My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 23



Kegagalan hubunganku dengan Nandar menjadi alasan kuat rasa percayaku dalam memulai hubungan sangat turun. Hari ini, bukannya Ciki tidak suka saat mengetahui Pak Adit menyukainya. Hanya saja ia takut berurusan dengan orang yang serba ada. Ia takut jika kali ini dirinya di permainkan lagi, yang membuat dirinya benar benar jatuh. Sejak semalam Ciki tidak dapat tidur, memikirkan akan hari ini berhadapan dengan pak Adit.


"Pagi mba Ciki," Sapa ceria Nabila. Ciki balas sapaan Nabila dengan senyuman hambar. "Katanya kemarin sakit yah.! Sakit apa mba ?" Alis Ciki berkerut.


Siapa pula yang menyenar hoax bilang saya sakit. Tapi demi menghindari kontriversi, Ciki hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Rendi dan Renata terlihat santai dan bahagia. Ciki mendekat ke arah komputer Rendi, Ia sedang asyik dengan dunia Instagramnya. Begitu juga Rendi yang sedang asyik dengan WhatsAppnya.


"Seh, santai banget lo berdua. Emang Boss gak ada ?" Tanya Ciki. Mereka berdua spontan menoleh ke arah Ciki dengan tatapan bingung.


"Lah, emang lo enggak tau Ci ?Boss hari ini ke Korea Selatan." Cetus Renata.


"Oh yah.! enggak tau gue." Seru Ciki setengah kaget.


"Lo sama Boss beneran lagi marahan ya Cik ? kok tumben sekertarinya enggak tau jadwal si boss kemana." Tebak Renata. "Dia tuh tiba tiba kemarin minta gue pesanin pesawat ke Korea selatan buat hari ini dengan jadwal penerbangan pagi." Sambung Rendi.


Ciki menuju ke kabinelnya. "Emang boss gak jadi ke Singapura ?" Tanya Ciki mengabaikan pertanyaan Renata barusan.


"Jadi, dari Korea Selatan langsung berangkay ke Singapura. Balik ke kantor minggu depannya lagi." Jawab Rendi.


"Tujuh hari tanpa si Boss di kantor, duhh enaknya." Seru Renata bersemangat.


Ciki termenung sesaat. Semalam Pak Adit tidak mengatakan hal ini ke saya, ia hanya bilang ke saya akan ke Singapura dan meminta saya unutuk menunggunya. Batin Ciki.


"Bu Ciki." Sekertaris Rara mendekat ke arah Ciki. "Pak Adit belum bisa di contact yah ? Saya lagi ada yang urgent,! "Ujar Rara gelisah.


Ciki menoleh ke arah Rendi." Pesawat jam berapa Rendi ?" Tanya Ciki.


"Jam enam pagi kok, seharusnya sudah sampai." Jawab Rendi.


"Ponselnya mati kali mba, di coba lagi yah." Saran Ciki.


"Bisa tolong bantu ibu saja yang hubungi Pak Adit, Alat berat yang bulan lalu kita pesan ke China ternyata rusak dan customer minta retur." Ujar Rara.


"Kalau begiti saya coba hubungi dulu yah mba." Ujar Ciki. Sekertaris Rara akhirnya keluar dari ruangan. Ciki mencoba menghubungi Pak Adit melalui whatsapp, namun belum terbaca hingga sepuluh menit kemudian. Tidak lama Pak Adit menelfon ke nomor Ciki setelah melihat pesannya.


Pak Adit nelfon lagi, kenapa gak balas chat aja sih. Hatiku berdebar tidak karuan padahal inikan masalah kantor yah.


"Halo, Pak." Ujar Ciki setelah menjawab telfon dari Pak Adit.


"Iyah, saya baru lihat chat kamu barusan." Ujar Adit.


"Kata mba Rara alat berat yang bulan lalu rusak, dan konsumen meminta retur." Ujar Ciki.


"Nanti saya coba hubungi supplier, saya minta mereka kirim yang baru." Ujar Adit.


"Oke Pak, noted." Jawab Ciki singkat.


"Tetima kasih, yah." Ujar Adit lagi dengan suara lembut.


Ciki terhenyak sesaat mendengar ucapan Pak Adit barusan.


"Terima kasih untuk ?" Tanya Ciki.


"Untuk kembali ke kantor." Jawab Adit.


Ciki menghela nafas tanpa sadar.


"Saya ke Korea Selatan hari ini." Ujar Adit lagi.


"Iyah, Rendi sudah menginfokan tadi pagi." Ujar Ciki.


Percakapan mereka bukan lagi tentang kantor, ritme detak jantung Ciki tidak lagi sama seperti dulu saat berbicara maupun berhadapan dengan Adit.


Apa aku benar benar mencintai Pak Adit yah, seperti yang di katakannya semalam.? Apa perasaan kagum bisa berubah jadi Cinta." Batin Ciki bertanya tanya. Dirinya masih bingung dengan perasaannya saat ini, dia memang kagum dengan Bossnya itu tapi belum bisa memastikan kalau dirinya benar benar sudah jatuh cinta.


'240320' Pasword apartemen Pak Adit tiba tiba terlintas di benak Ciki. Ciki menggeleng keras dan menghalaunya jauh jauh. Kembali menatap layar komputer, sesekali melirik ke samping ke ruangan Pak Adit, sembari menghitung hari saat dimana dia harus berhadapan mau tidak mau dengan sosok pria itu.


**********


Enam hari berlalu saat kepergian Pak Adit ke Korea Selatan dan ke Singapura, Besok pagi pria itu kembali ke kantor untuk bekerja dimana tibalah saatnya Ciki berhadapan langsung dengan Bossnya setelah pernyataan cinta Adit ke Ciki.


*Diamonds outshining 'em all


Only see the diamonds when I talk


Bling, bling, beby, bling, bling


Bling, bling, beby, bling, bling


Diamonds outshining 'em all


Only see the diamonds when I talk


Bling, bling, beby, bling, bling


Bling, bling, beby, bling, bling*.


Lagu Agnes Mo Diamond, entah sudah berapa kali rasanya Ciki mendengar lirik yang sama berputar ulang saat ini di barengi dengan sebuah getaran kecil yang berasal dari meja kecil samping tempat tidurnya. Ciki mencoba meraih telfon genggamnya yang terus berbunyi, menganggu tidurnya. Ciki melirik jam dinding yang menunjukan pukul 03.00 dini hari.


Entah setan mana yang menelfonku pagi pagi buta seperti ini.! Umpat Ciki.


"Hmmmm." Gumam Ciki setelah menjawab telfon tanpa melihat dengan jelan nama yang terpampang di layar telfon.


"Siapa ini ?" Tanya Ciki dengan suara parau, ia masih dalam ke adaan ngantuk berat, tentu saja katena Ciki baru berhasil terlelap pukul satu dini hari.


"Kamu hapus nomor saya, yah" Suara pria di seberang sana mengembalikan kesadaran Ciki sekitar 50%. Ciki segera mengangkat ponsel dari samping kupingnya mengahadap wajahnya, ia melihat dengan cermat. Muka Datar.


Pak Adit!


Seketika Ciki bangkit dari tidur, bersandar pada sandaran tempat tidur. " Pak Adit, ada apa Pak ? Tanya Ciki.


"Saya ganggu tidur kamu yah ?" Tanya Adit dengan suara pelan. Ciki mengucek ngucek matanya dan menguap kecil.


"Saya baru tidur jam satu pagi Pak, bapak telfon saya jam tiga lewat saat saya lagi enak enaknya mimpi." Jawab Ciki ketus.


Adit menghembuskan nafas berat. "Ya sudah kalau begiti saya tutup telfonnya." Suara Adit berubah menjadi datar.


"Eh, tunggu Pak." Seru Ciki. "Bapak ada apa nelfon saya pagi pagi buta ? Bapak sudah pulang ?" Tanya Ciki.


"Saya baru sampai, lagi nunggu Dimas jemput saya." Jawab Adit


"Oooooh." Ujar Ciki.


Hening sesaat, terdengar suara deru kendaraan, suara orang berlalu lalang dari sebrang telfon."


"Ciki, saya kangen sama kamu." Suara Adit terdengat lembut dan pelan, hampir seperti bisikan. Rasa kantuk Ciki tiba tiba hilang begitu saja, kini dia sadar 100%. Dentuman keras di balik dadanya terasa memompa tidak beraturan. Ciki memegang dadanya.


Hatiku terasa penuh, entah oleh apa. Namun jika boleh jujur ada sedikit perasaan bahagia mendengar kata kata itu barusan.


*********


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊