My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 44



Ciki memeriksa handphone nya, ia menunggu kabar dari sang mertua laki laki tentang keadaan suaminya di rumah sakit. Cukup lama ia menunggu kabar tapi handphonenya belum juga bunyi, Ciki memutuskan menelpon duluan mertuanya untuk menanyakan ke adaan suaminya.


Truuut! Truuut! Truuuut!


Panggilan pertama Ciki belum juga di angkat oleh ayah mertuanya, ia menelpon lagi untuk kedua kalinya tapi hasilnya pun sama. Ciki mulai gelisah, ia takut Adit kenala napa. Ciki akan berdiri dari tempat tidurnya untuk menanyalan kabar suaminya ke mama mertuanya, siapa tau saja mama mertuanya sudah mendapat kabar dari rumah sakit.


Ciki baru akan berdiri dari tempat tidurnya ketika pintu kamar di banting terbuka.


Degup jantung Ciki serasa berhenti satu detakan sebelum berdegup dengan kencang.


"Mas Adit!" Seru Ciki.


Air mata Ciki menetes seiring Adit yang maju mendekatinya, nafas Adit tersegal seperti habis berlari. Adit terus menatap mata Ciki, mata mereka saling bertemu.


Ciki mengalihkan pandangannya pada kepala suaminya yang di hiasi dengan perban. Air mata Ciki semakin mengalir deras.


Adit duduk di lantai tepat di hadapan Ciki yang sedang duduk di tepi ranjang, kepala Adit ia jatuhkan ke pangkuan Ciki sedangkan tangannya melingkar di sekeliling perut istrinya yang sudah semakin besar.


Tangan Ciki perlahan naik dan mengelus lembut rambut suaminya. Cukup lama mereka terdiam, tidak ada yang mengeluarkan suara. Air mata Ciki kini berhenti mengalir.


"Kamu kok ke sini, Mas ?" Tanya Ciki dengan suara serak khas orang habis menangis.


Adit menggerakkan kepalanya dan mengecup perut istrinya.


"Kangen." Gumam Adit.


"Kangen Anak ?" Tanya Ciki.


"Kangen Anak dan juga ibunya." Jawab Adit, Ciki tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Mas kan belum sembuh, kenapa keluar dari rumah sakit ?" Tanya Ciki.


"Mama tadi nelfon ke papa dan dia bilang kalau kamu pingsan." Ujar Adit kembali memeluk perut istrinya.


"Kaget tadi." Ujar Ciki.


"Bukan karena mencemaskan aku ?" Tanya Adit dengan wajah cemberut.


"Pede amat." Ujar Ciki singkat sembari mengangkat Alisnya.


"hm, aku ke rumah sakit aja lah. Gak ada yang kangenin aku." Adit hendak beranjak dari tempat duduknya ketika Ciki menahan lengannya suaminya.


"Tidur yuk, Mas. Aku mengantuk." Ujar Ciki sembari merengek manja, Adit yang melihat Ciki bersikap manja kepadanya tidak bisa menolak dan ikut tidur di samping istrinya.


"Kemarin kemarin kamu bisa tidur nyenyak ?" Tanya Adit. Ciki mengangguk sambil matanya terpejam.


"Katanya gak bisa tidur kalo gak ada aku di samping mu ?" Tanya Adit kecewa.


"Aku membawa kemejamu yang belum di cuci biar bau badanmu masih nempel di kemeja." Ujar Ciki.


"Hah?"


" Diem ah, aku ngantuk. Tidur yuk." Ujar Ciki.


"Gak mau tau kenapa aku bisa kecelakaan ?" Tanya Adit.


Ciki menggeleg tegas.


"Yang terpenting sekarang mas sudah ada di sini." Ujar Ciki.


Adit mengeratkan pelukannya.


"Sayang, maafin aku yah. Jangan marah lagi sama aku yah sayang." Ujar Adit dengan suara pelan.


"Iyah mas." Ujar Ciki, hatinya melunak mendengar permintaan maaf dari suaminya.


"Pulang kerumah kita yuk, sayang. Aku kesepian di rumah." Ujar Adit.


"Besok, saja mas." Ujar Ciki.


"Beneran sayang ?" Tanya Adit memperjelas.


"Hm." Gumam Ciki.


"Ciki." Panggil Adit.


"Hm."


"I Love You istriku sayang." Ujar Adit mencium pundak Ciki lembut.


"I Love you tu suamiku." Jawab Ciki.


Mereka pun tertidur lelap.


***


"Ma, Pa. Ciki mau pulang dulu yah, makasih yah sudah rawat Ciki." Ujar Ciki ke mertuanya.


"Putri mama sudah mau pulang, yah mama ke sepian lagi dong." Ujar Prita.


"Kan ada papa." Ujar suami prita.


"Beda Pa." Ujar Prita ke suaminya.


Adit dan Ciki terkekeh melihat pertengkaran mama dan papanya.


"Ya sudah ma, Adit pulang dulu." Ujar Adit.


"Iya, awas yah kalau kamu bikin putri mama nangis. Mama coret kamu dari kartu keluarga." Canda Prita ke anaknya.


"Idih, Sadis bener mama ke anaknya." Ujar Adit, Ciki hanya terkekeh.


"Ciki bilang ke mama kalau Adit macam macam sama kamu, biar mama kasi pelajaran." Ujar Prita.


"Iya Ma." Ujar Ciki sembari memeluk ibu mertuanya.


"Ciki sering serinh jenguk mama, yah." Ujar Prita ke menantunya.


"Iya, mah. Pasti." Ujar Ciki.


Setelah Adit dan Ciki tidak terlihat lagi di halaman rumah mamanya, Prita dan suaminya segera masuk ke dalam rumahnya.


"Alhamdulillah, yah Pa. Anak kita sudah baikan, dan makin mesre mereka." Ujar Prita.


"Iya Ma, Sebagai orang tua kita hanya boleh menasehati anak anak. Kita tidak boleh ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka, mereka sudah dewasa , bisa mnyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri." Ujar Suami Prita.


"Iya, Pa. Tidak baik juga orang tua selalu ikut campur dengan rumah tangga anaknya, bisa bisa malah tambah memperkeru suasana bukannya meredam permasalahan." Ujar Prita lagi.


"Ya sudah, Papa mau ke kantor dulu. Mama baik baik di rumah yah." Izin suaminya.


" Papa sih, sibuk terus. Mama kan kesepian di rumah." Ujar Prita manja ke suaminya.


"Kasian Anak kita ma, jika papa gak ke kantor. Adit bakal kewalahan urus dua kantor sekaligus, itu tidak baik untuk pengantin baru. Apa lagi, Ciki sekarang hamil. Takutnya Adit gak punya waktu untuk memperhatikan istrinya karena sibuk kerja." Ujar Suami Prita menjelaskan.


"Iya, sih Pa. Tapi papa janji, saat papa ada libur mama di ajak jalan yah." ujar Prita.


"Pasti! Ya sudah nanti papa bisa terlambat." Ujar Suami Prita.


"Iya, Pa. Hati hati mengemudi, jangan terlalu memaksakan untuk bekerja." Ujar Prita ke suaminya.


"Ia Istriku." Ujar Suami Prita sembari mengecup mesra kening istrinya. Begitulah keharmonisan rumah tangga Prita dan suaminya, umur bukan penghalang baginya untuk tetap menjaga kemesraan dengan suaminya, agar pernikahan mereka tetap awet sampai sekarang.


****


Sesampainya Adit dan Ciki di halaman rumah mereka, Adit segera turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Sayang, kamu mau makan apa ? Biar suamimu ini memasak untuk istrinya tercinta." Tanya Adit setelah mereka masuk ke dalam rumah, mereka memang tidak sempat untuk sarapan waktu di rumah Mamanya.


"Kamu belum sembuh total, Mas. Biar aku saja yang masak." Ujar Ciki.


"Selama kami hamil, kamu tidak boleh memasak. Pekerjaan kamu biar aku yang kerjakan." Ujar Adit tegas.


"Kita beli makanan di luar saja, Mas. Atau minjam pembantu mama. Kamu belum sembuh total." Ujar Ciki.


"Sayang, untuk sementara selama kamu hamil biar aku yang merawat kamu. Aku gak mau ada pembantu, nanti setelah anak kita lahir kita bakalan ambil pembantu sama baby sitter. Tapi untuk sekarang biarkan suamimu ini yang mengerjakan semua kebutuhanmu." Ujar Adit bersungguh sungguh.


"Terserah, Mas deh. Tapi jangan sampai kewalahan, aku gak mau kalai mas sampai jatuh sakit karena kelelahan dan satu lagi aku gak mau pake baby sitter. Kalau pembantu sih, boleh. Tapi kalau untuk urusan anakku aku gak mau orang lain yang merawatnya. Boleh yah, Mas ?" Ujar Ciki.


"Hm, baik lah sayang." Ujar Adit.


"Makasih, Mas." Ujar Ciki.


"Kamu mau makan apa ?" Tanya Adit.


"Terserah, mas saja. Yang mas bisa saja." ujar Ciki.


"Sip Bossku, kamu duduk di sini dulu. Tunggu makanan masak baru aku panggil." Ujar Adit sembari berlalu menuju dapur, Ciki hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.


***


*Begitulah keromantisan mereka setelah pertengkaran. Apabila sepasang kekasih atau suami istri habis bertengkar, pas mereka berbaikan maka keromantisan dan cinta mereka makin bertambah.


Bersambung*......