
"Masih pagi udah pada ngegibah lu pada. Emang Boss belum datang ?" Tanya Ciki ketika memasuki ruang kerjanya dan melihat kedua sohibnya dan Nabila sedang berbincang bincang.
"Iya, tumben jam segini Boss belum datang." Ujar Rendi.
"Idih, tumben banget lu pagi pagi sumringang gitu." Timpal Renata.
"Gue emang setiap hari ceriah yah, aura gue selalu memancarkan aura positif gak kaya lu bertiga pagi pagi udah ngegosip." Ujar Ciki.
"Mba Ciki, terlalu lama berada di sekitar Pak Adit, jadi ikutan kaku gitu." Ujar Nabila.
"Terserah lu pada. Nih gue ada undangan buat lu bertiga." Ujar Ciki sembari membuka tasnya dan mengeluarkan undangan.
"Siapa yang nikah Cik ?" Tanya Rendi.
"Yah, gue." Ujar Ciki.
"Lo serius Cik." Seru serempak ke tiga teman kantornya itu, saat menerima undangan dari Ciki.
"Mba Ciki prenk kita kali." Ujar Nabila gak percaya, karena selama ini Nabila gak pernah dengar Ciki berpacaran.
"Ih, lu pada gak percaya amat sih ma kecantikan gue." Ujar Ciki narsis.
"Gila! Ciki diam diam menghanyutkan euy. Cowok mana yang kuat menghadapi ke bodohan lu, Cik ? Gue pengen kasi penghargaan buat tuh cowok." Ujar Rendi berlebihan.
Ciki berdecak kesal. " Yang pasti bukan lu." Jawab Ciki.
"Ya, ampum Cik. Pak Adit benar benar serius dengan ucapannya waktu itu." Ujar Renata.
"Pak Adit ? Pak Adit mana maksudnya Mba ?" Tanya Nabila.
"Emang pak Adit siapa lagi yang sering bersama Ciki, kalau bukan Si Boss." Ujar Renata yang emang sudah tau kalau Ciki berpacaran dengan Pak Bossnya itu.
"Eh, serius lu mau nikah sama Pak Adit ?" Tanya Rendi sembari melangkah mendekat pada Ciki, untuk mendapatkan jawaban langsung dari yang bersangkutan.
"Menurut lo!" Ujar Ciki.
"Rendi!" Panggilan itu membuat ke empat orang itu menoleh, ternyata Adit yang menatap Rendi tajam.
"Pak!" Ujar Rendi sembari tersenyum ramah ke Bossnya itu.
"Sudah terima undangan kami kan ? Jadi jangam dekat dekat dengan Ciki." Ujar Adit sembari berjalan mendekati Ciki.
"Ish, jangan berlebihan." Ujar Ciki sembari menyikut pelan pinggang kekasihnya itu.
"Kalau cemburu itu tidak bisa di tahan Mba. Lagian wajarlah kalau Pak Adit marah kalau calon istrinya di dekati laki laki play boy cak tikus gini." Ujar Nabila yang membuat Renata dan Ciki tergelak. Rendi hanya menatap Nabila tajam, Nabila malah bodo amat.
"Sudah, kalian kembali ke kubinel masing masing untuk kerja. Ciki saya tunggu surat pengunduran diri kamu." Ujar Adit sembari melangkah pergi menuju ruangannya.
"Lo mau ressign, Cik." Tanya Renata.
"Yah, peraturan kantor kan begitu. Lagian gue juga mau jadi ibu rumah tangga biasa aja." Ujar Ciki.
"Kita bakalan jarang ketemu lagi dong, bakalan kangen nantinya." Ujar Renata yang di angguk setuju oleh Rendi dan Nabila.
"Kalau kangen kan, masih bisa ketemu di luar kantor atau lu pada ke rumah gue. Lagian Adit gak bakalan marah kok, kalau ngajak kalian ke ruamah." Ujar Ciki.
"Ciee, sekarang udah panggail Adit nie, udah gak pake embel embel Pak lagi." Ujar Rendi.
"Sirik aja lu bujang lapuk." Ujar Ciki.
"Songong amat lu, mentang mentang udah mau nikah. Lu tunggu aja, bentar lagi gue bakan nyusul." Ujar Rendi.
"Sama pacar nenek nenek lu itu." Ujar Renata, Ciki tertawa mendengar Renata mengungkit masalah nenek nenek, sedangkan Nabila hanya cengir gak mengerti dengan pembicaraan mereka.
" Ck, awas aja lu jodoh ma gue baru tau rasa." Ujar Rendi kesal.
"Ogah." Ujar Renata.
****
Adit keluar dari ruangannya, dia menatap satu satu pada karyawannya. Dan tatapannya berhenti pada Ciki yang mulai sibuk menyalakan komputer. Adit tersenyum kecil melihat pipi Ciki yang berisi, ingin rasanya dia mendaratkan bibirnya di pipi gembul yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. Tapi jangankan untuk mencium pipi, menatap matanya saja Adit sudah tidak kuat. Bukan apa apa, Ini di kantor loyah, Adit takut tidam bisa mengontrol dirinya.
Ciki yang merasa di awasi, merasa salah tingkah. Sesekali dia melirik dari ekor matanya. Tapi dia harus merasakan kecewa, saat adit pergi dan masuk ke dalam ruangannya.
Adit masuk ke dalam ruangannya dan mengambil handponnya untuk sekedar mengechat kekasihnya karena takut dirinya akan menyambar Ciki ke dalam pelukannya jika berlama lama menatap wanita miliknya.
Me
Lagi apa, sayang ?
Istriku
Lagi kerja laporan keuangan bulan lalu.
Me
Istriku
Sisa sedikit, sebentar lagi juga selesai. Biar Renata tinggal merekap laporan ke uangan untuk bulan ini. Kasian juga, dia baru di bidang ini.
Me
Baik lah terserah kamu saja. Asal jangan terlalu ke capean, tidak lama lagi kita akan menikah. Jaga kesehatan kamu.
Istriku
Iya, sayang.
Adit tersenyum melihat balasan Chat Ciki.
Me
Kapan kamu bawa surat pengunduran diri kamu, sayang.
Istriku
Saat jam pulang, saya akan bawa ke ruanganmu sayang. Kau tidak sabar ingin mengusirku dari perusahaan yah ?
Me
Bukan begitu sayang, saya hanya tidak ingin kamu menjadi karyawan saya. Saya ingin kamu fokus jaga kesehatan untuk pernikahan kita nanti. Saya sangat memantikan kamu sebagai pengantinku.
Istriku
Aku mengerti, sayang.
Me
Pulang nanti, saya antar kamu yah. Saya sangat merindukanmu.
Istriku
Kita baru saja ketemu tadi, sayang.
Me
Saya merindukanmu lagi.
Istriku
Baiklah, terserah kamu saja.
Me
Sekalian suruh Renata ke ruangan saya untuk mengambil kontrak kerja kenaikan jabatan. Biar besok dia langsung kerja sebagai sekertaris.
Istriku.
Baik lah, sayang.
Percakapan berhenti. Adit memandangi foto kekasihnya yang berada di layar handponenya. Dia tidak bosan hanya sekedar melihat foto Ciki yang sedang tersenyum itu. Dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, ia terus membayangkan wajah kekasihnya itu. Seakan rasa rindu terus menghantuinya. Jika ada yang mengelihatnya, dia sudah di katai Bucin alias budak cinta atau lebay karena dia baru saja keluar dari ruangannya hanya untuk melihat kekasihnya itu. Bucin bener kan si Adit! Cinta memang kadang membuat seseorang berubah, yang tadinya bersifat dingin dan cuek kini ia angat berbeda jauj dengan karakternya yang seakan terus tersenyum dengan hanya membayangkan wajah kekasihnya itu, seakan tidak ingin berada jauh dari Ciki.
Tok! Tok! Tok!
Lamunannya terhenti dengan suara ketukan pintu.
"Masuk." Ujar Adit.
"Permisi, Pak. Kata sekertaris Ciki, bapak manggil saya." Ujar Renata.
"Oh iyah, ini kontrak kerja kamu yang baru. Mulai besok kamu sudah naik jabatan sebagai sekertarisku menggantikan Citra Kirana." Ujar Adit sembari tersenyum menyodorkan Kertas yang akan di tanda tangini Renata dan Adit.
Renata yang melihat senyuman Adit kaget.
Ternyata Boss bisa senyum juga, ckckck Cinta memang membuat orang jadi berbeda yah. Bagus juga tuh si Ciki menggaet si Boss, kalau begini kan enak, tidak bermuka datar dan setiap kali memerintah seakan ingin di makan hidup hidup olehnya. Sebaiknya gue berterima kasi ke Ciki karena dia, Boss gak sering marah marah gak jelas lagi. Batin Renata.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊