My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 14



Hari ini cuaca benar benar cerah bahkan terlampau panas. Jika bukan karena permintaan pak Adit yang memintaku menunggunya di luar gedung hotel, tempat di mana berlangsungnya acara pernikahan Bu Rara dengan kekasihnya. Sudah pasti saya lebih memilih menunggu di dalam bersama Rendi dan Renata.


Pak Adit tipikal orang yang begitu mendadak, sebelumnya Ia tidak mengatakan apapun pada saya perihal kehadirannya hari ini bahkan pak Adit sudah terlanjur menitipkan sebuah amplop tebal untuk ku serahkan pada bu Rara, tapi kenyataannya pagi hari tadi sekitar pukul delapan sebuah pesan singkat masuk melalui aplikasi whatsaapp.


Ciki, saya berubah pikiran. Saya akan hadir di acara pernikahan sekertaris Rara, kamu tunggu saya di depan gedung tempat melangsungkan pernikahan.


Mengenakan dress panjang dengan belahan sampai paha berwarna Biru navy, sepatu heels setinggi 7 cm, dengan rambut yang baru saja selesai ku catok selama satu jam, kini mulai kembali berantakan dengan keringat yang perlahan turun dari atas kepala membasahi sebagian dahi Ciki.


Pak Adit harus membayar mahal harga bedak yang ku kenakan ini. Gerutu Ciki.


Sebuah mobil Pajero putih akhirnya muncul. Ciki mundur perlahan menjauh dari pintu gerbang gedung dan membiarkan satpam juga mengambil alih. Akhirnya baginda Rezky Aditya datang juga setelah menunggu di terik matahari seperti ikan asin yang lagi di jemur. Celetuk Ciki.


Ciki berlari kecil, menghampiri Bossnya. Ia menatap sekertarisnya itu dari atas hingga bawah, lalu mengalihkan pandangannya.


"Yang lain sudah di dalam ?" Tanya Adit. Ciki menyeka keringat di dahinya dengan tisue.


"Sudah, Pak." Mereka pun mulai berjalan masuk.


"Bapak duluan deh, saya ke kamar kecil dulu." Pinta Ciki."Bedakku luntur, malu masa kondangan acakan begini." Adit hanya mengangguk. Bukannya Adit masuk terlebih dahulu dia ternyata menunggu Ciki di luar.


"Kenapa enggak masuk duluan, Pak ?" Tanya Ciki heran.


"Enggak nyaman berjalan sendirian. Kamu kondangan sendirian, mas Arsyil nya masih berkelana yah ?" Goda Adit.


Ciki tertawa malu." Iya nih, gak kasian sama pacarnya sudah nungguin sampai bulukan begini." Balas Ciki.


"Habis ini rencana kamu mau ke mana ?" Tanya Adit.


"Palingan langsung pulang sih." Jawab Ciki.


Adit mengangguk. " Temani saya sebentar."


Ciki menatap Bossnya. " Kemana, Pak ?" tanya Ciki penasaran.


"Ada kondangan lagi, temen kampus. malas saja datang sendiri, gimana ?" tanya Adit.


"Tapi kita ke butik dulu, pakaian kamu terlalu vulgar." ujar Adit lagi.


Mendengar kata kata Bossnya itu, Ciki hampir saja tersandung. Ciki menatap Adit, lalu kembali menatap pakaiannya. Masa sih.! batin Ciki


" Saya lebih suka kamu yang natural, dan tidak berlebihan seperti ini." Lanjut Adit. Ciki menelan luda, ia membuka tasnya dan mencari kaca kecil. Apanya yang berlebihan, make up natural begini di bilang berlebihan. batin Ciki.


"Enggak salah, Pak ? Di bagian mananya yang berlebihan ?" protes Ciki.


"Warna lipstik kamu terlalu menyala Ciki, not good." jawab Adit.


Oh, lipstik. pak Adit adalah orang kedua yang protes mengenai hal ini setelah Renata.


"Saya suka penampilan kamu yang seperti biasa, tidak mengundang perhatian." ujar Adit.


Ciki menunduk, ia merasa di ceramahi.


Langkah Adit terhenti, Ciki ikut berhenti. "Gimana kalau yang terpikat malah om om yang sudah punya anak bujang ?" Tawa Ciki lepas begitu saja ketika mendengar perkataan Adit.


"Om om nya yang penting bukan bapak kan." Canda Ciki.


Wajah Adit memerah dan melanjutkan langkahnya. Rendi, Renata, Dimas dan staff lainnya sudah berkumpul di satu titik, menunggu kedatangan Bossnya itu. Mereka bersama naik keatas pelaminan, memberikan ucapan selamat kepada Rara atas pernikahannya. Lalu menyantap hidangan makanan yang sudah tersedia di meja. Pak Adit tidak mengambil hidangan makanan, Ia tergolong orang yang pemilih dan sangat berhati hati dalam hal kebersihan. Terlebih, ia terlanjur melihat sayuran hijau dari tumisan kangkung yang tersaji, membuat perutnya mual seketika dan memilih duduk di sudut ruangan tidak mengambil apapun.


"Masih mual, Pak ?" Tanya Ciki menghapiri bossnya.


"Saya ambilin ice cream yah, mau ?"Tanya Ciki lagi.


" Boleh." jawab Adit.


Ciki segera mengantri dalam deretan yang lumayan panjang.


"Boleh minta ice nya dua, Pak." Suara berat itu mengalihkan perhatian semua orang yang sedang mengantri. Setelan kemeja biru dongkernya, membuat si pemilik ice cream terpana. Segera ia langsung memberikan dua mangkuk ice cream ke tangan pak Adit. Pria penjaga ice cream itu tau bahwa pak Adit adalah Boss dari bu Rara. Adit menyentuh bahu Ciki pelan, dan Ciki peka dengan kode itu mengikut di belakang Bossnya.


"Itu namanya menyelak, budayakan antri dong pak." ujar Ciki.


"Kamu itu yang dari tadi di selak Ciki, saya lihat kamu dari jauh selali di dahului oleh orang yang baru saja datang." ujar Adit.


"Kan saingannya emak emak, Pak. saya sih lebih memilih mengalah." Ujar Ciki sambil menyuap ice cream ke dalam mulutnya.


*********


Ciki menatap sebuah butik di hadapannya. Adit masuk ke dalam butik dan menggandeng tangan Ciki, Adit yang memilih baju yang akan mereka pakai di acara kondangan dan Ciki hanya duduk dengan santai. Adit memberi isyarat, menyuruh Ciki masuk ke dalam ruang ganti dengan pakaian yang sudah dia pilih. Adit sendiri mengganti pakaiannya dengan setelan jas berwarna hitam.


Ciki melangkah keluar, Adit yang sedang membetulkan jam tangannya menatap ciki sesaat, tertegun sebelum akhirnya melengos.


" Begini baru gak vulgar." ejek Ciki.


"Begini seharusnya seorang wanita, Ciki. menghindari yang namanya perhatian dari mata lelaki hidung belang." Ciki merenggut. " Sekalian make over yah, senatural mungkin." Lanjut Adit lagi.


Selesai dengan segala embel embel yang menjadi standarnya Adit, mereka menuju kawasan jakarta pusat.


Memasuki gedung hotel mewah, jantung Ciki tiba tiba berdetak. Ini baru pertama kalinya Ciki ke kondangan kelas elit. Untung saja pak Adit make over penampilan Ciki. Adit dan Ciki berjalan beriringan masuk ke dalam. Ruangannya begitu besar, tiga kali lipat dari tempat bu Rara tadi siang. Dekorasinya juga begitu megah.


"Anak pejabat yah Pak yang menikah ?" Tebak Ciki asal.


" Iya." Jawab Adit. Tebakan Ciki tidak meleset.


Makin masuk ke dalam, makin banyak yang menegur Pak Adit. Semakin banyak yang memperhatikan mereka, Ciki merasa gugup. Adit yang menyadari sekertarisnya itu gugup, Ia mengulurkan tangannya ke Ciki. Membuat Ciki cukup terkesiap sesaat, hingga memutuskan dengan cepat menyambut uluran tangan dari Bossnya itu. Adit menggenggam tangan Ciki, seperti sepasang kekasih. Wanita yang mengincar Adit menatap iri, seakan ingin menenggelamkan Ciki agar tidak muncul lagi di hadapan pageran idaman para wanita.


*******


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊