My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 42



Adit melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan was was, takut bila Ciki pergi meninggalkan dirinya karena masalah tadi siang. Setelah kejadian tadi siang ia tidak bisa mengantar Ciki pulang, karena ia tidak boleh meninggalkan kantor, ada meeting yang harus Adit hadiri siang itu.


Kepulangan Ciki dari kantor, pikiran Adit tidak bisa lagi fokus ke pekerjaannya, dirinya terus memikirkan kemarahan Ciki. Adit takut jika ia pulang, Ciki sudah tidak ada lagi di rumahnya. Baru kali ini Adit benar benar merasakan takut jika di tinggalkan oleh istrinya karena kesalahannya.


Jam sudah menunjukan pukul lima sore, Adit bergegas pulang ke rumahnya untuk menemui sang istri.


" Sayang kamu di mana ?" Panggil Adit setelah masuk ke dalam rumah, dan tidak mendapati sang istri.


"Ciki!" panggilnya lagi karena sang istri belum juga bersuara. Adit menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumahnya, tapi ia belum juga menemukan keberadaan istrinya.


"Akh." Teriak Adit sembari mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya dengan rasa frustasi.


"Sayang, kamu kemana sih." Ujar Adit berbicara sendiri.


Truuut! Truuut! Truuut!


Adit meraba saku celananya dan mengambil benda pipih yang sedang berbunyi itu. Ia melihat sekilas layar hanphonenya dan segera mengangkat telepon dari mamanya.


"Halo, Mah. Ciki gak ada di rumah, Mah." Ujar Adit tanpa basa basi setelah mengangkat telfon mamanya.


"Ciki ada di rumah mama, Nak. Ia tadinya ingin ke kampung halamannya, untung mama cepat datang." Ujar Mama Adit.


"Syukurlah, Mah. Adit benar benar takut, kalau Ciki bakalan ninggalin aku. Aku ke sana sekarang yah, Mah!" Ujar Adit yang bergegas ingin segera menjemput istrinya.


"Adit, dengerin mama dulu." Ujar mama Adit dari seberang telepon.


"Iya, Mah." Jawab Adit sembari menghentikan langkahnya.


"Kamu sebaiknya jangan ke sini dulu, Nak. Biarkan istrimu tenang dulu, tadi Ciki berpesan ke mama kalau untuk sementara ia tidak ingin bertemu kamu dulu. Mungkin ia butuh sendiri dulu, takutnya kalau kamu memaksa untuk menemuinya, Ciki bisa stres dan itu tidak bagus untuk kandungannya yang masih muda." Ujar mama Adit menjelaskan.


"Iya, Mah. Adit ikut saran mama. Tolong jaga Ciki ya, Mah." Ujar Adit.


" Tentu dong, Nak. Ciki kan menantu mama. Sebaiknya kamu fikirkan cara agar istrimu memafkan mu. Mama gak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, mama hanya ingin menasehati, jaga perasaan hati istri mu, Nak. Perempuan memang sensitif kalau lagi hamil muda, sebaiknya kamu lebih banyak mengalah." Ujar mama Adit memberi nasehat.


"Iya, Mah. Makasih, karena sudah menahan Ciki agar tidak meninggalkan Adit." Ujar Adit dengan tulus.


"Mama hanya bisa bantu semampu, mama. Kamu istirahat yah, jangan lupa kabari istrimu kalau kamu sudah pulang dari kantor." Ujar Mama Adit.


"Iya, Ma." Ujar Adit.


"Ya sudah, mama tutup telepon nya yah." Ujar Mama Adit sembari menutup telepon.


Adit sedikit tenang setelah mendapat telepon dari mamanya. Walaupun Ciki belum mau untuk bertemu dengannya, tapi setidaknya Ciki aman di rumah mamanya.


Adit kembali mengambil hanphone dari saku celananya, dan menulis pesan untuk sang istri.


ISTRIKU


Sayang.


Aku sudah sampai rumah.


Kamu jaga kesehatan yah, jangan banyak gerak.


Kalau ada apa apa langsung telepon aku yah.


Atau tanya sama mama.


Lima pesan singkat Adit yang baru saja ia kirim untuk istrinya sudah di baca, tapi Ciki tidak membalasnya.


Malam harinya, Adit kembali mengirim pesan singkat ke istrinya.


Sayangku


Sayang, jangan lupa makan yah.


Perbanyak minum air mineral yah, sayang.


Aku kerja dulu yah, sayang.


Aku kerja di kamar kita sayang, agar bisa sedikit lebih


tenag jika mencium aromamu.


Aku merindukanmu, sayang.


Ciki belum juga membalas pesannya.


***


Di rumah mama Adit.


Ciki kembali ke kamar yang telah di sediakan untuknya, setelah acara makan malam bersama dengan mertuanya.


"Mah, Ciki ke kamar duluan yah." Ujar Ciki ke mama mertuanya.


"Iya, sayang. Kamu istirahat aja, nanti bibi imah yang bawa susu hamil kamu ke kamar." Ujar Mama mertua Ciki.


"Iya, mah." Ujar Ciki lagi, kemudian melangkah meninggalkan ruang makan menuju kamar tidurnya.


Sesampainya di kamar, ia langsung mengecek handphone nya yang bertengger di meja rias. Ia membaca pesan suaminya di whatsapp, ia ingin sekali membalasnya tapi rasa egonya terus menahan dirinya.


"Aku juga kangen sama, Mas. Tau gak sih mas, aku susah tidur jika tidak mencium bau, Mas." Batin Ciki sembari berjalan menuju kasurnya. Baru saja ia ingin merebahkan badannya, Bibi imah mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya untuk memberikan Ciki susu untuk penguat kandungan.


"Minum dulu susunya, nyonya. Biar kandungan nyonya kuat." Ujar Bibi imah dengan lembut sembari menyodorkan minuman yang ia pegang.


"Terima kasih yah, Bi. Maaf merepotkan Bibi." Ujar Ciki.


"Tidak kok, Nya. Ini sudah tugas Bibi melayani kebutuhan Nyonya, lagian Bibi juga ikut senang dengan karena sebentar lagi Nyonya Ciki dan Tuan Adit bakalan punya penerus." Ujar Bibi Imah sembari tersenyum tulus.


Setelah Bibi imah keluar dari kamarnya, Ciki segera mengatur tempat ia tidur agar dirinya nyaman saat istirahat. Tak lupa juga, ia mengambil baju kemeja suaminya yang belum di cuci dari lemari. Ciki memang segaja memasukkan baju suaminya untuk di bawa bersamanya ke rumah mertuanya, Ciki tau kalau ia sangat gelisa jika ingin tidur tapi tidak mencium bau suaminya itu. Ciki beranggapan kalau perubahan dirinya yang tidak bisa terlalu jauh dari suaminya itu, karena dirinya sedang mengidam alias itu permintaan bayinya. Hehehe alasan aja nih si Ciki, gengsi aja kali gak mau ngakuin kalau yang tidak bisa jauh dari adit itu memang dirinya bukan karena ngidam. hehehe garing yah, maklum lah bukan pelawak.


Ciki memeluk baju Adit sampai ia tertidur.


Pagi harinya, Ciki terbangun karena handponenya berbunyi , Ciki sudah tau kalau nada itu untuk pesan whatsapp dan Ciki juga sudah tau kalau yang mengirim pesan kepadanya pasti suaminya.


Suamiku.


Sayang, jangan lupa sarapan yah.


Jaga kesehatan.


Kalau butuh sesuatu, panggil bibi imah aja.


Atau minta bantuan ke mama.


Aku rindu masakan kamu, sayang.


Aku ke kantor dulu, yah.


I Love You, sayangku.


Tidak terasa air mata Ciki menetes tanpa izin, ia sebenarnya juga tidak ingin begini. Ia juga rindu sarapan bersama suami, Ciki mengingat bila suaminya akan ke kantor dirinya selalu mendapat ciuman tanda sayang di kening. Ciki sangat merindukan itu semua, tapi ia juga belum ingin bertemu karena dirinya masih selalu mengingat kejadian di kantor waktu itu.


Ciki tidak meragukan ke setiaan suaminya, ia tau kalau suaminya tidak mungkin menghianatinya karena suaminya juga pernah merasakan penghiatan oleh orang yang ia cintai, tapi Ciki merasa dirinya masih butuh waktu untuk menenangkan fikirannya.


Bersambung....