My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 41



Baru saja Adit bersandar di kursi kerjaanya karena lelah dengan pekerjaannya, tiba tiba ia di kejutkan dengan dobrakan pintu.


"Adit aku mau bicara sama kamu ?" Ujar seorang wanita yang baru saja menerobos masuk ke ruangannya.


" Maaf, Pak. Mba nya maksa masuk." Ujar Satpam yang ikut masuk ke ruangan Adit karena berusaha menahan wanita yang ngotot ingin bertemu dengan sang boss.


Adit memberi kode ke satpam untuk keluar. Setelah satpam itu keluar, tanpa basa basi Adit menanyakan maksud dari wanita itu menemui dirinya.


"Ada apa lagi kamu ke sini ?" Tanya Adit dengan nada tidak senang ke Amarah mantan kekasihnya itu.


"Aku ke sini karena kamu tidak bisa di hubungi lagi, Dit." Ujar Amarah manja.


"Aku tidak ingin membuat istriku salah paham, sebaiknya kamu jaga jarak denganku." Ujar Adit sembari kembali menyibukkan diri di hadapan laptopnya.


"Dit, aku masih mencintaimu. Aku tau kamu juga masih mencintaiku, kita mulai hubungan kita dari awal lagi." Ujar Amarah sembari berjalan mendekati Adit. Tanpa meminta izin dari Adit, Amarah langsung duduk di pangkuan sang mantan. Adit spontan kaget, dan mendorong Amarah menjauh. Bukan nya Amarah menjauh, ia malah mengeratkan pelukannya ke Adit. Adit baru saja ingin berdiri untuk melempar badan Amarah agar menjauh dari badannya, tapi suara Ciki terdengar.


"Apa kalian masih lama ?" Ujar Ciki.


Adit menoleh ke arah sumber suara dari pintu dan kaget setelah melihat sosok perempuan yang tengah berdiri memandang dirinya dengan pandangan kecewa. Adit mendorong kuat tubuh Amarah yang masih memeluknya erat.


"Ciki, kejadiannya tidak seperti yang kau lihat sayang." Ujar Adit sembari berjalan ke arah Ciki yang masih berdiri di dekat pintu.


"Apa aku mengganggu reuni kalian." Ujar Ciki sembari menatap kosong ke arah Adit, Ciki berusaha tidak menangis di depan perempuan penggoda yang sedang berdiri di hadapannya.


"Tidak sayang, Amarah sudah akan pulang." Ujar Rendi menggenggam tangan Ciki erat.


"Adit, aku belum selesai bicara." Ujar Amarah kesal karena di usir oleh Adit.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Amarah. Aku sangat mencintai istri ku, sekarang kamu keluar dari kantor ku dan jangan pernah kembali lagi." Ujar Adit dingin.


Amarah tidak bergeming dari tempatnya, Adit menatapnya tajam.


"Keluar Amarah, apa kamu ingin aku memanggil satpam untuk menyeretmu keluar." Ujar Adit sadis, yang ia pikirkan sekarang hanyalah Ciki, bagaimana jika Ciki tidak mempercayainya.


Amarah akhirnya berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan Adit sebelum ia benar benar di seret oleh satpam. Amarah kemudian menghentikan langkahnya saat suara Ciki kembali bersuara setelah beberapa menit terdiam menyaksikan dirinya di usir oleh Adit.


"Lain kali, bertingkalah seperti seorang wanita yang menghormati harga dirimu. Jika kau ingin menarik perhatian laki laki, maka gunakan akal sehatmu. Tingkahmu tadi seperti wanita murahan yang tidak berpendidikan. Percayalah padaku, siapa pun pria yang kau goda, baik itu suamiku atau pun pria di luar sana tidak akan menjadikanmu istri, dia hanya akan bermain main denganmu, setelah bosan ia akan meninggalkanmu karena menganggap dirimu hanya wanita murahan." Ujar Ciki.


Amarah mengeram rendah sembari menghentakan kakinya kesal sebelum melangkahkan kembali kakinya meninggalkan ruangan.


Setelah Amarah tidak terlihat lagi di ruangan, Ciki melangkah menuju meja kerja Adit, dan meletakkan kotak makanan yang sengaja ia bawa untuk suaminya itu.


Adit mengukuti langkah Ciki dari belakang, kemudian memeluknya dari belakang setelah Ciki menyimpan kotak makanan di atas meja kerjanya.


"Maaf sayang, dia tiba tiba saja memelukku. Aku sudah mendorongnya, tapi dia mengeratkan pelukannya." Ujar Adit berkata jujur, ia tidak ingin Ciki salah paham.


"Jadi untuk apa di menemuimu ?" Tanya Ciki.


"Dia memintaku kembali padanya, dia ingin memulai hubungan kami dari awal lagi." Ujar Adit menjelaskan.


"Terus ?" Ujar Ciki.


"Aku tidak mau, aku hanya ingin kamu sayang." Ujar Adit sembari menghirup aroma tubuh istrinya itu.


"Kau bisa kembali padanya, jika masih mencintainya. Aku tidak ingin menjadi penghalang di antara kalian." Ujar Ciki yang masih menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Apa maksudmu, Ciki ? Aku hanya mencintai mu." Ujar Rendi menahan emosinya karena perkataan istrinya barusan.


"Aku ingin pulang mas." Ujar Ciki.


"Kita harus bicara dulu, sayang. Aku tidak ingin masalah ini berlarut larut." Ujar Adit.


"Aku lelas mas, kata dokter aku harus banyak istirahat. Oyah, aku ke sini sebenarnya ingin memberi mas kejutan ini, ternyata sampai di sini malah aku yang di kejutkan." Ujar Ciki sembari menyodorkan test pack yang menunjukan garis dua.


"Apa ini sayang ? Kamu hamil ?" Tanya Adit memastikan dengan bertanya langsung.


" Iyah mas, aku ingin istirahat." Ujar Ciki tanpa ekspresi.


Adit pasrah, menunda untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. Ia tidak ingin istrinya stres akibat dirinya.


"Baiklah, sopir kantor akan mengantarmu pulang. Setelah selesai rapat, aku langsung pulang." Ujar Adit dengan nada lembut.


"Aku bawa mobil ke sini, gak perlu merepotkan sopir." Ujar Ciki masih dengan ekspresi datar.


"Ayolah sayang, kali ini menurut yah. Aku khawatir, jika kamu menyetir sendiri." Ujar Adit dengan nada memelas agar Ciki menuruti perkataannya.


"Hm." Ujar Ciki singkat, mengiyakan perkataan Adit.


Setelah kepulangan Ciki, Adit tidak fokus dengan kerjaan di kantor. Saat rapat, fikirannya hanya ke istrinya. Rasanya ia ingin segera pulang menyusul istrinya ke rumah, Adit sangat khawatir jika Ciki masih memikirkan kejadian tadi di ruangannya dan membuatnya strees. Di tambah, Fitri sudah kembali ke solo melanjutkan perkuliahannya karena liburnya telah berakhir. Dan di rumah mereka juga tidak memiliki pembantu, karena Ciki melarang Adit mempekerjakan pembantu. Adit benar benar khawatir dengan Ciki, ia segera menghubungi mamanya untuk segera ke rumahnya menemani sang istri.


Tuuut! Tuuuut! Tuuuuuut!


"Halo." Ujar mama Adit dari sebrang telfon.


"Halo ma, mama di mana ?" Tanya Adit.


"Mama di rumah, sayang. Ada apa ? tumben nelfon mama." Ujar Mamanya.


"Mama sibuk, gak ?" Tanya Adit lagi.


"Mama gak sibuk, kalau ada perlu, bicara yang jelas ? gak usah berbelat belit." Ujar Mamanya yang sudah menebak.


"Mama ke rumah, temenin Ciki. Adit khawatir sama Ciki ma, takut dia stres karena kepikiran kejadian di kantor tadi. Apa lagi sekarang Ciki sedang hami." Ujar Adit.


"Ciki, hamil sayang ?" Tanya mamanya.


"Iya Ma." Jawab Adit.


"Iya, mama ke rumah kamu sekarang. Awas aja kalau menantu mama kenapa napa gara gara kamu." Ancam mamanya dari balik telfon.


"Makasih, Ma." Ujar Adit.


"Ya sudah, mama tutup dulu telfonnya. Mau siap siap ke rumah kamu. Mama cuma mau ingetin kamu, kamu jangan buat istri kamu banyak pikiran. Kamu jaga perasaan istrimu, ibu hamil perasaannya lebih sensitif. Mama gak akan ikut campur masalah rumah tangga kalian, karena kalian sudah dewasa." Ujar Mamanya Adit.


"Iya Ma, Adit segera pulang setelah rapatnya selesai." Ujar Adit sembari menutup telfonnya.


Bersambung...