
Nada panggilam lagu Agnes mo 'Diamond' kembali terputar, lima belas panggilan tak terjawab dari Pak Adit. Ciki tidak menghiraukan ponselnya yang terus mengalunkan lagu kesukaannya itu berulang ulang, hingga lagu itu kembali berhenti. Notif masuk melalui pesan whatsApp berkali kali, Ciki tetap tidak menghiraulan pesan yang masuk.
Adit kembali menelfonnya, Ciki menghela nafas nafas panjang dan pada akhirnya mengangkat dengan malas.
"Halo."
"Bisa keluar sebentar, saya di depan apartemen kamu." Ujar Adit dari seberang telfon tanpa basa basi.
"Bapak gak boleh se enaknya nyuruh nyuruh saya dong, saya bukan asisten bapak lagi. ngapain juga saya harus dengar perintah Pak Rezky Aditya." Jawab Ciki menggebu gebu meluapkan ke kesalannya karena terus di ganggu oleh orang yang ia hindari.
"Ok, Baik lah. Kalau begitu saya yang masuk ke dalam." Ujar Adit.
Gila..
Boss psiko.
"Tunggu Pak, Jangan." Jerit Ciki spontan. Jangan berani macam macam dengan Pak Adit deh mendingan, Karena orangnya benar benar nekat banget.
"Saya ganti baju dulu sebentar," Ujar Ciki sembari memakai celana jeans panjang dan baju rajut lengan panjang yang agak kebesaran. "Fitri, kakak ke depan sebentar, yah. Saya mau beli sesuatu." Teriak Ciki Sembari keluar dari pintu apartemen.
"Mau di temanin gak kak ? Ini sudah malem lo." Jawab Fitri dengan sedikit berteriak karena Ciki sudah di depan pintu.
"Gak usah, cuman sebentar doang, lagian deket kok." Balas Ciki dengan teriakan dan menghilang dari balik pintu.
Sebuah mobil pajero putih benar benar terparkir di sana, Pak Adit berdiri di sisi mobil dengan santai, kedua tangan di lipat di atas dada sembari memandang seorang gadis yang menghampirinya. Sedangkan Ciki memasang wajah cemberut ketika melihat senyum puas Bossnya itu.
"Mau di ancam dulu ternyata kamu yah, baru mau keluar." Ujar Adit.
"Mau bapak apa ke sini datang malam malam ?" Sembur Ciki kesal.
"Mau ajak kamu berdamai, minggu depan saya tidak di kantor bagaimana operasional bisa berjalan kalau kamu main kabur begitu saja." Jawab Adit sembari melirik arah sekitar. " Dekat sini enggak ada tempat makan atau cafe gitu yang nyaman ?biar enak bicaranya." Tanya Adit.
"Enggak ada, lagian saya juga sudah resign." Jawab Ciki ketus.
Pak Adit membuka pintu mobilnya.
"Naik." Perintahnya.
Ciki menggeleng. " Sudah malam, Pak. Bahaya!"
"Sama pri yang baru kamu kenal tidak takut bahaya, Sama saya kamu takut!" Ujar Adit dengan nadanya terdengar terainggung. "Tenang saja, kamu aman bersama saya." Ujarnya lagi.
Percuma berdebat denga Bossnya, Ciki mengalah dan mengikuti perintah Bossnya itu.
"Kita mau ke mana ?" Tanya Ciki
"Keliling kota jakarta sampai masalah kita selesai."
"Masalah kita sudah selesai kemarin kan, Pak. Saya sudah resign dari kantor Pak Rezky Aditya dan juga saya tidak menyukai bapak. Kurang jelas apa lagi sih, Pak ?" Ujar Ciki mempertegas setiap katanya.
"Kamu bohong kalau bilang gak suka sama saya, Ciki." Ucap Adit pelan.
"Saya enggak bohong."
"Bisa tunggu sampai saya balik dari singapura ? saya tidak bisa membiarkan kamu pergi begitu saja. Kantor mebutuhkan kamu begitu juga dengan saya Ciki." Adit menatap Ciki intens.
Duh kata katanya itu loh.!
"Siapa yang membuat saya seperti ini kalau bukan kamu karena kamu yang memulainya terlebih dahulu, Semua perhatian yang kamu berikan kepada saya, langkah kamu yang semakin lama semakin memasuki area kehidupan saya secara pribadi. Setelah kamu berhasil kamu membuat saya jatuh hati kamu main kabur begitu saja." Ujar Adit panjang lebar. Ini adalah pertama kalinya Adit berbicara dengan Ciki secara pribadi.
"Siapa yang jahat Ciki, saya atau kamu ?" Ujar Adit.
Aku jadi teringat kata kata Renata. Gue pribadi lebih baik Cut dari awal kalau gak ada perasaan apapun sama pria, di banding lo berupaya sopan, perhatian, kasian, yang menurut gue sama saja dengan PHP. Itu jauh lebih jahat tau.
"Sikap saya beralasan kan Pak, Karena bapak Bosa saya dan saya asisten pribadi bapak." Ujar Ciki tidak mau kalah.
Mobil Adit berbelok, memasuki kawasan gedung apartemen. " Ini kita kemana, Pak ?katanya hanya keliling." Tanya Ciki yang mulai bersikap panik.
"Apartemen saya." Jawab Adit singkat.
Sponta Ciki menjauh dari Adit dan merapatkan tubuhnya ke pintu mobil. "Pak Adit." Teriak Ciki.
"Saya cuman mau membuktikan kalau kata kata kamu itu bohong." Ujar Adit.
"Pak saya tidak segan segan teriak loh."
Ciki meraba saku celananya dan mengumpat dalam hati, lupa bawa handpone. "Kalau bapak berbuat tidak senonoh saya tidak segan laporin bapak ke kantor polisi ?" Ujar Ciki panik.
Adit memarkir mobilnya.
"Ayo turun." Perintah Adit.
"Gak mau, Anterin saya pulang." Ciki masih merapat ke sisi mobil, dan memegang erat seat belt.
"Memang kamu pikir saya mau ngapain sih ? perkosa kamu.! Ujar Adit.
Ciki mengangguk keras. " Anak pinter." Ujar Adit malah memuji.
"Pak saya mau pulang." Ciki semakin takut.
Adit malah tertawa terpingkal. " Oke maaf. Saya janji gak akan melakukan apapun sama kamu. Tapi saya mau kamu ikut saya terlebih dulu."
Akhirnya dengan perasaan takut Ciki mengikuti langkah Adit.
"Tunggu di sini." Ujar Adit sembari melangkah menuju ke kamarnya, Ciki menetap duduk di soffa ruang tamu. Dua menit kemudian Adit kembali dengan sebuah buku diary dengan sampul berwarna pink.
"Ini punya kamu kan?" Ujar Adit sembari menyerahkan buku itu ke Cik, Ciki mulai membuka isinya, yang Ciki sendiri tidak ingat apa yang ia tulis di dalam sana. Yah, buku itu memang punyanya tapi itu sudah lama hilang entah kemana.
'-Setelan Abu abu tua, doi makin kece kalau penampilannya rapi kaya gitu.
Picture, Potongan gambar pak Adit saat dinas ke bali yang di ambil ciki secara diam diam saat Adit tertidur di balkon. ' Pak Adit tetap cakep walau sedang tidur pulas.
*Saya suka sama Pak Adit!
"What, serius gue pernah nulis begini. OMG*." Ciki terkejut sendiri dengan apa yang pernah ia tulis.
Wajah Ciki memerah. Semua isi buku diary itu hanya berisikan tentang Pak Adit dan Pak Adit. Tentang pakaian pak Adit, makan kesukaanya sampai dengan hobby pak Adit.
Adit menarit kursi bulat dan duduk di hadapan Ciki. "Sebelum saya suka sama kamu, saya sudah tau lebih dulu perasaan kamu terhadap saya Ciki."Ujar Adit pelan.
"Perasaan saya sama bapak hanya sekedar kagum terhadap atasan bukan perasaan cinta seperti yang bapak pikir, lagian ini buku sudah lama." Jawab Ciki.
"Kalau begitu tinggal cara terakhir buat kamu mengakui perasaan kamu pada saya." Ujar Adit sembari memajuka tubuhnya kedepan membuat Ciki mundur dan menabrak soffa. Dan tangannya mulai melingkari tubuh Ciki.
"Bapak mau apa ? bapak sudah janji kan, bapak gak bakalan ngapa ngapain saya" Tanya Ciki takut.
"Kamu sudah dewasa kan untuk tahu tidak ada yang namanya ingkar kalau janji selalu di tepati." Ujar Adit dengan menyunggingkan senyuman yang seakan siap menerkam.
"Pak Adit, saya mau pulang." Suara Ciki bergetar ketakutan.
"Tunggu saya pulang dari Singapura yah, mau ?" Suara Adit melembut.
Ciki mengangguk cepat. Akhirnya Adit menarik dirinya dari tubuh Ciki.
"Ayo, saya antar pulang." Ujar Adit. Ciki menganggu dan mengikuti langkah Adit menuju pintu.
Sepanjang perjalanan mereka diam dalam pikiran masing masing.
"240320." Ucap Adit begitu Ciki hendak membuka pintu mobil.
"Apa ?" Tanya Ciki bingung.
"Tanggal jadian kita dan juga Pasword pintu masuk apartemen saya." Ujar Adit. " siapa tau kamu kangen dengan saya, bisa datang ke sana." Adit tersenyum menggoda.
"No way.! Ujar Ciki dan keluar kemudian menutup pintu mobil. Ciki mengingat angka yang di berikan barusan.
Itu kan hari ini berarti ia baru saja mengganti pasword apartemennya.
********
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊