My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 24



Di kantor, Ciki sangat was was karena hari ini Adit sudah datang dari Singapura. Sebisa mungkin Ciki tidak mau terlihat dengan Adit. Andaikan saja kalau dirinya elastis, pasti dia sudah mengumpet di dalam tas Renata atau di dalam saku Rendy.


Sedari pagi matanya tak henti hentinya mengawasi sekitar, di saat Ciki melihat Adit dari kejauhan, dia pasti akan menghindar. Ciki terlihat seperti maling yang takut ketahuan, ia seperti sedang main petak umpet dengan Adit. Saat Adit terlihat dia segera lari terbirit birit mencari tempat persembunyian. Untung saja Adit sangat sibuk, sampai dia tidak menghiraukan keberadaan Ciki. Tapi kenyataan itu kenapa terasa sedikit menyakitkan ? Pikir Ciki.


Ciki menggeleng cepat, mengenyahkan pikiran buruknya.


"Cik." Panggil Rendy membuat Ciki tergelonjak kaget.


"Lo kenapa sih, Cik ?" Tanya Renata.


"Enggak apa apa. Makan yuk! Laper nih gue." Ciki segera menarik tangan ke dua sahabatnya.


"Curiga gue, kayanya ada yang di sembunyiin nih dari kita." Celetuk Renata, Rendy mengangguk.


"Jangan ngaco, buruan jalan gue udah laper, lo gak mau kan jadi makan siang gue." Omel Ciki.


"Ganas amat sih lo Cik, kayak macan betina yang lagi kelaparan." Celetuk Rendy.


" Belum di latih sih, makanya gak jinak." Tambah Rendy. Renata tertawa mendengar perkataan Rendy, sedangkan Ciki mendelik kesal.


Skip


Di kantin kantor. Ciki memilih meja di pojok ruangan, alasannya yah biar tidak terlihat oleh Adit. Walaupun sebenarnya Adit jarang makan di kantin. Bukan jarang lagi, malah tidak pernah.


Ciki segera melahap makannya, saat mangkok bakso itu sudah sampai. Renata dan Rendy yang duduk di hadapannya tercengang.


"Lo habis lari maraton, Cik ?" Tanya Rendi.


"Bukan, gue habis manjat tebing." Jawab Ciki sekenanya.


"Serius, Cik ? lo manjat tebing di mana ? Sama siapa ? kenapa gak ngajak gue, gue juga pengen banget manjat tebing apalagi di temani dengan cewek cewek cakep." Tanya Rendy bertubi tubi dengan penuh semangat, tatapan matanya langsung memancar indah tanda terharu dan salut.


"Lah lo, Rendy. Percaya aja sama Ciki. Jangankan panjat gunung, naik tangga aja udah ngeluh." Ujar Renata.


Ciki hanya mengedikkan bahunya, lalu memasukkan bakso ke dalam mulutnya. "Ada gosib terbaru nih gaes, Pak Alex bakalan hadir di acara ulang tahun kantor nanti." Ujar Renata bersemangat.


" Bodo amat, gue gak peduli." Ujar Ciki datar.


"Dasar laknat, gue ngomong serius respon lo malah datar gitu." Protes Renata.


"Kebanyakan main sama Pak Adit nih, jadi ketularan sifat cueknya." Ujar Rendy menimpali.


Rendi dan Renata tergelak.


Ciki kembali meneruskan makannya mengabaikan Rendy dan Renata, tapi bangku panjang yang dia duduki tiba tiba terasa bergoyang. Dan dia tidak mendengar lagi tawa teman temannya itu. Ciki yang merasa penasaran menegakkan kepalanya, sedangkan kedua temannya sudah makan dengan khusyuk. Sepertinya kedua temannya ini baru saja kesambet jin alim. Pikir Ciki.


"Makanmu hanya itu ?" Ciki kaget dan menoleh ke sumber suara.


"Astagfirullah!" Dengan refleks Ciki menggeser duduknya, tanpa dia sadari kalau dirinya sudah duduk di pinggir bangku, alhasil Ciki terjatuh ke bawah.


Rendy dan Renata tampak bingung dengan sikap Ciki yang sepertinya benar benar terkejut, tapi di sisi lain mereka juga ingin tertawa, hanya saja Adit berada di tempat kejadian. Sehingga sebisa mungkin mereka menahannya.


Rendy dan Renata langsung berdiri dan membantu Ciki yang masih terduduk di lantai.


"Kalau gugup jangan begitu dong, Cik. Jaga image lo dikit kenapa sih, jangan jadi barbar." Bisik Renata. Ciki berdiri perlahan, setelah iti dia mengibaskan bokongnya dengan ke dua tangannya menghilangkan debu yang menempel di cenalanya.


"Eh, jangan dong tungguin gue." Ujar Ciki dengan wajah memelas.


"Kamu bisa bareng bersama saya, ada yang mau saya obrolin dengan kamu urusan kantor." Ujar Adit menengahi pembicaraan mereka.


Ciki yang merasa keberatan pun dan memilih untuk tinggal. Padahal dia sudah berusaha menghindar, sia sia dong usahanya seharian mengumpet dari Adit. Sedangkan Renata dan Rendy sudah menghilang di telan lift. Dasar gak solid. Umpat Ciki.


"Ada apa pak ?" Tanya Ciki.


Adit menarik mangkuk bakso Ciki, kemudian memasukkan sebutir bakso itu ke dalam mulutnya. Ciki yang melihat itu tidak percaya dengan kelakuan Bossnya yang kesehariannya terlihat Cool dan galak.


Apa Pa Adit tidak merasa jijik yah?" Pikir Ciki.


"Pak, itu punya saya ?" Ujar Ciki.


"Saya tau ini punya kamu. Lalu ?" Jawab Adit santai dan tetap menikmati bakso milik Ciki.


"Gak jijik, Pak ?" Tanya Ciki.


"Kenapa harus jijik sama pasangan sendiri." Ujar Adit.


Deg! Deg! Deg!


Apa barusan Pak Adit ngomong pasangan sendiri ? Itu artinya apa, yah ? Apa dia serius dengan yang dia ucapkan ? Kok jantungku deg deg kan sih. Kayaknya hati gue ada bunga yang bermekaran. Jangan jangan selama ini sayur sayuran yang gue makan, tumbuh di dalam perut.


"Kenapa makan bakso ?" Tanya Adit yang berhasil menyadarkan lamunan Ciki.


"Lagi pengen, Pak." Jawab Ciki datar.


"Oh." Ujar Adit singkat.


Eh buset dah, jawaban lo irit banget, mas. Pengen gue tabok nih orang, ngeselin. Umpat Ciki dalam hati.


"Cepat habiskan makananmu, terus masuk ke dalam ruangan saya, ada yang mau saya bicarakan." Setelah mengeluarkan perintahnya, Adit pergi meninggalkan Ciki.


"Apa dia bilang ? habiskan makanmu ? apa yang harus gue makan, Mangkuk ? baksonya aja udah di embat sama dia." Gerutu Ciki. Merasa kesal Ciki pun memilih pergi dari kantin.


"Dasar tuh yah Boss kutukumpret, dia sendiri yang maksa mau barengan ke kantor, dia malah nyelonong duluan ninggalin gue yang cantik jelita ini. Malah gue lagi yang bayar, padahal bukan gue yang makan. Nasib nasib, emang yah gue sial mulu kalau ketemu sama tuh makhluk gaib satu itu. Dasar manusia kutub." Apalah daya seorang bawahan yang bisanya hanya mengumpat atasan. Walaupum Ciki sendiri tidak berani mengumpat langsung pria yang ia sebut manusia kutub itu.


Ciki juga kesal dengan ke dua sohibnya yang ninggalin dirinya bersama manusia kutub.


"Awas saja kalau sampai gue ketemu sama makhluk dua itu, gue ulek sampai peyet lu. Bisa bisanya dia ninggalin gue, menyelamatkan diri dan ngorbanin gue. Dasar teman gak solid banget. Apes bener nasib gue dapat temen kaya dia dan Boss yang gak bisa di prediksi suasana hatinya. Kadang baik seperti malaikan, kadang romantis seperti Dilan dan kadang kaya hariamau kelaparan yang siap memakan hidup hidup asistennya sendiri." Ciki terus mengomel.


Ciki benar benar kesal di buatnya.


***


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊