
Hari ini adalah hari yang paling di tunggu tunggu oleh ke dua sejoli itu. Yah, hari di mana mereka akan melepaskan masa lajangnya, dan memulai dengan status baru yaitu pernikahan.
Ciki menatap pantulan dirinya dalam cermin, balutan kebaya coklat ke emasan membuat dirinya semakin anggun. Ia tersenyum tampak puas dengan kerja keras sang desainer dan MUA karena telah merubah penampilannya menjadi cantik di hari istimewa nya.
"Makasih mba, saya sangat puas dengan karya mba yang bisa merubah saya jadi seperti ini." Ujar Ciki yang terus memandangi dirinya di depan cermin.
"Sebenarnya baju dan make up mba sudah biasa di pakai oleh pengantin pada umumnya. Tapi karena dasarnya mba Ciki memang sudah cantik, jadi saat di kenakan oleh mbak Ciki lebih terlihat sempurna." Ciki tersipu malu di puji berlebihan.
Fitri masuk ke kamar pengantin, ia sangat bahagia sekaligus sedih karena sebentar lagi kakaknya akan menikah, dan tentu saja ia tidak bisa sebebas dulu lagi bila ingin bertemu dengan sang kakak. Fitri tau kakaknya tidak akan berubah, hanya saja Fitri merasa kebahagiaan sang kakak akhirnya telah tiba dan ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan kakaknya dengan terus bergantung kepada sang kakak. Fitri merasa dirinya sudah cukup dewasa untuk menanggung biaya hidupnya sendiri. Selama ini kakaknya cukup menderita menanggung kehidupan mereka berdua, dan sekarang ia akan berbahagia karena sebentar lagi Ciki tidak perlu lagi membanting tulang mencari nafkah.
Fitri bangga kepada sang kakak, ia tau betul saat pertama kali kedua orang tuanya meninggal. Demi tetap menyekolahkan dirinya dan sang adik, Ciki rela bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah, sebelum akhirnya Ciki merantau ke ibu kota setelah tamat SMA untuk mencari pekerjaan yang lebih layak sambil melanjutkan kuliahnya. Fitri banyak belajar tentang keteguhan dan kerja keras sang kakak. Tidak terasa air mata Fitri jatuh.
"Kakak sangat cantik." Ujar Fitri mendekati kakaknya setelah lama menatap kagum sang panutan nya.
"Fitri." Ujar Ciki memeluk Fitri.
"Kenapa jadi melow gini sih, kakak jangan nangis dong, nanti make up kakak luntur loh." Ujar Fitri.
"Ish, kamu yah selalu merusak suasana. Kakak gak jadi mendramatis nih, padahal tadi kakak mau ala ala drama gitu." Ujar Ciki bercanda.
"Idih, lebay. Ayo cepetan keluar, kakak ipar sudah datang noh." Ujar Fitri sembari menyunggingkan senyum bahagia.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya, Citra Kirana Binti Iwan Siregar dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayat tunai."
"Sah ?"
"Sah!"
"Alhamdulillah." Adit menghela nafas lega. Kini dirinya resmi menjadi suami Ciki.
Waktu ijab qabul, berjalan dengan lancar. Walau Adit merasa gugup tapi ia tetap berusaha tenang agar saat ijab qabul ia tidak melakukan kesalahan.
Usai ijab qabul, pengantin segera di bawa ke gedung pernikahan. Ijab kabul sengaja di adakan di rumah keluarga Stefan, itu permintaan maminya.
Ciki berjalan dengan hati hati menuju pelaminan, yang di dampingi oleh sang adik dan maminya. Semua mata memandang penuh kagum, Ciki benar benar terlihat cantik. Adit sudah menunggunya di panggung pelaminan, ia tersenyum saat melihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu berjalan mendekatinya yang di dampingi sang adik ipar dan juga mertuanya.
Adit mengulurkan tangannya, dan Ciki menyambut uluran tangan suaminya itu. Adit membawa Ciki untuk duduk di kursi yang telah di siapkan. Para tamu mulai menyalami sang mempelai, dan ikut berbahagia. Adit dan Ciki menyambut hangat para tamu yang memberinya doa kebahagiaan atas kehidupan baru mereka.
"Selamat yah, buat kalian berdua. Semoga cepat dapat momongan." Ujar Renata.
"Makasih ya, Ta. Kamu juga semoga cepat nyusul." Ujar Ciki.
"Tenang aja, dikit lagi gue bakalan dapet. Doain yah." Ujar Renata.
"Selamat yah, Pak Adit. Selamat yah, Ciki. Akhirnya laku juga temen gue satu." Ujar Rendi.
"Makasih, kamu kapan lamar pacar kamu yang nenek nenek itu." Ujar Ciki bercanda, sontak saja Renata tertawa mendengar perkataan Ciki.
"Seneng banget ya ngeledek gue, untung ini hari pernikahan lu. Kalau tidak sudah gue jitak pala lu biar makin bloon." Ujar Rendi, Ciki dan Renata hanya tertawa mendengar ocehan sahabatnya itu.
"Selamat ya buat kalian berdua, jaga baik baik adik gue ya bro." Ujar Stefan sembari menepuk pelan bahu Adit.
"Siap, pasti." Jawab Adit mantap.
"Selamat ya, Dit, Ciki. Gue terlambat selangkah nih dari Adit, Coba aja gue tau kalau di kantor pusat ada gadis secantik Ciki, pasti gue gak bakalan mau ke cabang singapura." Ujar Alex.
"Awas aja lu, jangan lama lama tatap bini gue. Gue gak mau bini gue di liatin sama orang mesum kaya lu." Ujar Adit.
"Wih, tenang Boss. Pokoknya selamat berbahagia deh buat kalian berdua. Kalau Adit sia sia in lu, datang aja sama abang." Ujar Alex yang langsung mendapat tatapan tajam dari Adit.
Setelah bersalaman dan mengabadikan momen di atas pelaminan, kini para tamu undangan menikmati makanan yang telah di siapkan. Begitu pun dengan Renata dan Rendi.
"Emang kenapa kalau gue sendiri ? Lagian lu mau nikah kapan ?" Ujar Rendi.
"Sebentar lagi, kalau gue udah jadian ama babang gue. Lagian lu suru gue cari pasangan biar gak ganggu gue lagi kalau mau ke kondangan. Tadi nya gue mau ngajak babang gue ke kondangan, tapi lu nya ngotot mau ke kondangan sama gue." Ujar Renata.
"Oh, jadi nyesel nih, Lu ikut gue ke nikahan Ciki." Ujar Rendi.
"Ya gak juga, tapi kan tadi gue mau kenalin babang gue ke Ciki." Ujar Renata.
"Emang kalian sudah jadian." Ujar Rendi.
"Dia udah nembak gue sih, tapi gue belum jawab gitu." Ujar Renata.
"Kenapa gak di jawab ?" Tanya Rendi.
"Ya belum aja, kita berdua kan baru kenal. Gue masih memantapkan diri aja, soalnya dia bilang kalau gue nerima dia, dia ingin langsung tunangan gitu. Dia mau cepetan nikah, dia bilang tidak ingin berpacaran terlalu lama." Ujar Renata.
"Lu sudah yakin mau nikah ?" Tanya Rendi.
"Kalau nikah sih, gue juga gak mau pacaran terlalu lama. Lu tau sendirikan umur gue gak muda lagi. Menurut lu dia orangnya gimana ?" Ujar Renata.
"Ya bagus lah, kalau dia mau langsung melamar lu. Itu tandanya dia serius sama lu." Ujar Rendi.
"Gue juga berpikir begitu, hanya gue tetap butuh waktu lah untuk memantapkan jawaban gue." Ujar Renata.
"Gue selalu dukung, apapun keputusan kamu. Asal kamu bahagia gue juga ikut senang." Ujar Rendi.
"Ih, kok jadi melow gini sih. Tapi makasi yah, sudah jadi sahabat sekaligus kakak buat gue." Ujar Renata.
"Santai saja, gue kan sahabat lu. Jadi sudah seharusnya mendukung dan melindungi sahabat perempuan gue." Ujar Rendi.
"Iya iya, Gue juga doain semoga lu cepat dapet jodoh yang kamu sukai." Ujar Renata.
"Orang yang gue sukai tidak mungkin jadi jodoh gue." Ujar Rendi.
"Selama dia belum berkeluarga, lu masih punya kesempatan." Ujar Renata.
"Dia tidak menyukai gue." Ujar Rendi.
"Jangan putus asa gitu dong, lu harus berusaha. Gue bakalan dukung lu." Ujar Renata.
"Makasih ya, tapi gue rela dia bersama orang yang ua sukai asal dia bisa bahagia." Ujar Rendi.
"Kalau lu emang beneran cinta, lu perjuangin dong. Emang orangnya siapa sih ?kenapa lu gak pernah ngomong ke gue kalau lu suka seseorang." Tanya Renata.
"Rahasia!." Ujar Rendi sembari menyentil dahi Renata yang sangat dekat dengan wajahnya, karena Renata mencondongkan kepalanya ke arah Rendi.
"Ish, sakit tau." Ujar Renata memegang dahinya.
"Maaf, jangan cemberut gitu dong. Kamu jadi jelek tau." Ujar Rendi sembari tertawa.
"Bodo amat." Ujar Renata kesal.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊