My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 26



Ciki sudah seperti pencuri yang takut ketahuan saja. Ya, karena Adit mengirim pesan singkat untuk Ciki, dia akan menjemputnya untuk ke kantor. Maka dari itu Ciki keluar dari rumahnya pun harus mengendap endap. Matanya menyisir sekitar lingkungan rumahnya, takut kalau ada sebuah mobil yang terparkir sedang menunggunya.


Ciki menghela nafas lega saat ojol yang di pesan sudah datang, dia segera mengambil langkah seribu kemudian naik ke atas motor. "Ayo mas, berangkat. Jangan sampai lama lama." Ujar Ciki yang kepalanya masih sibuk menengok ke kanan dan ke kiri.


Sopir ojol itu hanya mengangguk patuh tanpa mengeluarkan suara. Ciki kembali menghela nafas panjang saat dirinya sudah menjauh dari rumahnya. Ciki tersenyum dengan bangganya.


"Akhirnya gue bisa menghindar juga dari manusia kutub itu, sekian lamanya gur merasa di pantau sama tu orang." Gumam Ciki, senyumnya melebar karena mengingat kembali bagaimana kehebatannya ia bisa menghindar dari Adit.


Ciit!


Tiba tiba motor yang ia tumpangi mengerem mandadak, membuat Ciki terdorong sampai helm yang ia kenakan terpentok dengan helm sang pengendara motor.


"Aduh, mas. Bisa pelan pelan sih, emang ada apa sih sampai ngerem mendadak ? Kalau kita kecelakaan gimana ?" Omel Ciki. Ciki segera turun, sembari membuka helmnya. begitu juga dengan ojolnya.


"Astagfirullah." Seru Ciki. Dia benar benar terkejut, sampai helm yang ia pegang jatuh.


"Kenapa ? Kaget."


"Pak Adit." Seru Ciki. " Kok bapak bisa jadi tukang ojol sih ?" Ujar Ciki lagi.


"Kamu kaget ?" Tanya Adit dengan angkuhnya.


"Saya gak nyangka, Pak. Ternyata setatus CEO tidak dapan mencukupi kebutuhan bapak, sampai bapak harus kerja sambilan jadi tukang ojol." Ujar Ciki.


Adit menghela nafas dalam dalam." Ada yang mau saya tanyakan sama kamu ?" ujar Adit.


"Hah!." Sebenarnya Ciki bukan polos atau bodoh. Tapi dia hanya berpura pura blo'on agar Adit tidak mengomelinya. Jangan lupa, saat di motor tadi Ciki mengumpat dan memanggil Adit dengan sebutan 'Manusia kutub'.


"Kamu tadi panggil saya dengan sebutan apa ?" Tuh, kan. Apa yang Ciki pikir benar benar terjadi.


"Emang saya bilang apa, Pak ?" Tanya Ciki pura pura gak mengerti dengan pertanyaan Adit.


"MANUSIA KUTUB." Adit menekan setiap katanya. Ciki menelan salivanya sulit. Ingin rasanya Ciki menyiram Adit dengan tepung dan kabur dari Bossnya itu.


"Sa-saya gak bilang begitu, Pak. Bapak salah dengar kali." Ujar Ciki masih berusaha ngeles.


" Kamu berani mengelak ? Kamu pikir saya tuli." Ujar Adit.


"Tapi, bapak sendiri kenapa bisa jadi tukang ojol ?" Tanya Ciki yang mencoba mengalihkan pertanyaan Adit.


"Karena saya sudah menebaknya, pasti kamu mau kabur dari saya." Ujar Adit dengan suara lantang. Tanpa berfikir kalau gadis yang di hadapannya itu merasa kebingunga.


Emang gue pernah pinjem uang ke dia, yah ? Kok gue sampe di kejar kejar. Batin Ciki.


"Kenapa kamu liatin saya kayak gitu ?" Tanya Adit yang sedikit salah tingkah dengan tatapan Ciki.


"Emang saya pernah janji apa ke bapak, sih?" Tanya Ciki.


Adit mengerutkan dahinya. " Janji ?" Tanya Adit tidak mengerti dengan pertanyaan Ciki.


Ciki memgangguk. " Kenapa bapak selalu mengekori saya ? Saya jadi merasa seperti seorang istri yang lagi di curigai dengan suaminya yang posesif." Ujar Ciki asal.


Sontak saja wajah Adit merah. Adit memikirkan hal yang sama seperti Ciki, tapi dia sendiri juga tidak tahu kenapa dengan bodohnya dia untuk melepaskan Ciki walau hanya pulang atau berangkat kerja saja. Ada rasa cemas dan khawatir yang ia rasakan. Ini bukan pertama kalinya Adit pacaran, Ia pernah berpacaran dan sangat menyayangi mantan kekasihnya itu, bahkan ia susah untuk mencari wanita sebelum keberadaan Ciki hadir di hatinya. Tapi ia sekarang berbada, betul yang di katakan Ciki, dirinya seperti seorang pria yang posesif. Bahkan dirinya dulu tidak memperdulikan mantan kekasihnya mau berteman dengan siapa, Ia tidak pernah merasa khawatir. Tapi berbeda dengan Ciki, bahkan ia tidak rela bila Ciki di bonceng dengan tukang ojol.


"Ciki apa kamu baru saja memberi saya kode ?" Ujar Adit.


"Kode." Tanya Ciki kebingungan.


"Apa ?" Ciki kaget dengan perkataan Adit.


"Kalau itu mau kamu. Baiklah, kita akan mengadakan pernilahan secepatnya." Ujar Adit lagi.


"Apa ? kenapa dari banyaknya kalimat yang saya ucapin, cuman kalimat itu yang bapak tangkap ?" Tanya Ciki.


"Sudah, urusan pernikahan bisa kita bicarakan nanti. sekarang kita harus ke kantor dulu." Ujar Adit.


Ciki memandang kesal pada Adit. " Dari tadi saya juga mau ke kantor, Pak. Tapi bapak malah sok pura pura jadi tukang ojolnya." Ujar Ciki kesal.


"Mulai sekarang jangan pesan ojek online lagi." Perintah Adit.


"Kenapa ?" Tanya Ciki heran.


"Karena saya tidak suka, kamu duduk boncengan dengan pria lain." Ujar Adit.


Deg!


Dia lagi cemburu ? Dia lagi cemburu gak sih ? Aduh Ciki, nikmat mana lagi yang lo dustai. Dada gue kok berdebar gini yah ?" Tanya Ciki dalam hati.


"Kamu itu terlalu berat dan cara duduk kamu di motor akan membuat sopir ojol ke susahan, bisa bisa ada yang jatuh karena membawamu. Jangan merepotkan orang lain. Terus kalau kamu jatuh, kamu gak masuk kantor itu bisa membuat saya repot." Ujar Adit.


"Eh." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ciki.


Loh, kok gue abis di angkat, terus gue di banting ? Dasar Adit si monster kutub.


"Ayo cepat naik. Duduklah yang benar, jangan sampai terjatuh dan merepotkan saya." Ujar Adit sembari menaiki motor. Ciki mencebikkan bibirnya, tapi dia masih menurut dan naik ke atas motor.


"Udah." Ujar Ciki ketus.


"Pegangan yang erat, ini sudah siang. Kita bisa terlambat karena kamu." Ujar Adit. Ingin rasanya Ciki melempar Adit ke got, dia terlambat gara gara Adit, tapi malah di tuduh semua gara gara dirinya. Seandainya saja Adit bukan bossnya.


Belum juga Ciki menyelesaikan umpatan Ciki yang hanya bisa ia katakan dalam hati, Adit sudah menancap gas motornya. Tentu saja semua itu membuat Ciki kaget, sehingga Ciki dengan spontan memegang erat jaket milik Bossnya. Ciki masih enggan untuk memeluk sang Boss bahkan ia ketakutan dengan laju motor yang di atas rata rata.


Adit melepas satu tangannya, kemudian meraih satu persatu tangan Ciki yang berpegang erat di jaketnya dan membawa tangan milik sekertarisnya itu melingkari tubuh kekarnya.


Alangkah kagetnya Ciki dengan perlakuan Bossnya, dia ingin melepas tangannya tapi Adit dengan cepat menahan tangannya yang membuat Ciki tetap pada posisinya. Ia takut kalau Adit terus memegangi tangannya bisa bisa mereka kecelakaan dan juga punggung kekar Adit membuatnya nyaman untuk bersandar.


Adit tersenyum tipis saat Ciki tidak lagi meronta ingin melepaskan tangannya dari tubuhnya itu.


Skip


Di kantor


Setelah melalu perjalanan yang lama, akhirnya Ciki bisa sampai juga ke kantor. Di perjalanan tadi Ciki ingin mengutuk Adit. Kenapa bisa ? Ya, tentu saja, Adit selali mencari alasan agar mereka bisa berlama lama di perjalanan. Adit melalui jalan yang menurut Ciki sangat jauh, karena harus memutar.


Ciki masuk ke dalam lift dengan sangat terburu buru. Sedangkan Adit sudah lebih dulu naik ke atas dengan jaket ojolnya. Mengingatnya saja sudah membuat Ciki menjadi berdebar tak karuan, sehingga dia tidak bisa menahan senyumnya. Tampa sadar orang orang yang ada dalam lift sudah memperhatikannya.


****


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊