My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 40



Sebulan berlalu setelah pernikahan Ciki dan Adit, kini Ciki tidak ke kantor lagi. Hubungan Rendi dan Renata juga renggang setelah Renata bertemu dengan Ali. Renata kini sibuk dengan kekasih baruny, kini Renata resmi berpacaran dengan Ali dan sebulan lagi mereka merencanakan pernikahan. Berbeda dengan Rendi yang semakin hari mulai menghindari Renata, agar ia bisa merelakan Renata berbahagia dengan Ali. Meskipun sulit, tapi itu sudah keputusannya, mencinta tidak harus memiliki, cukup melihatnya tertawa bahagia meskipun bukan dengan dirinya.


Jam dinding kantor sudah menunjukan pukul empat sore, kini para karyawan berkemas untuk pulang ke rumah masing masing.


Renata melirik kubinel Rendi yang juga sedang mengemas barang pribadinya. Sudah cukup lama ia tidak pulang bersama Rendi karena dirinya selalu di jemput oleh Ali saat pulang dari kantor. Kebetulan hari ini Ali keluar kota dan tidak dapat menjemput dirinya, ini kesempatan bagi Renata untuk menghabis kan waktunya untuk Rendi, ia rindu dengan kekanak kanakan mereka saat bersama, sudah cukup lama mereka tidak jalan bersama. Renata menghampiri kubinel Rendi dan berhenti tepat di samping kursi tempat Rendi duduk.


"Rend, pulang bareng yuk." Ujar Renata.


"Emang lu gak di jemput ?" Ujar Rendi.


"Gak, hari ini waktu gue khusus buat lu. Kapan lagi coba, cewek cantik kaya gue luangin waktu buat lu doang." Ujar Renata bercanda.


"Idih, so penting lu." Ujar Rendi.


"Jadi gimana, mau jalan bareng gak ? sudah lama juga kita gak pernah ketemu sama Ciki, kangen gue." Ujar Renata.


"Gue ada janji sama temen, sory yah." Ujar Rendi berbohong agar dapat menghindari ajakan Renata. Ia takut kalau dirinya terus bersama dengan Renata hatinya makin tidak rela jika harus melepaskan sahabat sekaligus cinta pertamanya itu.


"Yah, gimana dong. Padahal gue kangen banget tau sama lu dan Ciki." Ujar Renata tampak kecewa.


"Sory yah, titip salam saja sama Ciki." Ujar Rendi.


"Ya sudah deh, gue duluan kalau gitu." Ujar Renata menyerah, ia tidak ingin memaksa sahabatnya itu untuk ikut dengan nya. Renata mengerti kalau sahabatnya itu punya kehidupan pribadi sendiri.


"Hm." Ujar Rendi hanya berdehem.


Rendi segera merapikan kubinelnya, kemudian berjalan menuju lift setelah ia memperkirakan Renata sudah mendapatkan mobil. Rendi menuju parkiran kemudian membunyikan mobilnya, baru saja ia ingin menancap gas untuk pulang, tapi matanya menangkap sosok perempuan yang sangat ia kenal sedang berdiri di pinggir jalan dengan raut wajah gelisah. Karena tidak tega, Rendi menghapiri wanita tersebut.


"Kenapa lu masi di sini, Ta ?" Tanya Rendi.


"Gue nunggu taxi lewat." Ujar Renata.


"Lu bareng gue aja." Ujar Rendi menawarkan.


"Gak usah, lu kan mau ketemu sama temen lu. Entar telat lagi." Ujar Renata menolak.


Rendi turun dari mobilnya, kemudian membukakan pintu mobilnya dan mendorong pelang sahabatnya itu untuk segera masuk.


"Gue uda batalin, lagian sekarang sudah gelap. Gue khawatir penunggu gedung ini takut beraktifitas kalau Bossnya masih berdiri di kawasannya." Ujar Rendi bercanda.


"Gue kira lu khawatir sama gue, baru aja gue mau muji lu. Lagian mana ada wanita secantik gue jadi boss penunggu gedung." Ujar Renata mengibaskan rambutnya berhagaya ala cabe cabean. hehehe.


"Terserah lu deh." Ujar Rendi menyerah.


"Kita mau ke mana nih ?" Tanya Rendi setelah ia melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan kantor tempat mereka bekerja.


"Ke Rumah Ciki, gue udah telfon tadi." Ujar Renata.


"Siap." Ujar Adit.


*****


TingTong! TingTong! TingTong!


Suara bel rumah Ciki berbunyi berulang kali tanpa jeda. Ciki yang mendengarnya langsung menebak siapa pelaku di balik pintu rumahnya.


"Pasti si kutukumpret ini, siapa lagi yang hoby bikin rusuh kalau bukan si dua cebong itu." Ngedumel Ciki sembari berjalan menuju pintu untuk membukakan tamu yang terus memencet bel kaya ibu kost yang lagi nagih uang kontrakan.


"Woeee, gue sudah denger tau. Gak usah lu pencet mulu kaya di buru setan, entar bel gue rusak lagi." Teriak Ciki sembari membukakan pintu ke dua sohibnya.


"Ya elah, lu sekarang kan kaya. Kalau rusak tinggal ganti kali." Ujar Renata tidak mau kalah, kalau soal berdebat Renata emang gak bisa terkalahkan.


"Kita gak di suruh masuk dulu langsung di omelin, parah bener lu Cik." Ujar Rendi.


Mereka berdua segera masuk dan langsung menuju ruang keluarga yang di susul oleh yang empunya rumah.


"Cik, lu sudah masak gak ? Gue laper nih, sengaja gak makan biar bisa makan di rumah lu." Ujar Renata.


"Tenang aja, gue tau kalau yang datang bertamu suka gratisan. Gue udah masak kesukaan kalian, kali ini gue manjain lu berdua soalnya kangen gue udah lama gak ketemu." Ujar Ciki.


"Tau aja lu, kita suka gratisan." Ujar Rendi.


"Tau lah, gue kenal lu kan waktu masih dalam kandungan. Jadi gue sudah hapal kebiasaan kalian." Ujar Ciki bercanda.


"Yeeeh, emang lu sama gue satu rahim bisa saling kenal pas dalam perut." Ujar Rendi.


"Idih, amit amit gue mau satu rahim sama lu. Bisa bisa gue ikutan jelek keciprat kejelekan lu." Ujar Ciki.


"So cantik lu." Ujar Rendi.


"Emang gue cantik, buktinya mas Adit mau sama gue. Emang lu yang masih jomblo karatan, pas dapat pacar nenek nenek." Ujar Ciki sembari tertawa.


"Noh, di dapur ada pisau. Biar gue yang jadi wasit." Ujar Renata sembari menujuk ke arah dapur.


Mereka sibuk berdebat sampai sampai mereka tidak mendengar Adit masuk ke rumah.


"Kalian bully istriku yah ?" Tanya Adit dengan suara Bassnya, sontak saja mereka bertiga terkejut dengan suara Bass itu. Ciki yang sadar akan kehadiran suaminya itu, langsung berjalan menghampirinya dan mengambil tas kerja suaminya.


"Maaf mas, mereka berdua ribut nih, jadinya saya tidak mendengar suara mas datang." Ujar Ciki.


"Tidak apa apa sayang, nikmati kebersamaan kali. Lagian kalian juga sudah lama tidak bertemu." Ujar Adit sembari mencium puncuk kepala sang istri.


"Eh, Pak Boss." Ujar Rendi.


"So sweet." Ujar Renata yang melihat adengan romantis live di depannya itu.


"Awas yah, kalau kalian berani membully istriku." Ujar Adit mengancam dengan nada bercanda.


"Yeeh, Pak Boss bucin." Ujar Renata yang memang sudah sering bercanda dengan sang boss di karenakan ia sekarang menjabat sebagai sekertaris menggantikan sahabatnya itu, dan juga Adit sudah tidak terlalu kaku alias menakutkan lagi saat berbicara dengan Renata. Tapi tetap saja Adit masih bersikap dingin ke karyawan lain.


"Biarin, kamu juga bakalan bucin kalau sudah dapat pasangan yang kamu benar benar cintai." Ujar Adit bijak, kemudian berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian yang di ikuti oleh sang istri.


"Eh, tumben Pak Boss bercanda. Biasanya kaya beruang kutub, membawa hawa dingin." Bisik Rendi ke Rebata.


"Lu nya aja yang belum kenal baek ama Boss." Ujar Renata.


"Gimana mau kenal baek, mendekat aja gue takut." Ujar Rendi.


Tidak lama Ciki dan Adit keluar dari kamar kemudia memanggil kedua tamunya untuk makan malam bersama.


Mereka makan dengan nikmat, tidak banyak obrolan saat makan, hanya sesekali mereka memuji masakan Ciki yang enak. Selesai makan Ciki dan Renata membereskan piring kotor mereka.


Setelah cuci piring selesai, Renata dan Adit pamit untuk pulang karena jam sudah menunjukan pukul 22.30 malam.


"Ciki, Pak Boss. Kita pulang dulu yah." Ujar Renata.


"Hati hati yah, lu sering sering maen ke rumah kali Ren, Ta." Ujar Ciki.


"Tenang aja, kalau ada waktu pasti gue ke sini bikin rusuh lagi." Ujar Renata.


"Ren, lu antar Renata pulang dulu yah." Ujar Ciki.


"Pasti." Jawab Rendi.


Rendi dan Renata sudah berlalu dari halaman rumahnya, Ciki juga segera masuk ke dalam rumahnya.