki.


"Apa kamu mencitaiku ?" Ujar Adit.


"Kenapa bertanya begitu ?" Tanya Ciki.


"Saya hanya tidak ingin kamu merasa terpaksa berpacaran denganku. Saya ingin mendengar pengakuan darimu secara langsung." Ujar Adit.


Ciki memang belum pernah mengatakan langsung tentang perasaaannya dengan Adit.


"Tentu saja, jika saya tidak mencintai mu. Untuk apa saya berpacaran dengan mu." Ujar Ciki.


"Cie, sudah mulai berbicara tidak formal dengan saya yah." Ujar Adit meledek kekasihnya itu.


Sesampainya di depan apartemennya Ciki, Adit segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ciki. Ciki turun dari mobil.


"Aku antar kamu ke dalam." Ujar Adit.


"Tidak usah, kamu langsung pulang saja. Lagian kamu pasti lelah seharian rapat." Ujar Ciki.


"Hm baik lah." Ujar Adit.


Cup!


Adit mengecup lembut bibir Ciki.


"Sebaiknya kamu memikirkan lamaranku." Ujar Adit sembari mengelus kepala Ciki.


Adit berlalu beberapa menit yang lalu, tapi Ciki masih berdiri mematung memandang kepergian mobil kekasihnya itu. Wajahnya terasa panas, ia seakan ingin melompat karena bahagia. Setelah mobil Adit tidak menghilang dari pandangannya Ciki segera masuk ke apartemennya.


****


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊