
Setelah itu Adit menyusul Ciki, mereka pun akhirnya meninggalkan area kantor. Di dalam perjalanan, terciptalah sebuah kecanggungan. Ciki yang sedang enggan berbasa basi hanya bisa diam, begitu juga dengan Adit yang hanya fokus melihat ke arah depan. Ciki yang sedari tadi menatap ke jalan dengan kepala yanh di sandarkan ke pintu kaca mobil itu pun langsung menegakkan kepalanya dan melihat ke arah depan setelah mobil memasuki area Mall.
Doi mau ngajak saya belanja ya ? . Batin Ciki berseru riang.
"Ayo turun." Perintah Adit setelah memarkirkan mobilnya.
Dengan semangat empat lima, Ciki turun dari mobil. Adit pun turun dan berjalan memutar menghampiri Ciki, tanpa ragu Adit menggenggam tangan Ciki dan membawanya pergi meninggalkan parkiran Mall. Ciki merasa ada sensasi berbeda, seperti ada yang menggelitik, dia merasa sedang berada di tengah taman bunga bunga yang sedang bermekaran. Terasa sangan indah dan membuat Ciki serasa ingin menghentikan waktu agar keindahan ini tidak akan berlalu.
Terlalu sibuk nya merasakan kebahagiaan, Ciki sampai tidak sadar kalau dirinya di bawa ke toko buku.
"Saya mau cari buku dulu." Ujar Adit sembari melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ciki. Ciki bagaikan di bangunkan dari mimpi indahnya. Dia tercengang dengan mulut yang terbuka lebar.
"Toko buku ?" Tanya Ciki setengah berteriak.
"Ssssstt. Kecilkan suaramu, Ciki." Perintah Adit. Adit segera pergi menuju rak buku bertema wirausaha.
Ciki menghentakkan kakinya berulang kali. "Saya di PHP in lagi, saya pikir dia mau ngajak nonton kek, shoping kek." Gerutu Ciki kesal.
Sedengkan Adit malah tertawa kecil melihat tingkah Ciki yang menurutnya menggemaskan " Dasar anak anak." Gumam Adit.
Ciki menghentakkan kakinya berkali kali, saat melihat Adit masih saja menikmati membaca buku.
Ciki mencoba berkeliling, mencari cari buku yang siapa tau ada yang bisa menarik perhatiannya, sehingga dia bisa melupakan Adit. Tapi sayangnya, moodnya yang sedang buruk, tidak mampu membangkitkan hasrat ingin membaca buku. Jangankan untuk melihat isinya, melihat covernya saja Ciki sudah pening. Apalagi kalau harus melihat bubu bubu yang tebal.
"Kamu mau beli buku apa ?" Pertanyaan Adit membuat Ciki terlejut, pasalnya Adit berdiri tepat di sampingnya sembari berbisik. Ciki membalik badannya. Langsung saja, Ciki merasa terhimpit dengan tubuh kekarnya Adit dan juga rak buku.
Ciki sedikit memundukan badannya. "Enggak Ada." Sahutnya.
Tapi pilihannya untuk mundur justru membuatnya semakin terpojok, sampai punggungnya harus menempel pada rak buku. Adit melangkah mendekat pada Ciki. Ciki berubah menjadi was was.
"Pak, ini tempat umum." Kata Ciki gugup.
Adit menyeringai. " Apa ada yang bilang ini gudang ?" Tanya Adit.
Ciki meneguk salivanya. Jarak antara dirinya dan Adit semakin menipis yang membuatnya semakin kaku. Matanya memcari cari alat agar bisa dia jadikan senjata. Melihat buku yang cukup tebal, Ciki langsung menarik buku tersebut dengan cepat dan melemparkannya pada Adit.
"Aw." Adit memegang dahinya yang menjadi tempat pendaratan senjata Ciki. Ciki tersenyum bangga.
"Makanya jangan macam macam, Pak." Ujar Ciki.
Adit menatap Ciki. " Macem macem apa ? emang kamu kira saya mau apa ? saya cuma mau mengambil buku ini." Ciki menggeser sedikit saat Adit mengambil buku yang berada di sampingnya .
"Ini." Ujar Adit sembari menujuk bukunya.
"O-oh. Maaf, Pak. Saya kira tadi anda mau-"
"Cuci otak mu dulu Ciki, pikiran kotormu bisa membuat orang celaka." Ujar Adit sembari meninggalkan Ciki yang masih terdia..
"Dih. Bukan salah saya juga dong, apa salahnya dia minta di ambilin bukunya, atau suruh saya minggir sedikit. Gelagak dia juga udah kaya orang yang baru nemu korbannya. Jangan salahin saya , kalau saya curiga dong." Gerutu Ciki.
Ciki segera meninggalkan tempat itu, dia merasa kesal dengan Adit. Jadi buat apa di tunggu lagi. Ciki juga tidak tahu Adit kemana, Ciki tidak peduli.
Dengan wajah yang menekuk kesal, Ciki berjalan keluar Mall. Melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul tujuh tiga puluh malam. Sedangkan dia sudah merasa lapar, Ciki harus mendengar labrakan Cacing di perutnya. Sangat menyebalkan.
Ciki mengambil ponsel di dalam tas, dia langsung membuka aplikasi ojek online, tapi sayangnya, ponsel nya yang lupa ia charger harus mati saat di perlukan. Ciki berdecak kesal.
"Argh. Sial!" Ciki menunduk, hampir terisak.
"Pak, Adit!" Ujar Ciki masih kesal.
"Kenapa kamu keluar ? saya cari kamu di dalam gak ketemu ketemu." Ujar Adit, seperti merasa berasalah karena niatnya hanya ingin mengerjai wanitanya itu, tapi Ciki malah benar benar kesal dengan dirinya.
Ciki tidak menjawap pertanyaan Adit.
"Ya sudah, kita pergi makan saja." Ajak Adit, tapi Ciki terlajur badmood.
"Kita langsung pulang saja," Ujar Ciki yang masih kesal.
Adit kali ini mengalah dan gak berdebat dengan Ciki, takut membuat mood Ciki semakin buruk. Ia kemudian mengantar wanitanya itu pulang ke apartemennya.
Adit memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen Ciki. Ciki hanya bisa tercengang. Mau apa lagi sih ini orang pake masukin mobilnya ke parkiran. Batin Ciki.
Adit mematikan mesin mobilnya. " Ayo turun." Ujar Adit.
Ciki masih memperhatikan Adit dengan lekat. "Bapak mau apa ?" Tanya Ciki akhirnya bersuara setelah sedari tadi diam.
"Mau mampirlah, saya lapar mau makan, saya juga begini gara gara kamu gak mau singgah makan." Ujar Adit enteng dan keluar dari mobil.
"Kenapa tidak makan di rumah bapak saja atau bapak singgah makan setelah pulang dari sini." Ujar Ciki.
"Kamu yang buat saya kelaparan, kamu harus tanggung jawab dong. Lagian buat apa saya makan di luar sendiri, sekarang kan ada kamu." Ujar Adit sembari meninggalkan Ciki yang masih mematung di tempat mencerna kata kata Adit barusan.
Ciki tidak dapat menemukan makna kata kata Adit, entah terlalu polos atau dia menginginkan kata kata pasti yang dapat membuatnya benar benar yakin. Dia memutuskan menyusul Adit menuju lift.
Skip
Ciki menyodorkan semangkok mie instan ke Adit yang sedang menunton di ruang keluarga, kemudian ikut duduk di samping Bossnya itu dengan semangkok mie instan untuk dirinya.
Ciki melirik Adit yang sedang fokus pada makanannya, Adit terlihat lahap menyantap mie instan buatannya. Adit melahap habis bahkan dengan kuah tak tersisa.
Ini orang laper atau doyan ? Batin Ciki.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Nah, kan. kelolodan kan lo. Lagi makan kaya orang kesurupan.
"Pak, ati-ati makannya." Ujar Ciki sembari berdiri mengambil air minum untuk Adit.
Setelah selesai makan, Adit membanti Ciki cuci piring walaupun Ciki melarangnya tapi tetap saja Adit ingin membantunya. Kemudian ngobrol sebentar, karena sudah lumayan larut malam Adit pamit untuk pulang.
"Saya pulang dulu." Adit tersenyum lembut sembari mengelus kepala Ciki. Sedangkan Ciki tidak merespon apapun, karena dia masih terkejut dengan sifat Adit yang tiba tiba. Selepas perginya mobil Adit. Ciki baru tersadar.
Jantungnya berdegup tak normal, badannya bergetar. Bukan karena Ciki baru terserang demam atau salah minum obat. Tapi sepertinya, Adit baru saja menularkan Virus berbunga bunga pada Ciki, atau virus debaran cinta. Ciki tak tahu itu, yang pasti dia sangat bahagia. Ya, dia bahagia.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊