
Hari ini adalah hari libur, dan tentunya hari yang di tunggu tunggu oleh kedua sejoli Ciki dan Adit. Ya, karena hari ini Adit akan membawa keluarganya untuk melamar Ciki. Tentu saja mami dan papi nya Ciki sangat sibuk menyambut kedatangan keluarga calon menantu dari anak perempuannya. Walaupun Ciki bukan anak kandung, mami Ranti merasa senang. Pelamaran di adakan di rumah mami Ranti, berhubung apartemen Ciki sangat sempit.
"Cantiknya putri mami, gak terasa anak mami sudah mau nikah, rasanya baru kemarin kamu masih main boneka boneka. Santi pasti sangat senang di alam sana melihat kamu sudah mau nikah." Ujar Ranti.
"Makasih yah Mi, udah mau urusin Fitri ama Ciki. Mami tidak pernah membedakan antara anak kandung mami dengan kami berdua. Saya sayang banget sama mami. Mami saya sangat meridukan Mama, dan Mami selalu ada menjadi pengobat rindu Ciki." Ujar Ciki menitikan air mata.
"Anak mami, jangan nangis dong. Nanti make up kamu luntur lagi, berbahagia lah sayang. Santi juga pasti sangat bahagia. Walau kamu sudah menikah nanti, kamu akan tetap jadi putri mami." Ujar Ranti memeluk putri sulungnya itu.
"Ayo, sekarang kita keluar." Ujar Ranti.
"Emang, Sudah datang ya Mam ?" Tanya Ciki.
"Belum sih, cuman kata orang tua dulu, gak baik anak gadis banyak berkaca nantu auranya ilang." Ujar Ranti.
"Mami, masih aja percaya takhayul." Ujar Ciki.
"Eh, udah ayo cepat keluar siap siap." Ujar Ranti.
"Iya iyah, mami." Ujar Ciki bergegas keluar dari kamarnya.
Ciki membantu Fitri dan Ranti menata kue di ruang tamu, dia juga merapikan bunga dan di simpan pada tengah tengah meja sebagai pemanis dekorasi.
" Gue ini serba bisa yah, Adit beruntung banget dapetin gue." Ujar Ciki memuji dirinya sendiri.
"Beruntung apaan, balik telor ceplok aja gak bisa." Ujar Fitri mencibir dari belakang. Ciki mendengus kesal karena kesenangannya di ganggu oleh sang Adik.
"Eh, saya itu cuman gak jago balik telor ceplok doang, kalau masakan yang lain mah, gak usah di ragukan. Emangnya kamu taunya cuman makan aja." Ujar Ciki, yang memang Ciki paling gak bisa balikin telor ceplok.
"Biarin, kan ada kakak yang jago masak. Kalau gak ada yang jago makan, kan rugi masakan kakak gak ada yang makan." Ujar Fitri.
"Serah lu deh." Ujar Ciki malas meladeni sang adik.
Tidak lama, suara deruan mobil terdengar dari depan rumah. Ada beberapa mobil yang terparkir di sana, bahkan ada yang parkir di luar pagar karena tidak muat di parkiran rumah.
Ciki meneguk salivanya sulit saat melihat keluarga besar Adit, penampilan mereka semua tidak setara dengan Ciki yang sederhana.
"Mami, Ciki minder." Ujar Ciki ke Ranti.
"Gak apa apa, putri ibu udah cantik kok." Ujar Ranti menenangkan putri sulungnya itu.
Ranti segera menarik tangan Ciki untuk menyambut keluarga Adit. Senyum mereka merekah, begitupun dengan keluarga Adit.
"Ini toh, calonnya Adit. Wah Adit memang gak salam memilih calon Istri yang cantik begini." Ujar Ibu Adit memuji Ciki. Ciki hanya tersenyum lembut.
"Ayo, ayo masuk." Ujar Clinton Avery ayah Stefan itu.
Keluarga Adit dan keluarga Ciki berbincang bincang ringan, masing masing memperkenalkan diri, sesekali mereka tertawa, yang membuat rasa gugup Ciki sedikit berkurang.
Sedari tadi Ciki belum melihat batang hidung calon suaminya itu. Ciki menatap pintu rumah Maminya itu mencari cari keberadaan kekasih tercintanya itu.
"Adit mana yah ? Kenapa belum masuk ?" Tanya Ibunya Adit.
"Masih di dalam mobil, dia masih gugup katanya." Ujar Dimas sohib sekaligus wakil direktur perusahaan Adit. Ciki hanya tersenyum malu.
"Dimas, panggil Adit untuk masuk. Kenapa masih di dalam mobil sih ?" Perintah Ibunya Adit.
Tidak lama, Adit dan Dimas datang. Ciki tercengang melihat penampilam Adit yang memakai kemeja batik, yang menambah nilai plus pada Adit.
"Nah, ini dia nih calon mantennya. Dari semalam gak bisa tidur, karena gugup memikirkan hari ini." Ujar Ibu Adit, Adit hanya tersenyum.
Semua keluarga telah duduk, semua tampak hening. Hanya Pak Trijogo atu sering di sapa Pak Jogo ini mulai berbicara, menyampaikan maksud kedatangannya untuk melamar kekasih Anaknya Citra Kirana yang biasa di sapa Ciki itu.
"Ayo, Adit bicaralah." Ujar Ibu Adit, Ratna Prita yang biasa di sapa Prita itu.
Adit menghela nafas panjang. " Iya Bu." Ujar Adit.
" Maksud kedatanga Adit dan keluarga ke sini, Adit mau meminta Ciki sebagai istri Adit. Adit mau menikahi Ciki, mau menjadikannya sebagai pendamping hidup Adit. Menjadikan Ciki sebagai istri Adit. Insya Allah saya siap menjadi imam yang baik untuk Ciki. Selalu menjaga dan setia kepada Ciki sampai kematian yang memisahkan kami." Ujar Adit dengan wajah tegang.
"Ayah sama Mami setuju kalau Adit bersungguh sungguh dengan anak gadis Ayah, tapi pernilahan ini tidak bisa hanya saya yang menerima. Kalau anak Ayah Ciki menerima lamaran nak Adit maka saya juga pasti akan menyetujuinya." Ujar Clinton Avery.
Semua mata menatap Ciki, menunggu jawaban darinya. "Jadi nak, kamu mau menerima Adit yang banyak kekurangan ini ?" Ujar Pak Jogo ayah Adit.
Dengan malu malu, Ciki mengangguk.
"Saya siap jadi istri Mas Adit." Ujar Ciki dengan wajah menunduk.
"Alhamdulillah, acara lamaran ini lancar. Jadi kapan nih kalian menentukan tanggal pernikahan kalian." Tanya Prita Ibu Adit.
"Adit sudah memikirkan ini, mungkin dua minggu lagi. Itupum kalau Ciki setuju." Ujar Adit.
"Ciki setujuh, dari Mas Adit saja." Ujar Ciki.
"Alhamdulillah, kalau begitu Adit sekarang sudah bisa memasangkan cincin tunangan." Ujar Prita lagi.
Adit berjalan mendekat ke Ciki, Ciki pun bangu dari tempat duduknya. Adit menyematkan Cincin berlian pada jari masil Ciki, begitu pun Ciki menyematkan cincin polos ke jari manis Adit yang sudah di sediakan keluarga Adit.
"Alhamdulillah." Ucap syukur semua orang yang hadir di acara pelamaran itu. Adit dan Ciki sangat bahagia.
Bagi Ciki ini bagaikan mimpi, di mana dulu dia sangan membenci sikap Adit yang dingin dan galak terhadapnya. Ia tidak menyangka pria itulah yang akan menjadi imam di dalam hidupnya, menjadi pelengkap hidupnya.
Begitupun dengan Adit, ia tidak menyangka kalau dirinya akan jatuh cinta lagi setelah penghianatan mantan kekasihnya. Bermula ia tidak tertarik sama sekali dengan sekertarisnya itu, karena menganghap Ciki akan tetap sama dengan sekertaris sebelumnya yang ia pecat yang terus menempel dan menggodanya. Tapi tidak ia sangka kalau Ciki malah bersikap sebaliknya dengan dirinya, Ciki bahkan sering memaki di belakangnya. Ciki tidak pernah menunjukan sikap seakan menggodanya, dan itu membuat Adit merasa penasaran. Tidak lama, ia merasa ada yang kurang jika tidak melihat wajah sekertarisnya itu, dan terus membuat masalah dengannya agar ia dapat berlama lama dengan Ciki.
Adit tidak menyangka kalau dirinya akan jatuh cinta pada Ciki, bahkan melihat Ciki berbicara dengan karyawan laki laki saja membuat dirinya terasa marah.
Kini dirinya akan menjadi imam bagi Ciki dan keluarga kecilnya nanti.
"I LOVE YOU CIKI."
"LOVE YOU TO MAS."
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊