
Ciki melangkahkan kakinya menuju ruangan Adit. Setelah mengetuk pintu dan mendapat tanggapan dari dalam, Ciki langsung masuk. Adit sedang duduk di bangku kebesarannya dengan mata yang tertuju pada laptop di hadapannya.
Ciki hanya bisa tertegun melihat ketampanan Adit yang hakiki itu.
"Sudah puas ?" Pertanyaan Adit tidak membuat Ciki bahwa dia sudah di perhatikan sedari tadi dengan pria itu.
"Hah ? Em.. enggak Pak ?" Jawab Ciki dengan gelagapan.
Adit menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dia menautkan kedua tangannya, dengan pegangan kursi sebagai penopang. "Jadi belum puas ?" Tanya Adit.
Ciki mengerjapkan matanya. " Iya, Pak." Ciki yang mulai sadar dengan pertanyaan Adit langsung melanjutkan ucapannya." Eh, enggak, Pak."
Adit tersenyum kecil melihat tingkah Ciki yang gelagapan, sedangkan Ciki terpesona dengan senyuman Bossnya tampan tiada tara itu yang duduk dihadapannya.
"Jadi ada apa bapak manggil saya ?" Tanya Ciki setelah sadar dari hipnotis ketampanan Bossnya.
" Jangan panggil saya bapak kalau lagi berdua, kamu bisa panggil saya Adit saja." Ujar Adit tidak menjawab pertanyaan Ciki.
"Aduh, jangan deh, Pak." Ujar Ciki.
"Kenapa ?" Tanya Adit.
Gak baik buat hati gue, mas. Ini gue punya hati dan perasaan lo, panggil bapak aja gue deg deg kan apa lagi panggil Adit. Bisa bisa gue daftar ke KUA langsung.
"Enggak kenapa napa sih, Pak." Ujar Ciki gak tau harus ngomong apa.
Adit beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Ciki yang masih berdiri.
" Kamu marah ?" Tanya Adit.
Ciki mengangkat kepalanya menatap Adit. "Marah kenapa, Pak." Tanya Ciki.
"Yah, karena saya ganggu tidur kamu tadi pagi " Ujar Adit.
Akhirnya lo sadar diri. Batin Ciki.
"Eng-enggak kok, Pak." Ujar Ciki.
"Terus kenapa saya perhatikan dari tadi pagi kamu menghindari saya." Ujar Adit.
"Ah, siapa yang menghindari bapak. Nggak kok." Ujar Ciki ngeles. Ini orang serba tau deh.
Adit mendekatkan wajahnya ke arah Ciki. " Kamu tadi jatuh, kenapa?" Tanya Adit.
"Kaget, Pak. Bapak udah kayak ghost aja yang tiba tiba ada di samping saya, saya kan jadi kaget. Lain kali jangan datang tanpa suara deh pak. Gak baik buat jantung saya, saya juga punya jantung loh, Pak." Celetuk Ciki.
"Oh, jadi kalau saya makan siang bersama kamu di kantin enggak apa apa kalau saya menyapamu." Ujar Adit.
"Iyah, gak apa apa." Ciki mangut mangut. Tapi sedetik kemudian, dia menatap Adit dengan tatapan syok.
"Maksudnya, Pak ? " Tanya Ciki memeperjelas.
"Lain kali saya akan makan siang bersama kamu di kantin." Pernyataan ini kenapa terkesan mengancam di telinga Ciki.
Adit kembali duduk dan kembali fokus pada layar laptopnya. " Kamu boleh keluar ?" Ujarnya.
Ciki tetcengang. Cuma ini doanh yang ia katakan, dia bohongin gue. katanya mau bicarakan masalah kantor. Dasar Boss emang selalu berhasil buat gue kesel. Umpat Ciki dalam hati. Tapi akhirnya Ciki mengangguk, dia malas berurusan dengan Bossnya karena bisa di pastikan dirinya selalu kalah kalau berdebat dengan pria itu. Baru saja Ciki mau membuka pintu ruangan, Adit memanggilnya.
"Ciki." Panggil Adit.
" Iyah, Pak. Ada apa ?" Tanya Ciki.
"Pulang kerja bareng sama saya, saya antar kamu pulang." Ujar Adit.
"Gak usah, Pak. Saya bisa pegi sendiri." Ujar Ciki.
"Saya tidak menerima penolakan. Kamu boleh keluar sekarang." Ujar Adit tanpa menghiraukan penolakan Ciki.
***
Ciki mengintip dari dinding kubinelnya, ruangan Adit tampak terlihat terang, bertandakan kalau penghuninya masih ada di sana. Ciki mlihat sekelilingnya, teman temannya sudah lebih dulu pulang. Ini ulah Adit yang memeberi tumpukan kertas yang membuatnya terlambat pulang. Sudah kebiasaan dan hobynya untuk menyiksa kacungnya dengan setumpuk kertas.
Kenapa gue kayak di kejar kejar sama psikopat yah. Gumam Ciki.
Ciki melirik pintu darurat, tidak ada pilihan lain, Ciki akan keluar melalui pintu darurat. Dengan langkah seribu, Ciki masuk ke dalam sana. Ciki menghela nafas lega, Adit pasti tidak menyadarinya kalau dirinya pulang lewat sini. Pikir Ciki.
Ciki menuruni anak tangga dengan pelan, tentu saja untuk menghindar dari Adit. Ciki merasa lelah, untung saja ini menuruni, bukan menaiki. Akhirnya Ciki sampai di lantai dasar dengan keringat yang bercucuran di dahinya. Dia menyeka keringatnya kemudian keluar melalui loby.
Ciki menyusuri parkiran kantor, tidak ada mobil Adit di sana. Ciki kembali menghela nafas lega.
"Pasti Pak Adit sudah pulang." Ujar Ciki yakin.
"Belum, ini saya masih di sini."
*Deg!
Ya tuhan, apa penunggu kantor ini terusik dengan kelakuanku*. Gumam Ciki.
Ciki menelan salivanya dengan susah payah, di menoleh perlahan ke samping kiri di mana sumber suara berada. Ternyata di sana sudah berdiri penghuni lantai sepuluh. Rezky Aditya, berdiri dengan angkuh dengan kedua tanga di masukkan ke dalam saku celana.
"Pak Adit." Sapa Ciki gugup.
"Mau kemana kamu ?" Tanya Adit dingin.
"I-itu Pak, Anu.. " Ujar Ciki gugup sembari menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Anu apa ? mau kabur ?." Adit sudah mengetahui niat Ciki.
"Enggak, enggak kabur Pak. Bapak suka nuduh gitu." Ujar Ciki gugup. Pernah kah kalian tertangkap basah saat ketahuan membuat kesalahan ? Pasti merasa takut, kan ? iyap, itulah saat ini yang Ciki rasakan, dia menjadi gugup dan berkeringat.
"Lalu kenapa tidak lewat lift ? Jalan mengendap endap, kemudian turun melalu tangga darurat. Itu namanya apa kalau bukan mau menghindar." Adit tau semuanya.
Sekakmat!
Ciki menunduk malu. "Ayo pulang sudah malam. Jangan harap bisa pulang sendiri." Adit menarik tangan Ciki lembut, lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Ciki tidak bisa menolak lagi, kenapa dia seperti seorang napi yang ketahuan kabur dengan polisi ? Ingin rasanya Ciki mengubur dirinya hidup hidup karena malu niatnya kabur di ketahui oleh Adit.
Dan bodohnya, jantungnya malah mengkhianati dirinya. Jantungnya malah berdegup kencang, dan hatinya malah merasa nyaman. Ini tidak benar. Pikir Ciki.
Perjalanan pulang kenapa terasa lama bagi Ciki, mungkin karena Adit menyetir mobil seperti siput yang ikut lomba lari seribu meter. Ciki yakin, Adit mengendarai mobilnya dengan kecepatan di bawah rata rata. Bahkan kalaupun Ciki turun dan berlari dia bisa menyamai kecepatan mobil Adit yang sekarang.
Ciki menghela nafas panjang. "Pak." Panggil Ciki.
"Jangan panggil Pak, kalau kita sedang berduaan. Kamu bisa panggil saja saya Adit atau mas." Ujar Adit.
"Saya enggak terbiasa."Ujar Ciki.
"Biasakan dari sekarang." Ujar Adit.
Ciki mendengus. Dasar tukang perintah.
"Iyah, iyah." Mengalah lebih baik, toh percuma jika Ciki ingin melanjutkan pedebatannya. Adit selalu punya seribu cara untuk membuat Ciki tidak bisa menjawab.
"Ada apa ?" Tanya Adit, matanya fokus ke arah depan.
Ciki menghela nafas dalam dalam, dia akan menyemprot Adit. " Kenapa mobilnya lambat sih Pak, apa mobil bapak rusak, kalau rusak gak usah di pake. Bapak gak tau yah ini sudah tengah malam." Ujar Ciki menggebu gebu.
"Biar bisa lama berduaan dengan kamu." Ujar Adit enteng.
Tuh kan, Adit selalu punya cara agar Ciki tidak dapat membalas perkataan Adit. Ciki ingin sekali mengumpat dan membalas perkataan Adit , tapi dia urungkan niatnya. Karena ia tau kalau ia teruskan berdebat dirinya akan jantungan di buat oleh kata kata gombalan Adit.
Setelah beberapa jam lamanya, akhirnya mereka sampai di halaman apartement Ciki. Dia bisa bernafas lega sekarang.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊