
Acara baru saja selesai, Adit kini membawaku ke apartemen miliknya yang akan menjadi milikku juga. Mami dan keluarganya berusaha membujuk Adit untuk menginap di rumah saja, hanya Adit bersikukuh ingin menginap di apartement. Saya hanya menurut saja.
Sesampainya di apartement
Ciki langsung membersihkan diri di kamar mandi, Setelah selesai mandi, kini giliran Adit yang masuk ke kamar mandi. Baru saja Ciki merebahkan tubuhnya di ranjang setelah berpakaian, tiba tiba ia di kejutkan dengan sosok orang yang keluar dari pintu kamar mandi. Sebenarnya Ciki sudah tau kalau yang keluar dari kamar mandi adalah Adit, hanya saja ia terkejut dengan penampilan suaminya yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk di pinggang. Ciki berdehem tidak nyaman dan langsung membalikkan badannya. Ciki belum terbiasa dengan situasi itu, berbeda dengan Adit yang terlihat santai saja.
Ciki merasakan pergerakan kasur, dan di susul dengan sebuah tangan melingkar di perutnya. Tubuh Ciki di tarik perlahan ke belakang dan membentur dada bidang Adit, tubuh Ciki seketika kaku.
"Jangan tidur dulu dong sayang, ini kan malam pertama kita." Ujar Adit tepat di leher bagian belakang Ciki. Rona merah seketika menyebar dari leher ke wajahnya hingga dia merasa gerah walaupun AC menyala.
Ciki berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak akibat detak jantungnya bedetak tak beraturan. "Kamu pasti masih capek, sayang. Seharian berdiri di pelaminan." Ujar Ciki.
"Tenang saja sayang, saya masih punya banyak tenaga untuk malam pertama kita." Ujar Adit sembari mengeratkan pelukannya.
Ciki terkesiap ketika tangan Adit membalik badannya menjadi terlentang dan melihat sang suami sudah berada di atasnya. Tanpa meminta izin ke Ciki, Adit langsung mencium bibir Ciki lembut.
"Apa kah kita akan melakukannya sekarang ?" Tanya Ciki setelah ciuman lama mereka terlepas karena kekurangan oksigen.
"Ayolah sayang, inikan malam pertama kita." Ujar Adit dengan wajah memelas. Akhirnya Ciki luluh juga karena sedikit kasian melihat wajah Adit yang memelas, sebenarnya ia belum siap karena masih merasa sangat gugup dengan hal baru. Tapi Ciuman lembut Adit membuat dirinya sedikit rileks dan mulai membuka diri untuk sang suami.
***
Adit mendekap tubuh Ciki dari belakang, tidak ada yang mencoba bersuara. Adit sedang meredakan letupan bahagia yang membuat dadanya serasa ingin meledak, sedangkan Ciki hanya terdiam, ia masih merasa malu dan canggung untuk berbicara karena hal barusan.
Sudah satu jam berlalu mereka berada dalam hening. Kesadaran Ciki mulai hilang, ia baru saja akan terlelap, dan kemudian tersadar kembali dengan suara serak Adit.
"Sayang." Ujar Adit pelan.
"Hm," Jawab Ciki.
"Kamu masih capek ?" Tanya Adit. Ciki hanya menjawab dengan anggukan pelan, karena dirinya benar benar capek banget.
"Jangan tidur dulu, sayang." Ujar Adit memelas.
"Ke- kenapa sayang ?" Tanya Ciki bingung, tidak mengerti dengan kode dari Adit.
"Sekali lagi yah, saayang." Ujar Adit memelas dan mulai mencium punggung Ciki dengan nafas berat.
Ciki melotot tidak percaya dengan permintaan Adit, ia baru saja ingin menolak, tapi lagi lagi wajah memelas Adit membuat dirinya tidak tega menolak permintaan suaminya.
"Hm, bener bener tidak menyia nyiakan kesempatan." Ujar Ciki. Adit terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.
"Tentu saja dong, sayang. Ini malam istimewa buat kita, tidak boleh ada yang terlewatkan." Ujar Adit.
***
Sinar matahari pagi yang menelusup lewat sela sela jendela membangun kan tidur Ciki. Ia terbangun mendapati dirinya masih keadaan tak berpakaian, tubuh polosnya hanya di tutupi dengan selimut. Ciki terbangun tanpa kehadiran sang suami di sampingnya.
"Jangan banyak gerak dulu, sayang. Kamu masih sakit, karena ini pengalaman pertamamu." Ujar Adit segera mengangkat tubuh Ciki dan membawanya ke kamar mandi.
"Mas, turunin. Saya bisa jalan sendiri. Saya mau ambil handuk dulu." Ujar Ciki malu.
"Kamu gak perlu malu sama saya, sayang. Tubuh bagian mana mu lagi yang belum ku lihat." Ujar Adit menggoda Ciki.
"Dasar mesum." Teriak Ciki.
"Mesum sama istri sendiri kan, gak masalah. Yang salah itu kalau saya mesum sama yang lain." Ujar Adit dengan menaik turunkan alisnya.
"Awas aja kalau sampai kamu menggoda cewek lain." Ujar Ciki sembari mencubit dada bidang suaminya.
"Ayolah sayang, jangan menggodaku dengan cubitan mesramu. Saya benar benar tidak bisa menahannya jika kamu terus menggodaku." Ujar Adit sembari terkekeh. Wajah Ciki merona dengan candaan suaminya.
Sesampainya di kamar mandi Adit menurunkan Ciki dengan pelan dari gendongannya.
"Kamu keluar sekarang, saya mau mandi dulu." Ujar Ciki.
"Saya ingin memandikan mu sayang." Ujar Adit.
"Ih, gak mau." Ujar Ciki sembari mendorong suaminya keluar dari kamar mandi dan menutup rapat pintu kamar mandinya.
Setelah mandi, Ciki memakai handuk. Untung masih ada ganduk bersih yang terlipat rapi di rak. Ia mengintip keluar dan melihat kamarnya sudah kosong, ia tidak melihat sosok suamin mesumnya lagi di dalam kamar. Ia segera keluar, menuju lemari untuk mengambil pakaian. Baru saja Ciki ingin memakai pakaiannya, Adit memeluknya dari belakang. Sontak saja Ciki kaget, karena ia sudah memastikan kalau kamarnya kosong.
"Kamu bisa gak sih, gak ngagetin." Ujar Ciki kesal.
"Hehehe, maaf sayang." Ujar Adit.
"Kamu kok, bisa langsung ada di sini sih. Bukannya kamu tadi keluar dari kamar. Kamu hantu yah, bisa berpindah tempat tanpa suara." Ujar Ciki.
"Saya dari tadi di dalam kamar sayang. Saya bersembunyi di balik sofa, karena saya tau kamu tidak akan keluar kalau saya masih di dalam kamar." Ujar Adit sembari mengecup punggung Ciki dengan lembut.
"Sayang, geli ah." Ujar Ciki.
"Suara kamu membuat ku, tidak bisa menahannya sayang. Kau benar benar menggoda, kedepannya kamu tidak boleh memakai baju terbuka saat di luar rumah. Saya tidak ingin orang lain melihat tubuh indahmu." Ujar Adit yang mulai intens mengecup leher belakang istrinya. Ia membalik tubuh Ciki agar ia berhadapan, kemudia mencium bibir istrinya.
"Tubuh mu harum sayang." Ujar Adit dengan suara berat di sela sela ciumannya. Baru saja Adit ingin melepas handuk yang melekat di tubuh istrinya, tapi tanganya terhenti dengan suara perut Ciki.
Kruuuk! Kruuuk! Kruuuk!
"Ehm, kali ini kamu lolos. Kamu pakean, saya tunggu kamu di meja makan." Ujar Adit.
"Saya belum masak, gimana dong. Saya pesan makanan saja yah." Ujar Ciki panik.
"Saya sudah masak sayang. Saya tau kamu pasti kesiangan karena kelelahan. " Ujar Adit sembari mengecup lembut bibir Ciki kemudian meninggalkan sang istri sendiri di kamar menuju meja makan.