
Pagi yang cerah, Ciki pergi kekantor dengan semangat yang baru. Hari ini ia tidak sendiri ada Stefan yang mengantarnya.Stefan adalah teman masa kecilnya dengan Fitri, kemarin Fitri ke rumah Stefan karena rindu dengan mami Ranti yang merupakan mama Stefan. Karena Fitri bermalam di rumah mami, Stefan mengantar Fitri pulang tadi pagi, dan sekalian Ciki nebeng ke kantor karena kantor stefan searah dengan kantor tempat kerja Ciki. Fitri memang lebih dekat dengan mami Ranti, karena dulu Fitri sering ke rumah mami saat saya pergi kerja. Mami Ranti sebenarnya ingin mengadopsi kami dan melarang saya untuk bekerja, hanya saja saya merasa umurku waktu itu sudah besar dan bisa bekerja sendiri. Jadi saya menolaknya, saya memutuskan membesarkan Fitri sendiri. Tapi mami tetap menganggap kami sebagai anak nya kok.
"Jadi kamu sudah berapa lama kerja di sini ?" Tanya Stefan sembari menatap gedung kantor Ciki.
"Sudah lumayan lama sih kak." Ujar Ciki.
"Kalau kamu sudah gak betah kerja di sini, keluar saja. Nanti kamu kerja di kantor kakak." Ujar Stefan.
"Enggak kok, Kak. Ciki udah betah kerja disini." Ujar Ciki. Stefan mengangguk kecewa.
"Cik!" Ciki dan Stefan serempak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Renata yang sedang berjalan ke arahnya.
Seketika Renata terpesona dengan ketampanan Stefan. Dengan cepat Renata merapikan rambut dan pakaiannya. "Kayak mau di intetview aja lo." Bisik Ciki ke Renata.
"Siapa, Cik ?" Tanya Renata.
"Kak, kenalin. Ini Renata teman sekantor saya, Ren kenalin ini kak Stefan. Kakak angkat saya." Ujar Ciki memperkenalkan sahabatnya dengan sang kakak.
Renata lansung menjulurkan tangannya untuk bersalaman. " Renata" Ujarnya.
" Stefan." Ujar Stefan setelah bersalaman dengan Renata. Senyum Stefan bagaikan menyihir Renata. "Teman kamu cantik yah, Ciki." Ujar Stefan.
"Jangan gombalin Renata kak, dia cepat baper orangnya." Ujar Ciki.
Renata memukul pelan lengan Ciki. " Ish. Ciki."
"Cik, kak saya masuk kerja duluan yah." Ujar Renata. Karena tugasnya belum selesai semalam, jadi Renata pamit duluan untuk mengerjakan tugasnya. Sebenarnya sih, Renata masih ingin berlama lama ngobrol dengan Stefan.
"Renata Cantik yah, Cik." Ujar Stefan setelah Renata sudah menjauh.
"Kakak suka ?" Tanya Ciki.
"Kirim aja nomornya, siapa tau bisa kakak deketin." Stefan tersenyum penuh arti begitupun dengan Ciki.
Dari kejauhan seseorang melihat kedekatan mereka intens. Sampai akhirnya Ciki meninggalkan Stefan, dan melangkah masuk ke kantor.
Di dalam lift, hanya ada beberapa orang. Ciki memilih untuk berdiri di pojok lift. Terlalu sibuk dengan isi tasnya yang berantakan, sampai dia tidak menyadari seseorang juga telah masuk, dan berdiri tepat di sampingnya.
Ting!
Lift terbuka, Ciki yang hendak keluar merasa tertahan dengan seseorang pada tangannya.
"Pak." Ujar Ciki setengah kaget. Pintu lift tertutup lagi, Ciki merasa ketakutan. Adit menekan tombol untuk mencapai lantai atas. Ciki merasa ada sesuatu yang tidak baik baik saja.
Berkali kali, Ciki mencoba menghempaskan tangan tangan Adit. Tap terlalu sulit. " Pak, sakit. Lepasin!"
Ujar Ciki meronta.
Seakan tuli Adit mengabaikan rintihan Ciki.
Ting!
Ciki terpaksa mengikuti Adit karena tarikannya terlalu kuat. Ciki sampai ingin menangis di buatnya. "Pak." Lirihnya saat mereka sudah sampai di rooftop.
Adit melepaskan cekalan tangannya. "Tadi kamu di antar siapa ?" Tanya Adit yang menahan emosi.
Ciki meneguk salivanya, kegugupan dan rasa takutnya, menjadi berlipat ganda saat Adit bertanya tentang Stefan. Padahal kalau di pikir pikir, untuk apa Ciki ketakutan. Toh, Adit juga seperti menggantung hubungan mereka.
"Jadi yang tadi itu siapa ?" Tanya Adit lagi, kali ini suaranya terdengar tenang, tapi tegas. Ciki merinding.
"Em-. Siapa ?" Tanya Ciki, yang pura pura gak tau apa maksud dari Bossnya itu.
"Yang tadi, pemuda yang mengobrol dengan kamu di parkiran, ada Renata juga." Ujar Adit menjelaskan.
"Oh, itu kakak saya." Ujar Ciki.
"Iya, kak Stefan itu kakak angkat saya." Jawab Ciki.
"Oh, jadi namanya Stefan. Kakak Angkat, dari kapan dia jadi kakak angkat kamu ?" Tanya Adit.
"Kenapa banyak tanya sih, Pak ? Emang apa hak hak bapak tanya tanya kaya gitu tentang kak Stefan. Yang pasti sebelum saya kenal bapak, saya lebih dulu kenal dengan Kak stefan." Ujar Ciki dengan nada tak suka.
"Saya punya hak atas kamu Ciki!" Ujar Adit dengan suara tinggi.
"Enggak, bapak gam punya hak ngagur ngatur saya. Emang siapa bapak berani ngatur kehidupan pribadi saya ? Saya mau jalan sama siapa pun, itu bukan hak bapak." Ujar Ciki.
Adit menahan pinggang Ciki, dan tahan satunya menahan tengkuk Ciki. Adit mencium bibir kecil Ciki. Ciki yang meronta, tak membuat Adit kesulitan untuk mengecap bibir mungil wanitanya, karena tubuhnya yang jauh lebih besar.
Ciki mulai luluh, walau pun tidak bisa membalas ciuman Adit, karena tidak memiliki pengalaman. Tapi setidaknya dia tidak berusaha beronta seperti sebelumnya. Ciki sangat menikmati ciuman Adit, begitu juga dengan Adit. Sampai akhirnya mereka mengakhiri berciuman setelah pasokan oksigen mereka berkurang.
Ciki menunduk malu, sedangkan Adit tersenyum melihat tingkah Ciki. " Baru pertama kali ciuman." Tanya Adit mengulum senyumnya.
Ciki menoleh sesaat pada Adit, kemudian mengangguk. "Jadi saya yang pertama ?" Tanya Adit.
"Iyah, tapi saya pernah pacaran kok." Ujar Ciki sombong.
Adit tersenyum, kemudian menarik Ciki kedalam pelukannya. Tentu saja Ciki terkejut. "Saya adalah pacar terakhir kamu, karena saya yang akan menikahi kamu. Jadi saya memiliki hak untuk mengatur kamu untuk bertemu siapa saja." Ujar Adit bersungguh sungguh.
Ciki tersipu malu, dia semakin memasukkan wajahnya pada dada bidang Adit. Jantungnya sudah tidak bisa berdetak normal. Tapi hatinya terasa sedang berbunga bungan.
Adit melepaskan pelukannya. " Ciki!" Panggil Adit.
Ciki menoleh cepat menatap Adit. Matanya melebar saat melihat dahi Adit yang memar. Itu bekas kemarin yah ?- Batin Ciki.
"Kenapa ?" Tanya Ciki pura pura tidak tahu.
"Ini akibat kamu yang otaknya ngeres." Ujar Adit sembari menunjuk dahinya yang memar. Ciki mencebikan bibirnya.
"Maaf." Ujar Ciki penuh sesal. Adit tersenyum sembari mengusap kepala Ciki lembut.
"Ciki, saya mencintaimu." Bisik Adit. Ciki kembali terkejut saat Adit mengecup kening Ciki lembut. Untung saja dia tidak punya riwayat sakit jantung.
Ya, setidaknya ini awal hari yang baik untuk Ciki. Akhirnya, ia bisa mendengar pernyataan Cinta Adit yang sesungguhnya. Meskipun dia harus kehilangan Ciuman pertama. Tapi setidaknya dia memberikan ciuman pertamanya itu pada seseorang yang diam diam juga sudah ada di hatinya.
Di dalam lift, Renata bertemu dengan Adit dan juga Ciki.
"Pak." Sapa Renata mengangguk sopan. Adit hanya mengangguk sebagai jawaban.
Renata segera melarikan dirinya di samping Ciki.
"Cik, lo kok pake lipstik berantakan gitu sih ?" Tanya Renata sambil membuka tasnya untuk mengambil tissu yang biasa dia bawa.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Sontak saja, Adit dan Ciki batuk bersamaan. Renata menatap keduanya heran. " Eh, kalian bisa kompak gitu yah." Ujar Renata dengan tersenyum lebar.
Ting!
"Saya duluan." Ujar Adit, dan segera pergi.
"Pak Adit minta lipstik lo yah, Cik ? kok bibirnya merah gitu yah ?" Ujar Renata. Ciki langsung keluar meninggalkan Renata. Wajahnya sudah merah merona. Dan akan bahaya kalau dia berlama lama dengan Renata. Bisa bisa rahasianya terbongkar sudah. Renata terlalu peka.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊