My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 30



Langit sudah menampakkan warna jingga nya. Sebentat lagi jam pulang kerja. Semua karyawan sudah berkemas, begitu pun dengan Ciki. Ciki ingin segera pulang, mengingat hari ini hari pertama jadiannya dengan Adit. Pasti Adit akan mengantar nya pulang.


"Cik, Ta, gue pulang duluan yah." Ujar Rendi ke sohibnya itu.


"Buru buru amat, mau ke mana sih ?" Tanya Renata.


"Biasa anak muda. Gue ada janji dinner ama pacar gue. Emang lu berdua, jomblo akut." Ujar Rendi mengejek teman gadisnya itu.


"Eh, kampret kalau mau pulang, pulang aja. Gak usah ngejek kita, kita kan beda sama lu murah. Mau sama siapa aja." Ujar Renata membalas ejekan Rendi.


"Idih, bilang aja lu gak ada yang mau." Ujar Rendi sembari berlalu pergi dari ruangan sebelum Renata mencakar nya. Rendi dan Renata emang kayak kucing dengan tikus yang tidak bisa akur, bila sudah bertemu pasti ribut.


"Lu gak balik ?" Tanya Ciki ke Renata.


"Balik dong, tapi nunggu kakak gue jemput." Ujar Renata. Tidak lama deringan handpone Renata berbunyi.


"Gue balik dulu yah." Ujar Renata sembari melambaikan tangannya. Ciki membalas lambaian tangan Renata. Kemudian ia melirik ruangan Adit.


Ciki mengecek Handponenya, tidak ada pesan singkat dari Adit. Bahkan dari tadi pagi Adit tidak keluat dari ruangannya. Ciki sempat berpikir apa Adit malu bertemu dengannya.


Akhirnya, Ciki memberanikan diri untuk mendatangi ruangan Adit. Ciki melihat sekeliling untuk memastikan kalau ruangan ini sudah kosong. Karyawan sudah pada pulang semua, jadi Ciki leluasa untuk bertemu dengan kekasihnya itu.


Tok! Tok! Tok!


Brag!


Bugh!


Tidak ada sahutan dari dalam, hanya saja ada sebuah suara seperti barang jatuh, membuat Ciki terkejut dan dengan cepat nya membuka pintu ruangan Adit.


"Pak." Panggil Ciki.


"Aduh." Ringis Adit, dia yang sedang di lantai mencoba menutupi wajah nya dengan ke dua telapak tangannya itu.


"Bapak ngapain duduk di lantai ?" Tanya Ciki. Ciki melirik kursi Adit yang ikut tersungkur ke lantai. Ternyata Adit baru saja terjatuh dari kursinya sendri.


Emang dia lagi ngapain sih sampai jatoh gitu ? Batin Ciki bertanya tanya.


Ciki menghampiri Adit, dia bermaksud ingin membantu Adit untuk berdiri, tapi dengan cepat Adit mencegahnya. " Saya bisa bangun sendiri kok." Ujar Adit sembari berdiri dari lantai.


"Bapak gak apa apa ?" Tanya Ciki. Adit mengeleng.


"Kok bisa jatuh sih, Pak ?" Tanya Ciki dengan lembut.


Ini tidak seperti biasanya menurut Adit, Ciki lebih lembut padanya saat ini.


"O-oh ini, kursi saya rusak. Saya gak tau kalau kursinya rusak dan langsung duduk. Kayak nya harus cepat di ganti." Kilah Adit. Ciki mengerutkan dahinya, Ciki membenarkan kursi Adit yang masih tergeletak di lantai. Tapi tidak ada yang salah dengan kursinya, semuanya terlihat baik baik saja, tidak ada yang rusak seperti yang di katakan Adit barusa. Pikir Ciki.


Tanpa sengaja mata Ciki menatap layar komputer Adit, yang di sana sudah terpampang foto dirinya yang sedang bekerja. Sepertinya foto itu di potret hari ini secara diam diam saat dirinya sedang bekerja.


"Pak!" Panggil Ciki dengan pandangan matanya yang tidak beralih dari layar komputer Adit. "Bapak foto saya diam diam ?" Tanya Ciki, masih gak percaya dengan tingkah Adit yang biasa ia kenal cool, cuek, dan angkuh.


Ingin rasanya Adit menggali tanah dan mengubur dirinya hidup hidup. Sebenarnya ini adalah sikap yang memalukan bagi dirinya, memotret kekasihnya sendiri dari jarak jauh secara diam diam, itu bukanlah karakternya. Tapi apalah daya jika cinta sudah berbicara, rasa rindunya kepada Ciki tidak bisa ia tahan sampai urat malunya pun putus dalam sepersekian detik, walaupun sangat bertentangan dengan imagenya.


"Saya gak punya foto kamu, memangnya salah kalau mengambil foto kekasihku sendiri." Ujar Adit dengan wajah angkuhnya.


Ciki tersenyum simpul. " Kenapa bapak gak bilang ? Saya kan bisa kasih foto saya, tidak harus memotret secara diam diam begitu." Ujar Ciki.


Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jadi tadi bapak jatuh karena kaget dengar saya ketuk pintu ? Pasti bapak takut ketahuan sama orang yah ?" Tanya Ciki.


"Iya, tapi peraturan kantorkan gitu, Pak. Gak boleh ada yang pacaran sekantor, apa lagi sampai nikah. Kalau melanggar salah satunya harus resign." jelas Ciki.


"Saya paham, tapi kamu gak perlu kerja lagi, kan ? Kamu bisa andalkan saya, saya akan menjadi kepala keluarga kamu, jadi saya yang akan bertanggung jawab menghidupi keluarga kita nanti. Lagian tidak akan ada yang protes kalau saya pacaran dengan karyawan kantor saya. Saya kan bossnya." Ujar Adit.


"Tapi sebaik nya jangan berpikir kesana dulu, Pak." Ujar Ciki.


"Kenapa ?" Tanya Adit.


"Kita baru saja tadi pagi menjalin hubungan, terlalu cepat jika membicarakan tentang pernikahan sekarang." Ujar Ciki.


"Tapi kita sudah kenal satu sama lain, langsung nikah juga gak ada masalah." Ujar Adit enteng.


"Sebaiknya kita pulang dulu deh, Pak. Saya sudah lapar." Ujar Ciki mengalihkan pembicaraan.


"Kita singgah ke mall saja untuk membeli bahan makanan, saya mau makan masakan kamu." Ujar Adit.


"Terserah bapak, deh." Ujar Ciki.


"Kamu kenapa masih panggil saya bapak, kita kan lagi berdua. Panggil saya sayang kek, mas atau Adit." Ujar Adit protes.


"Iyah, Adit." Ujar Ciki.


"Kenapa kamu tidak memilih sayang saja." Ujar Adit.


"Ih, saya belum terbiasa." Ujar Ciki malu.


"Mulai sekarang biasakan." Ujar Adit.


Mereka menuju Mall untuk membeli bahan makanan, saat ingin pulang tiba tiba sepatu heels Ciki patah.


"Kenapa sayang ?" Tanya Adit.


"Sepatuku patah, gimana nih." Ujar Ciki.


"Kamu duduk di situ dulu, jangan ke mana mana." Ujar Adit sambil berlalu meninggalkan Ciki.


Tidak lama kemudian Adit kembali dengan membawa kotak di dalam kantong plastik. Ia kemudian membuka kotak yang berisikan sepatu dan memasangkannya ke kaki Ciki.


"Kok, kamu tau tau nomor sepatu saya ?" Tanya Ciki penasaran.


"Saya tau semua tentang kamu sayang." Ujar Adit sembari berdiri setelah memakaikan sepatu ke kaki kekasihnya itu.


Saat di mobil, Adit melirik Ciki yang terus menguap.


kemudian meminggirkan mobilnya.


"Kamu tidur saja dulu sayang, sebentar baru saya bagunin kamu kalau sudah sampai apartemen." Ujar Adit sembari memperbaiki posisi sandaran kursi Ciki agar nyaman saat tidur. Adit sangat perhatian dengan kekasihnya itu, tidak seperti biasanya yang terlihat galak.


"Thank you." Ujar Ciki sembari mengambil posisi yang pas agar bisa tidur dengan nyaman.


Adit membuka jasnya dan menyelimuti setengah badan Ciki, kemudian melanjutkan menyetir mobilnya saat Ciki sudah memperbaiki posisi duduknya.


****


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊