My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 27



Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, semua staf sudah berkemas, termasuk kedua teman Ciki. Tapi lain halnya dengan Ciki, Ciki dengan sok serius mematap layar komputernya, padahal kerjaannya sudah selesai dari satu jam lalu. Tapi demi menunggu teman temannya pulang lebih dulu, agar Ciki bisa pulang bareng Adit, Adit menyuruh Ciki menunggunya saat pulang nanti. Ciki pura pura mengecek kembali kerjaannya.


"Cik, beres belom kerjaan lo ?" Tanya Rendi.


" Em, gue belum beres." Jawab Ciki.


" Yaudah, kita duluan yah."


"Iya." Ciki melambaikan tangan kepada Rendi dan Renata. Dia menghela nafas lega.


Setelah menyimpan file kerjaannya, Ciki bergegas mematikan komputer, berkemas dan terakhir memoles sedikit wajahnya dengan tipis. Dirinya kembali tersenyum pada cermin bedak.


Cantik. Puji Ciki pada dirinya sendiri. Ciki menyembulkan kepalanya dari kubinel, dia menatap ruangan Adit. "Kok belum keluar juga sih." Keluh Ciki.


Ciki menopang wajahnya dengan kedua tangannya, sudah setengah jam lewat, Adit belum juga keluat. Merasa kesal, akhirnya Ciki memberanikan diri untuk datang ke ruangan Adit.


Baru saja Ciki hendak mengetuk pintu ruangan Adit, tapi tawa nyaring dari dalam ruangan membuat Ciki mengurungkan niatnya, dia memilih untuk menguping. " Adit tertawa ?" Tanyanya tidak percaya.


Merasa penasaran, Ciki mengetuk pintu ruangan Adit.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk"


Ciki membuka pintu ruangan Adit perlahan, terlihat Adit di sofa dengan laptop yang dia letakkan di meja.


"Kok, baru datang ? saya nunggu kamu dari tadi, akhirnya saya nonton duluan, habisnya kamu lama." Ciki mengerutkan dahinya.


Tidak menjawab pertanyaan Adit, Ciki memilih masuk setelah menutup pintu ruangan Adit. Ciki mendekat ke arah Adit, ternyata pria itu sedang menonton film komedi.


"Loh, Pak. Kok nonton di laptop sih ?" Tanya Ciki.


"Terus mau nonton di mana lagi ?" Tanya Adit.


"Saya pikir bapak mau ajak keluar, nonton di bioskop kek." Ujar Ciki.


"Di bioskop rame, sesak, banyak orang. Gak ada kesempatan buat kita berdua." Ujar Adit enteng.


Tapi sungguh, Ciki tidak menerima itu, sepertinya tadi dia sudah salah kira. Ciki menghentakkan kakinya kesal. " Ish, kalau tau begini mending saya ikut Renata saja." Omel Ciki. Ciki hendak berbalik untuk pulang karena kesal, tapi tangannya tercekal kuat dengan tanga Adit.


"Duduk, sayang. Temani saya nonton film di sini." Ujar Adit.


Deg!


Ciki sontak memegang dadanya kuat, jantungnya benar benar dalam keadaan tidak sehat. Wajahnya juga berubah jadi merah tomat.


Sejak kapan ruangan kerja Adit berasa kaya ladang bunga gini ? Batin Ciki.


" Tunggu apa lagi ? Ayo duduk sini." Adit menarik tangan Ciki, sampai akhirnya Ciki terduduk di samping Ciki. Wajahnya masih menampakkan kekecewaan, tapi hantinya berkata lain.


Ciki sih rhido aja kalau mau aja nonton film di kantor dengan Adit sampai larut malam, bahkan sampai pagi juga Ciki mau. Tapi tetap saja, Ciki harus menjaga image nya sebagai seorang wanita. Harga diri harus di junjung tinggi, You know!


Ciki masih menekuk wajahnya, Adit yang merasa terganggu dengan ekspresi wajah Ciki menoleh pada gadis itu. "Masih marah ?" Tanya Adit.


"Enggak," Jawab Ciki. "Kenapa harus marah ? Emang saya siapanya bapak yang harus marah." Ujar Ciki.


Kode keras lo ini, ayo bilang sekali lagi tentang hubungan kita dong. Batin Ciki.


Bukannya menjawab, Adit hanya tersenyum simpul. Dia kembali fokus pada film yang baru saja dia unduh tadi siang. Sedangkan Ciki merasa sangat kesal pertanyaannya tidak di tanggapi oleh Adit.


Ciki meremas tangannya, selalu jari jari tangannya yang menjadi korban di saat dia merasa kesal.


"Saya pulang dulu deh, Pak. Udah mau malam, Adek saya belum ke Bogor, kasian dia di rumah sendirian." Ujar Ciki sembari berdiri.


"Fitri gak ada di rumah, dia ke rumah kerabat kamu katanya. Dia nyuruh saya sampaikan ke kamu. Jadi jangan alesan." Ujar Adit.


"Bapak tau dari mana ?" Tanya Ciki heran.


"Kenapa bapak punya nomor adik saya ?" Tanya Ciki kaget.


"Oh, saya yang minta." Jawab Adit lagi.


Ciki semakin tercengang, sejak kapan Adiknya bertemu dengan Adit. Setau Ciki, Adit dan Fitri batu satu kali ketemu itupun saat Adit mengantar Fitri ke rumah sakit. Dan Ciki sangat yakin kalau Adit saat itu tidak meminta nomor telfon Fitri karena ia berada di dekat Fitri saat itu. "Sejak kapan bapak ambil nomor Adik saya ?" Tanya Ciki penasaran.


"Sudah lama, saya tidak segaja ketemu di supermarket." Ujar Adit lagi.


"Buat apa bapak ambil nomor saya ?" Tanya Ciki.


"Kamu cemburu yah ? tenang saja, saya tidak tertarik dengan Adik kamu. Saya cuman mengambil nomornya untuk mengetahui kegiatan kamu di rumah, ketemuan sama siapa ? Saya juga tau dari Adik kamu, kalau waktu itu kamu mau kabur dari saya naik ojol." Ujar Adit lagi.


Ciki makin tercengang. Fitri kakak lo sebenarnya siapa sih, kok tega khianatin kakak. Pantes aja biasa kebetulan saya pesan ojol, langsung nongol si doi. Batin Ciki.


"Oh yah, Fitri juga bilang ke saya kalau kamu ngigo manggil nama saya." Ujar Adit enteng.


Kutu kampret tuh anak, bisa bisanya dia ceritain tentang saya ke manusia kutub ini. Malu banget kan. Fitri, harga diri kakak lo jatuh sekarang. Celetuk Ciki.


"Sudah jam enam lewat, Pak. Kita pulang yuk." Ujar Ciki.


"Saya mau ke kamar mandi dulu, gerah. Kamu mau ikut ?" Ujar Adit menggoda Ciki.


"Ngapain ? Ogah." Jawab Ciki.


"Siapa tau aja mau ikut, mandiin saya." Ujar Adit yang terus menggoda gadisnya itu.


"No, lagian kita kan mau pulang. Ngapain bapak mandi di kantor, kenapa gak sekalian mandi di rumah saja sih, Pak ?" Protes Ciki.


"Siapa bilang kita mau pulang, temani saya ke suatu tempat dulu." Ujar Adit.


"Kemana, Pak ?" Tanya Ciki.


"Nanti juga kamu tau." Jawab Adit sembari melangkah masuk menuju ruangan pribadi miliknya.


Skip


Ciki memainkan ponselnya sembari menunggu Adit keluar dari ruang pribadinya. Ciki mengingat kembali perkataan OB di sini, ruangan Adit ada penunggunya, tidak jarang OB yang membersihkan ruangan Adit suka di ganggu.


Tapi, entahlah dengan Adit. Penunggunya takut kali sama wajah dingin Adit.


"Lagi mikirin apa ?" Tanya Adit. Ciki terhentak kaget.


"Ngagetin aja, orang mah ucapin salam kek, permisi permisi kek. Jangan main nanya aja dong, Pak." Omel Ciki.


"Emang kamu pohon beringin angker dimana saya harus numpang permisi setiap mau lewat." Ujar Adit.


Ciki mendelik sinis pada Adit yang saat ini berdiri di depannya.


"Ayo!" Ujar Adit.


"Mau kemana sih, Pak ?" Tanya Ciki.


"Kamu suka di kantor berduaan sama saya yah, kalau saya sih gak masalah." Ujar Adit menaik turunkan alisnya.


"Ogah!" Seru Ciki lalu berjalan mendahului Adit menuju parkiran.


****


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊